Chapter 1: Traktiran

76 13 9

Ksatria Bintang: Dunia Cermin

Ruang klub basket terdengar riuh. Viral-sang kapten yang bertubuh jangkung-secara resmi menyerahkan takhtanya kepada Riki Dirgatama, pemuda yang juga seorang idola di sekolah mereka. Sebelumnya Riki telah beberapa kali menolak jabatan yang ditawarkan oleh sang kapten. Bukan tanpa alasan, Riki merasa Viral lebih berkompeten memimpin klub basket mereka.

Bila dulu Viral beralasan mengalami cedera pada pergelangan tangannya, kali ini Viral tidak dapat menggunakan alasan yang sama untuk dapat mengundurkan diri karena pergelangan tangannya telah sembuh dapat bergerak normal seperti sedia kala. "Gue mohon, Rik. Cuma elo yang bisa diandalkan di klub basket kita!" tuturnya penuh harap.

"Hey, lo gak bisa gitu dong!" sergah seorang remaja laki-laki lain. Ia bernama Nando, pemain yang handal melakukan slam dunk. "Kalo elo ngundurin diri, kita yang ada di sini bisa voting buat pemilihan kapten yang baru. Bukan kaya gini caranya!" sambungnya sengit.

Viral menatapnya sayu. "Gue tahu, elo terobsesi banget buat ngegantiin gue di klub. Tapi semua orang juga tahu kalo elo itu orang yang gak punya tanggung jawab!"

Mendengar perkataan sang kapten, mata Nando mendelik tajam. "Elo..." ia tidak melanjutkan ucapannya.

Viral menepis tatapannya yang tampak berapi-api. "Jangan bilang lo lupa hampir di setiap pertandingan elo gak pernah muncul. Elo cuma rutin hadir setiap latihan doank supaya cewek-cewek di sekolah kita terkagum-kagum sama elo. Segimana bagusnya pun permainan elo kalo nggak diimbangin sama tanggung jawab dan kerja sama yang baik dalam tim, klub ini gak bakalan pernah bisa maju!"

Sebelum melanjutkan kalimat-kalimat yang akan dilontarkannya, Viral menghela napas sejenak. "Sementara gue melihat dalam diri Riki terdapat sosok pemimpin sejati. Meskipun permainannya enggak sebagus permainan lo, tapi dia bisa bertanggung jawab terhadap tim dan pandai bekerja sama dengan semua anggota tim."

Dua orang remaja lain berseru bersamaan, "Betul itu Kapten!"

Nando menyeringai kesal. "Lo berdua setuju sama keputusan Kapten?" tanyanya kepada kedua remaja tadi yang tak lain adalah Atlanta dan Rhean. Tak perlu mendengar jawaban mereka pun ia tahu sudah barang tentu kedua pemuda itu akan mendukung Riki untuk menggantikan jabatan Viral di klub. Seantero sekolah juga tahu bahwa Atlanta dan Rhean adalah sahabat sejati Riki Dirgatama. Ke mana Riki melangkah, dua remaja itu akan terlihat mengawalnya.

"Ini sama sekali nggak demokratis!" protesnya kemudian. "Negara kita sangat menjunjung tinggi Pancasila. Jadi seharusnya kita melakukan pemilihan aja daripada main asal tunjuk kaya gini. Ini namanya otoriter, main ngatur-ngatur sendiri!"

Riki membenarkan pernyataan rivalnya. Seharusnya semua anggota klub melakukan musyawarah terlebih dahulu. Tidak seharusnya Viral langsung menunjuknya begitu saja untuk menggantikan posisinya.

"Gue punya ide. Kita melakukan aklamasi aja!" usul Rhean tiba-tiba dan semua orang yang hadir dalam ruangan menyetujui usulnya barusan.

"Jadi, berhubung di sini hanya ada dua calon yang akan menggantikan Viral--kapten tim basket kita--yaitu Riki dan Nando, gue minta sama elo semua yang ada di sini, buat yang setuju milih Riki jadi kapten tim, silakan ikut gue ke kantin sekolah. Sementara buat yang milih Nando, silakan bertahan dalam ruangan!" Rhean berkomando sambil membuka pintu keluar.

Atlanta tersenyum sumringah mengikuti langkahnya diiringi teman-teman lainnya. Tak seorang pun memilih untuk tetap tinggal di dalam ruangan terkecuali Nando seorang diri. "Cih, penyuapan!" rutuknya pelan.

Rhean benar-benar melangkah ke kantin. Ditariknya lengan Riki supaya ikut bersamanya. "Sudah, lo ikut aja sama gue!" ucapnya tak memedulikan reaksi sahabatnya.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!