Olahraga kali ini membuatku kelelahan. Tanpa memberitahukan sebelumnya, Pak Burhan dengan tega menyuruh murid sekelasku lari memutari lapangan sebanyak tujuh kali untuk cewek dan sepuluh kali untuk cowok.

Finally! Aku sudah menyelesaikan penilaian itu. Sekarang, aku terkulai lemas di pinggir lapangan dengan kaki yang kuluruskan. Aku mengambil saputangan untuk mengelap keringat yang bercucuran di sekitar dahiku. Vexia datang dengan membawa dua botol air mineral dingin. Dia tidak mengeluh kecapaian karena dulunya saat SMP, Vexia mengikuti ekstrakulikuler basket.

Vexia menyodorkan satu botol padaku dan ikut duduk di sampingku. "Thanks."

"Okay."

Aku membuka tutup botol itu dan hendak meneguknya. Tetapi, belum sempat air itu kuminum, ada tangan yang merebutnya paksa. Aku mendongak untuk melihat siapa yang berani melakukan itu padaku. Tidak tahukah dia bahwa aku sangat haus?

"Nggak baik minum air dingin habis olahraga," ucap suara yang seketika membuatku bungkam.

Yah, memang itu ada benarnya juga untuk kesehatan. Lagi pula lebih baik minum air mineral yang biasa saja. Aku berdiri dan tersenyum pada Kak Rafa karena sudah mengingatkanku. Tunggu, apa dia kabur dari pelajaran?

"Terus aku minum apa?" tanyaku.

Dia membuang air dingin itu ke tempat sampah dan kemudian menyerahkan air mineral biasa padaku. Aku menerimanya dan kemudian meminumnya hingga bersisa setengah botol.

"Capek banget, ya?" tanyanya sambil memandangiku keheranan.

Aku mengangguk dan menjawab, "Banget. Pak Burhan ngadain penilaian nggak bilang-bilang. Jadinya aku belum siap."

Kak Rafa terkekeh pelan seraya mengacak rambutku. "Wajar ajalah mendadak, namanya juga penilaian. Makanya rajin olahraga biar kamu nggak gendut."

Aku mengerucutkan bibirku sebal. "Aku, tuh, ideal tau. Ah, pagi-pagi gini kamu udah bikin aku bete."

"Jangan ngambek, dong. Kan, aku cuma bercanda," ujar Kak Rafa dengan tampang memelas.

Aku tidak mempedulikannya dan pura-pura marah. Vexia menghampiriku diwaktu yang sangat tepat. Seakan tahu situasi yang terjadi, dia langsung menarikku tanpa mengatakan apa pun lagi pada Kak Rafa. Aku menurut saja karena aku ingin segera mengganti baju olahraga dengan seragamku.

Setelah mangambil seragam, kami langsung menuju toilet. Toilet masih sepi karena murid sekelasku masih istirahat di kantin.

"Ken, gue ke kelas duluan, ya," ucap Vexia dengan terburu-buru, lalu berlari meninggalkanku.

Sepertinya dia lupa kalau ada sesuatu yang penting. Aku mencuci muka dulu dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan.

"Eh, ada pacarnya Rafa."

Aku membalikkan badan untuk melihat siapa itu. Ternyata Kak Sheren. Aku tersenyum kikuk padanya dan malah dibalas dengan lirikan sinis. Aku heran, ada apa dengannya? Biasanya dia selalu baik pada semua orang termasuk adik kelas juga.

"Kenapa, Kak?" tanyaku dan berjalan mendekatinya.

"Lo masih tanya kenapa? Nggak merasa bersalah banget, sih!" bentaknya kasar yang membuatku terkejut.

Aku menggeleng tak mengerti. "Masalah apa, Kak? Lebih baik kita bicarain baik-baik di luar biar lebih enak," balasku tenang.

Kak Sheren mengamatiku dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai. "Gue heran sama Rafa. Bisa-bisanya selera dia turun drastis dan mau pacaran sama cewek yang biasa aja dan nggak ada apa-apanya dibanding gue."

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!