《Seven》

1.1K 88 0

Sinar matahari membuatku mengerjapkan mata dan setelah itu menguap. Aku terbangun dan membuka selimut yang menutupi tubuhku. Aku mengamati kamar yang bernuansa black and white. Sangat nyaman rasanya sampai aku bangun kesiangan begini.

Apakah sekarang ini aku berada di rumahnya Kak Rafa?
Apakah dia yang menggendongku saat aku kemarin tertidur?

Sekarang hari Minggu, jadi aku tenang-tenang saja. Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam. Beginilah ceritanya....

FLASHBACK ON

Aku sedang bersantai di kamar dengan membaca novel yang baru kubeli. Tidak tahu kenapa, sekarang aku tidak bisa tidur. Aku mengambil ponsel dan membuka path. Sekitar satu minggu yang lalu aku terakhir kali memakai aplikasi itu.

Perasaanku menjadi tidak enak. Baru saja Kak Rafa update di path kalau dia sedang berada di club. Sebenarnya aku ingin memastikan keadaannya. Tapi, aku ini hanyalah gadis enam belas tahun dan tidak pernah pergi ke tempat malam seperti itu.

Batinku dan pikiranku terus mengeluarkan opini yang membuatku kebingungan. Dengan segala keberanian, aku memutuskan untuk pergi ke club. Aku mengganti baju dengan model pakaian yang serba tertutup, aku tidak mau kalau terjadi apa-apa nantinya.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepertinya mama, papa, dan Audy sudah tidur. Hampir semua lampu sudah dimatikan dan beberapa ruangan di rumahku terlihat gelap. Aku berjalan dengan sangat pelan karena takut ketahuan.

Berhasil! Aku sudah ada di dalam mobil. Dengan hati-hati, aku melajukan mobil menuju club itu. Tidak lama, akhirnya sampai juga. Aku turun dari mobil dengan menggunakan topi dan kacamata hitam.

Dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu menyambutku saat aku berada di dalam club. Kuedarkan pandangan ke seluruh tempat. Beruntungnya aku langsung menemukan sosok yang sedang kucari. Ucapan syukur tidak henti-hentinya aku lafalkan dalam hati karena aku masih aman dan tidak menjadi pusat perhatian para lelaki.

Aku mengamati sekilas wajah tampan yang membuatku berdebar sejak pertama kali melihatnya. Laki-laki itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Terlihat kalut dan sedang banyak pikiran. Tampak juga segelas vodka dan sebotol wine di dekatnya. Aku melangkah menuju mejanya dan duduk di depannya. Kubuka kacamata hitamku dan meletakkannya di atas meja.

Banyak sekali wanita yang ingin menggodanya. Tapi, kuberikan tatapan sinis agar mereka semua pergi. Aku menyentuh tangannya dan dia tersadar dari lamunannya. Lama sekali dia terdiam, tidak menganggap keberadaanku. Hingga sebuah suara yang berdeham keras--seakan menyadarkan keterdiaman--membuat kami berdua sama-sama terkejut.

"Anda mau memesan apa?" tanya pelayan berparas cantik yang terlihat seumuran denganku.

"Enggak Mbak, makasih," jawabku dengan suara sedikit lantang, takut jika tidak terdengar akibat suara musik yang kian mengeras.

"Baiklah. Kalau ada bantuan panggil saya, ya."

Aku mengangguk dan tersenyum."Ya, terima kasih."

Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang wanita diizinkan oleh orang tuanya bekerja di tempat malam seperti ini. Bukankah masih banyak lowongan pekerjaan? Segala pikiran itu segera kutepis. Yang terpenting saat ini adalah ada apa dengan Kak Rafa.

"Ngapain lo ke sini?" tanyanya lirih.

"Aku cuma khawatir sama keadaannya Kakak. Aku tadi lihat lokasi di path terus aku langsung ke sini," jawabku apa adanya.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!