Tidak salah kalau kemarin aku belajar. Ternyata sekarang ada ulangan matematika. Aku mengerjakan soal dengan sangat tenang. Walaupun ada beberapa yang tidak kumengerti, tetapi aku berusaha memahaminya.

Setelah satu jam menyelesaikan ulangan harian, aku pun memeriksa lembar jawaban yang sudah terisi penuh. Lalu, aku beranjak dari bangku dan meletakkannya di meja guru dengan penuh keyakinan. Begitu pula dengan Vexia. Tadi kami tidak menyontek sama sekali karena soal yang diberikan berbeda antara murid yang duduk di sisi kanan dan di sisi kiri. Saat kami berdua kembali ke tempat duduk bel istirahat berbunyi nyaring.

"Anak-anak, waktunya sudah habis. Segera kumpulkan atau saya yang akan mengambilnya," perintah Bu Lina dengan tegas.

Mau tidak mau, semua temanku mengumpulkannya. Aku tahu di antara mereka pasti ada yang belum selesai. Dari raut wajahnya ada yang terlihat frustasi dan pasrah. Sebenarnya ulangan harian tadi tidak terlalu sulit. Hanya saja, butuh tingkat ketelitian yang tinggi.

"Anterin gue ke kantin," ucap Vexia.

Aku mengangguk. "Iya, gue anter."

Aku dan Vexia ke meja guru untuk sekadar bersalaman dengan Bu Lina. Beliau sedang merapikan lembar jawaban yang lumayan berantakan. Segera kami membantunya dengan cepat.

"Terima kasih," kata beliau.

Kami berdua tersenyum. "Sama-sama, Bu."

Saat di ujung kantin, langkah kakiku terhenti begitu melihatnya. Vexia memandangku dengan tatapan bertanya. Seakan mengerti, Vexia mengikuti arah mataku dan langsung terkejut.

Kenapa rasanya sangat sakit ketika melihat orang yang kita sukai sedang bersama wanita lain?

Aku berlari meninggalkan kantin. Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak menetes di hadapan para murid yang sedang berlalu lalang. Aku memilih ke kolam belakang yang letaknya cukup jauh dari keramaian.

Di sini tidak ada siapa-siapa, aku pun menangis. Aku sangat tahu kalau aku tidak pantas bertindak seperti ini. Sudah jelas kalau aku bukan siapa-siapa untuknya.

Tepukan di bahu membuatku sadar jika ada yang mengikutiku. Aku membalikkan badan dan mendapati ada Kak Devan. Aku menghapus kasar air mata yang masih tersisa di pipiku. Nyatanya tidak bisa, pemandangan tadi begitu menyakiti hatiku. Sekuat apa pun aku menahan air mata yang menggenang, pasti akan mengalir juga.

"Lo kenapa?" tanyanya.

"Nggak papa, kok," jawabku dengan suara parau.

Kak Devan menaikkan sebelah alisnya. "Gara-gara Rafa?"

Dengan terpaksa, aku mengangguk pelan. "Kakak ngapain ke sini?" ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Gue mau jelasin sesuatu," sahutnya cepat.

Aku mengerutkan kening. "Jelasin apa?"

"Yang lo lihat tadi nggak kayak yang lo pikirin. Mereka deket sebagai temen dan bukan pacaran."

Aku berusaha memercayai perkataan Kak Devan. Tetapi, rasanya aku masih tidak yakin akan hal itu.

"Apa Kak Rafa ada rasa sama cewek itu?" tanyaku untuk memastikan.

"Nggak ada. Cewek itu udah punya pacar."

Aku merasa ada yang aneh, hatiku berkata lain. Yang kulihat tadi Kak Rafa menatap penuh kekaguman kepada wanita itu. Yang tak lain adalah Kak Sheren. Setahuku dia baik dan tidak sombong. Hanya saja, aku tidak mengenalnya.

Kak Devan masih berdiri di depanku seakan menunggu apa yang ingin diperjelas lagi.

"Tapi, kok, mereka secepat ini kenal deket? Kan, Kak Rafa masih anak baru," ujarku.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!