Malam semakin larut. Aku berlari sejauh mungkin. Dengan air mata yang masih mengalir. Tak kupedulikan telapak kakiku yang terluka karena tersandung batu atau ranting pohon yang tajam. Aku meninggalkan sepatuku di pinggir jalan. Sekarang, aku bagaikan orang gila yang tak tahu arah pulang. Aku merasa semua yang terjadi itu terlalu naif. Bahkan, Kak Rafa membuatku semenyakitkan seperti sekarang. Pada awalnya dia berjanji tidak akan mengecewakanku. Namun, apa buktinya?

Kuamati sekeliling yang semakin gelap gulita. Kesunyian dan suasana sepilah yang menghiasi malam ini. Aku benar-benar tidak tahu ini di mana. Rasa takut mulai menguasai diriku. Bagaimana kalau terjadi hal yang tidak-tidak?

Suara klakson mobil dari arah belakangku sama sekali tak kugubris. Mungkin itu hanyalah sebuah khayalan yang tak akan menjadi nyata. Hidupku penuh dengan ilusi yang semu. Tidak mungkin, bukan, kalau Kak Rafa mengikutiku?

Suara pintu mobil yang ditutup terdengar berdentum keras. Derap langkah kaki orang tersebut semakin mendekat. Aku semakin gemetaran, takut apabila itu seseorang yang jahat.

"Forgive me."

Aku menegang. Suara itu kembali di dekatku. Aku tidak menyangka dan masih menganggap kalau itu tidaklah nyata dan hanya perasaanku saja.

Sosok itu berjalan menghampiriku dan berdiri tepat di hadapanku. Aku masih terpaku dan tak berani menatapnya. Semua ini sangatlah cukup dan sudah tak ada artinya lagi. Sebanyak apa pun aku menginginkannya, tetap saja aku tidak bisa mendapatkannya. Karena dia punya nama lain yang telah mengisi relung hatinya. Lalu, apa aku masih pantas untuk berharap?

Rintikan hujan mulai turun dari langit. Masih dengan posisi yang sama dan tak beranjak sama sekali, kami berdua terdiam larut dalam pandangan mata yang saling bertemu. Seakan tatapan ini sudah bisa menjelaskan segalanya. Waktu terasa berhenti ketika aku dapat menikmati bola matanya yang indah.

Suara petir yang mulai terdengar sama sekali tak menganggu kami. Pakaian yang sudah basah kuyup juga tak kami pedulikan. Hujan yang turun ini bagaikan pelampiasan rasa yang telah lama terpendam. Hanya kami yang dapat merasakan jika begitu banyak makna atas kejadian yang sudah dilewati.

"Go away," ujarku lirih.

Dia menggeleng dan perlahan-lahan melangkah mendekatiku. Lalu, dengan gerakan tak terduga dia memelukku. Dengan refleks, aku pun meronta minta dilepaskan. Ini seharusnya tidak terjadi. Gerakanku terdiam ketika dia membisikkan kata-kata yang membuatku melayang ke udara.

"Aku menyukaimu," bisiknya lembut di samping telingaku.

Dua kata yang membuat hatiku menghangat. Aku bisa mendengar ritme detak jantungnya yang berpacu lebih cepat saat mengatakan itu. Aku tahu dia serius dengan ucapannya itu. Namun, aura ketakutan juga terbayang di benakku. Masa lalunya yang belum aku ketahui dan segalanya tentang Kak Sheren.

Aku melepaskan diriku dari dekapannya. Aku menyubit pipiku sendiri dan ternyata sakit. Ternyata ini semua bukan mimpi.

"Please, say something," ucapnya setelah keheningan yang cukup lama tercipta di antara kami.

"Aku juga menyukaimu. Tidak peduli atas rasa sakit yang kamu berikan kepadaku."

Aku bisa melihat dia tersenyum tipis kala aku mengatakan itu. Kalimat itu begitu saja keluar dari bibirku. Ada perasaan lega karena sudah jujur padanya. Hujan yang semula lumayan deras kini tergantikan oleh rintikan gerimis.

Kak Rafa menyeretku untuk menuju mobilnya. Setelah dia duduk di kursi kemudi, dia tak langsung menyetir mobilnya. Aku mengernyit heran, mau apa lagi?

"Kamu ngerasa kedinginan, ya?" tanyanya yang tiba-tiba memakai sebutan 'aku-kamu'

Pipiku memanas karena sikapnya yang berubah menjadi perhatian. Aku pun menggeleng karena memang aku merasa biasa saja. Lagi pula, ini bukan kali pertama aku hujan-hujan.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!