Helai rambutku beterbangan diterpa angin, rasanya sangat sejuk. Aku sedang duduk di bangku taman belakang bersama Vexia. Di sini tidak terlalu ramai karena kebanyakan murid lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di kantin.

"Btw, istirahat tinggal berapa menit lagi?" Aku lupa tidak membawa jam tangan dan ponselku tertinggal di kelas.

"Bentar,"-Vexia melihat jam tangannya-"tinggal lima belas menit lagi."

Aku menengok ke samping taman dan menemukan Kak Devan yang sedang berjalan ke arah kami. Mungkin saja Kak Devan ingin membicarakan sesuatu dengan Vexia. Mereka memang dekat, tapi hanya sebatas kakak dan adik. Padahal, aku sangat berharap kalau mereka menjadi sepasang kekasih.

Beberapa saat kemudian ada seseorang yang menyusul di belakang Kak Devan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia adalah laki-laki yang menabrakku tadi pagi. Aku ingin segera pergi dari sini. Sungguh, aku tidak ingin lagi bertemu dengannya.

"Ve," panggilku sembari menyenggol pelan lengannya.

Vexia yang sedang memainkan ponselnya pun langsung menoleh sepenuhnya kepadaku. "Ada apa, Ken?"

"Cowok yang nabrak gue lagi jalan ke arah sini sama Kak Devan." Aku bangkit dari bangku taman dan berniat mengajak Vexia untuk kembali ke kelas.

Vexia menahan tanganku dan tersenyum lembut. "Nggak pa-pa, kok. Jangan takut, kan, ada gue."

Aku kembali duduk dengan perasaan cemas. "Emangnya lo mau ngapain?" tanyaku dengan tatapan penuh selidik.

Vexia tidak menjawab pertanyaanku, dia malah mengedipkan sebelah matanya. Aku sangat bingung sekarang. Tidak mengerti dengannya yang tiba-tiba terlihat antusias. Ternyata Vexia begitu karena ada Kak Devan yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat yang kami duduki.

"Hai," sapa Kak Devan.

"Hai juga, Kakak ngapain ke sini?" tanya Vexia.

Vexia berdiri dan aku pun mengikutinya. Laki-laki yang menabrakku itu hanya menampilkan ekspresi datar. Tetapi, dia tetap terlihat tampan dan sangat cool.

"Lagi nganter dia ngeliat-liat lingkungan sekitar sekolah," jawab Kak Devan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Oh, gitu. Ini dia minta dikenalin sama temen barunya Kakak," ucap Vexia sambil menunjukku.

Aku yang sedang melamun langsung tersadar begitu Vexia menunjukku dan dia terkekeh pelan setelah mengucapkan itu. Padahal, aku tidak memintanya sama sekali. Vexia benar-benar mempunyai rencana di balik semua ini. Hal itulah yang membuatku tidak boleh pergi dari sini sebelum dia melancarkan aksinya.

"Kenalan sendiri aja," kata Kak Devan.

Kurasakan pipiku memanas. Sontak, aku menundukkan kepalaku. Takut jika laki-laki itu akan melihatku. Setelah merasa lebih tenang, aku mendongakkan kepalaku. Jantungku kembali berdegup lebih kencang jika menatap matanya.

"Gu-gue Ken-Kenza, kelas XI MIA 2." Kuberanikan untuk bicara padanya walaupun terbata-bata dan terkesan gugup.

"Rafa, XII IIS 3."

Oh, jadi namanya Rafa. Tidak pernah terpikir sebelumnya olehku dapat berkenalan langsung dengannya. Walaupun dia masih bersikap dingin padaku, tapi entah kenapa aku merasa senang mengalami hal yang tak terduga semacam ini. Seketika Vexia dan Kak Devan tertawa seakan-akan kejadian yang tadi itu sebuah lelucon.

"Lo berdua ngapain pake ketawa segala!" ujarku kesal.

Kak Devan berhenti tertawa dan berusaha menormalkan mimik wajahnya. "Lucu aja. Lo, sih, pake gugup segala."

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!