Daun-daun beterbangan dan berjatuhan di kawasan camping SMA Starlight. Burung berkicauan dan gemericik air mengalun dari sungai yang tak jauh dari kawasan para murid membangun tenda. Mereka terlihat ceria dan saling membantu satu sama lain. Kayu-kayu untuk api unggun mulai ditata rapi di area tengah oleh para guru.

Hari ini para murid telah terbebas dari ulangan semester dan hal itulah yang membuat sekolahku mengadakan kegiatan camping. Kegiatan ini diadakan selama dua hari saja, tetapi seluruh warga sekolah ikut semua. Para murid dibagi menjadi beberapa kelompok yang tiap-tiap kelompoknya beranggotakan enam orang. Dengan dua anak masing-masing dari kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas.

Kelompokku terdiri dari aku, Vexia, Kak Rafa, Kak Devan, Edelyn, dan Ansel. Kami sudah selesai membangun dua tenda yang bersebelahan. Sekarang, tugas kami adalah menentukan apa yang akan ditampilkan saat pertunjukan nanti malam.

"Nampilin apa, nih?" tanyaku setelah sekian lama kami terlarut dalam pikiran masing-masing.

"Sumpah, gue buntu nggak bisa mikir," sahut Vexia frustasi.

"Masa, sih? Tapi, bisa mikirin doi soalnya satu kelompok," ejekku sambil terkekeh.

Vexia memukulku karena tak terima. "Apa banget. Lo, tuh, juga sekelompok sama pacar tersayang."

Oh, Vexia bisa saja membalas seperti itu. Aku bungkam karena malu dilihati oleh Kak Rafa.

"Kayaknya Kak Kenza sama Kak Rafa nyanyi keren, deh," usul Edelyn dengan senyum meyakinkan.

Ansel mengangguk setuju dengan usulannya. "Bener banget."

Kak Rafa pun berkata seraya menunjukku, "Boleh kalo dia mau."

Aku menggeleng tidak setuju. "Suara gue nggak bagus-bagus amat. Yang lain aja bisa nggak?" tawarku panik.

Kak Devan pun membuka suara, "Gue tau lo bisa nyanyi dengan baik. Lagian kalo sama Rafa pasti chemistry-nya dapet."

Benar-benar mimpi buruk. Ini namanya pemaksaan. Mau ditaruh mana mukaku menyanyi bersama Kak Rafa? Belum lagi ditonton oleh sekitar kurang lebih tiga ratus orang.

"Terus kalo mereka nyanyi, kita berempat ngapain?" tanya Vexia.

"Saran gue, sih, mending kita yang main musik aja," jawab Ansel.

"Iya, gue bisa main piano. Terus Ansel bisa gitar," balas Edelyn.

Kak Devan terlihat kebingungan karena belum mendapat tugas. "Gue sama Vexia ngapain, dong?"

Kak Rafa berpikir sejenak. "Mending kita nampilin dua lagu. Nanti abis gue sama Kenza nyanyi, gantian lo ama Vexia."

"Oke."

Kami pun berlatih sesuai dengan bagian masing-masing. Kami akan membawakan dua lagu: A Sky Full of Stars-nya Coldplay dan Lost Stars-nya Adam Levine.

☆♡☆♡☆

Petualangan di hutan menjadi agenda sore hari ini. Kami sudah baris sesuai dengan kelompok masing-masing. Kami disuruh mencari lima bendera yang sudah diacak di beberapa tempat. Apabila suatu kelompok bisa mendapatkan semua bendera itu, maka akan mendapatkan hadiah berupa gratis makan di kantin selama tiga hari. Aku sangat mau mendapatkan hadiah itu karena makanan yang berada di kantin membuatku ketagihan dan tidak membosankan.

Kami sekelompok mulai memasuki area hutan dan mengikuti anak panah sebagai penunjuk jalan. Langit tampak sedikit mendung dan kami sudah berjaga-jaga membawa payung lengkap dengan jas hujan. Aku memakai sweater tebal agar tidak terlalu kedinginan. Kak Rafa berjalan di sampingku dan menggenggam tanganku. Aku merasa aman dan juga hangat dalam waktu yang bersamaan.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!