Hari Senin. Setelah upacara yang menghabiskan waktu sekitar satu jam, akhirnya selesai juga. Hanya karena amanat dari kepala sekolah, membuat para murid mengeluh kepanasan akibat terik matahari yang sangat menyengat.

Sekarang Vexia tidak masuk. Itu artinya aku akan duduk sendirian. Beberapa siswi di koridor banyak yang membicarakan sesuatu. Aku yang keheranan menjadi berhenti sejenak untuk memastikan apa yang terjadi.

"Gue patah hati, nih. Harusnya dia itu buat gue," ucap gadis yang ada di sampingku.

"Gue juga. Nggak rela, deh, Kak Rafa jadian sama Vexia," sahut temannya dengan nada sedih.

Aku benar-benar tidak percaya. Tidak mungkin Vexia memiliki perasaan lebih terhadap Kak Rafa. Dan kurasa dia sudah tahu bahwa aku menyukai Kak Rafa. Lalu, apa gunanya dia menyuruhku untuk berjuang mendapatkan Kak Rafa? Sementara dirinya tanpa susah payah sudah mendapatkan apa yang kumau.

Sedih, kecewa, marah, dan segala perasaan lainnya bercampur aduk menjadi satu. Aku pun berlari menuju sembarang tempat akibat sudah tidak kuat menahan air mata yang dari tadi berdesakan ingin keluar.

Kolam ikan yang jauh dari keramaian menjadi tempat untukku sekarang. Masih ada waktu yang cukup untuk membuat diriku menjadi lebih tenang karena sekarang merupakan jam istirahat sehabis upacara berlangsung. Aku hanya bisa menangis dalam diam dan menggigit ujung bawah bibirku untuk menghilangkan semua rasa sakit yang telah mengusik hatiku.

"Lo?" ucap sebuah suara di belakangku.

"Pergi! Aku butuh sendiri," kataku tanpa membalik badan untuk melihat orang itu. Suara itu benar-benar membuatku muak dan jengah.

Derap langkahnya terdengar mendekat. Lalu, dia duduk di sampingku. Kedatangannya membuat tangisku makin pecah hingga menimbulkan isakan-isakan pilu dan tubuhku yang mulai sedikit berguncang. Kondisiku saat ini tidak dihiraukan olehnya. Dia hanya mengerutkan keningnya dan menaikkan sebelah alisnya.

"Kakak tega banget, ya, sama aku! Vexia bisa jadi pacar Kakak dengan mudahnya, sedangkan aku? Aku yang suka sama Kakak, tapi kenapa harus dia?" tanyaku marah disertai teriakan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.

Kak Rafa tersenyum miring dan berkata, "Karena gue suka, kenapa enggak?"

Aku menghapus sisa air mata yang masih ada di pipiku dengan kasar. "Tapi, aku pikir ini semua nggak mungkin. Bahkan, Vexia itu sahabat aku sendiri."

Kak Rafa mengembuskan napanya dengan kasar dan menatapku tajam. "Buktinya dia nggak peduli kalo posisi lo itu sebagai sahabatnya!" bentaknya emosi.

Aku memandangnya sekilas dan tersenyum getir, tak percaya bahwa dia baru saja membentakku. "Oke, terserah. Aku hanya nggak percaya dengan apa yang terjadi. Rasanya terlalu aneh."

Kami berdua sama-sama terdiam. Hanya menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi yang membuat suasana bertambah dingin.

"Terus Kak Sheren dikemanain?" tanyaku sinis berusaha mendesak dia agar mengatakan yang sebenarnya.

Dia tidak menjawab dan mendiamkanku. Aku menoleh ke arahnya dan mendapati perubahan raut wajahnya. Aku mengerti sekarang. Kemungkinan besar masalah ini berkaitan dengan Kak Sheren.

"Vexia lagi sakit, jangan coba-coba tanya dia tentang masalah ini," ucapnya dengan penuh penekanan. Sepertinya dia mencoba mengalihkan pertanyaanku.

Aku tidak menjawab ucapannya barusan. Walaupun Vexia sudah memberiku luka yang cukup dalam, aku tetap bertahan sebagai sahabatnya. Apa lagi yang harus kulakukan kalau bukan menjenguknya?

"Apa yang membuat Kakak yakin kalo Vexia itu pantas jadi pacarnya Kakak?" ujarku dengan suara pelan.

"Kepo," balasnya dingin.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!