Saat ini memang sedang jam kosong karena semua guru ada kegiatan rapat. Aku mengamati Vexia sekilas. Aku jadi bingung kenapa Vexia menjadi pendiam seperti ini. Dia terlihat murung dan banyak pikiran.

"Ve," panggilku pelan.

"Kenapa?" tanyanya tenang tanpa menatapku.

Aku memutar badannya agar menghadapku. Wajahnya sangat pucat. Aku menyentuh keningnya dan ternyata Vexia sakit demam.

"Ayo, gue anter ke UKS," ucapku lembut.

Vexia menggeleng. "Nggak perlu, kok."

Tanpa banyak bicara, aku langsung berdiri dan membantunya berjalan. Awalnya Vexia menolak, tapi akhirnya dia menurut juga.

Aku membuka gagang pintu UKS perlahan. Lalu, aku membawa Vexia untuk berbaring di ranjang UKS agar bisa beristirahat sebentar.

"Gue beliin teh sama roti dulu," ujarku sambil tersenyum.

Vexia mengangguk. "Oke, gue mau tidur dulu."

Aku keluar dari UKS dan menuju kantin. Mendadak aku jadi gugup, dikarenakan ada Kak Rafa juga di kantin. Aku tetap berjalan tanpa berani menatapnya. Kejadian kemarin membuatku malu sekaligus menyesal, kenapa aku tidak mengatakan yang sebenarnya?

Saat aku berpapasan dengannya, aku meliriknya sekilas. Tatapannya hanya lurus ke depan dan tidak menyadari jika ada aku.

Teh dan roti sudah kudapatkan. Aku kembali ke UKS dan mencari obat penurun demam. Tak lama kemudian aku pun menemukannya.

Aku menepuk pipi Vexia pelan. "Ve, bangun."

Vexia mengerjapkan matanya. "Iya, Ken."

"Lo makan roti dulu, terus nanti baru minum teh sama obatnya jangan lupa," ucapku sambil meletakkan roti, teh, dan obat di samping Vexia.

"Thanks, ya."

Aku menunggu Vexia di luar UKS sambil memainkan ponselku. Aku merasa ada yang duduk di sampingku. Aku menoleh dan mendapati ada Kak Rafa.

"Kakak kenapa?" tanyaku cemas.

Dia tidak menjawabku. Lagi-lagi aku diabaikan olehnya. Aku menunduk dan menyadari ada tetesan darah di bawah kursi. Aku pun melirik jarinya yang ternyata terluka itu. Tidak terlalu besar lukanya, tetapi kalau dibiarkan nanti darahnya akan menetes terus.

Dengan sigap, aku masuk ke UKS dan mengambil kotak P3K. Vexia sudah tertidur rupanya. Aku menutup gagang pintu perlahan supaya tidak mengganggunya.

Aku berlutut di hadapan Kak Rafa dan mengobati lukanya. Dia tak menolak apa yang kulakukan dan hanya menampilkan wajah datarnya. Sungguh, aku tidak menyangka kalau dia akan menerima bantuan dariku.

"Pelan bisa?"

Aku mengerucutkan bibir akibat cibirannya itu. Sudah dibantu, tidak tahunya malah protes. Padahal, aku sudah pelan-pelan mengobati tangannya yang sedang terluka.

"Nggak bisa," balasku kesal sambil memasang plester cepat-cepat.

Aku heran kenapa dia bisa seperti itu. Tapi, kalau aku menanyakannya nanti dikira ikut campur. Maka dari itu, lebih baik aku diam saja. Setelah selesai aku kembali duduk di sampingnya. Kuamati wajahnya dari samping yang sangat mengagumkan itu.

Kak Rafa menoleh ke arahku. "Makasih," ujarnya sambil tersenyum samar dengan sedikit memaksa.

Senyum misterius yang hanya berlangsung satu detik membuat hatiku bertanya-tanya. Apakah dia sudah mau menerima kehadiranku?

"Sama-sama."

Aku yang tidak mempercayai ini pun dengan refleks menepuk pipiku sendiri. Biarlah kalau dia menganggapku aneh atau sebagainya. Yang terpenting ini bukanlah mimpi.

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!