Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Hari yang dulunya hanya bisa kuimpikan, sekarang menjadi kenyataan. Hari di mana akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya. Mulai sekarang aku dapat menikmati senyummu, tawamu, tingkahmu, dan semua hal yang ada pada dirimu. Tak peduli seberapa banyak air mata yang sudah kukeluarkan hanya untuk menangisimu. Tak peduli juga atas luka yang kau berikan padaku selama ini.

Semuanya seakan terbayar dengan mendengar pernyataanmu padaku kalau kamu juga menyukaiku. Aku berharap semoga kebahagiaan kita berdua tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Aku tahu kalau kisah kita baru saja dimulai dan masih banyak lika-liku yang harus kita lewati bersama. Namun, aku yakin akan bisa. Kamu segalanya yang terindah bagiku

"Aku...." Suaraku tercekat. Aku tak mampu berkata-kata lagi.

Kak Rafa menanti jawaban yang keluar dari bibirku dan mengucapkan, "Iya, kamu apa?"

Aku meneguk saliva untuk menetralkan rasa gugupku. "Aku nggak bisa."

Dia menganga mendengar jawabanku. Aku tak mengerti kenapa ucapan itu begitu saja terlontar dari bibirku. Baru saja aku menolak permintaan yang sudah lama kuinginkan.

"Kenapa?" tanyanya sambil mengembuskan napasnya dengan berat.

Aku menggeleng karena benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Oh, aku tampak seperti gadis yang bodoh, bukan?

"Nggak ngerti. Aku ngerasa belum saatnya untuk-"

Kak Rafa memotong ucapanku dan dengan kasar dia berkata, "Terserahlah."

Aku belum selesai bicara dan dia memotongku seenaknya. Lalu, dia melangkah pergi. Aku pun bangkit dan berlari mendekatinya.

"Berhenti, Raf!" seruku panik.

Kak Rafa pun menghentikan langkahnya, tapi masih memunggungiku. Dengan berani aku mulai bersuara, "Maksudnya aku nggak bisa menolak permintaan kamu. Maaf, tadi aku bercandanya kelewatan."

Dia langsung membalikkan badannya dan tersenyum manis. "Jadi, kamu nerima aku?" tanyanya lagi seakan tak percaya.

Aku hanya bisa mengangguk dan membalas senyuman mautnya. Dia mendekat dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku pun membalasnya dengan perasaan bahagia.

"Thank you so much for your effort, dear. You will always be mine for now and forever," bisiknya lembut.

"Alright, i hope too."

Dia melepaskan pelukannya dan membawaku untuk duduk di pinggiran roof top.

"Aku bisa gila kalo sampe kamu beneran nolak aku."

Aku sangat merasa bersalah padanya. "Maaf banget, ya."

Kak Rafa mengangguk dan menatapku lembut. "Aku juga minta maaf."

Aku memandangnya bingung dengan kening yang berkerut. "Buat apa?"

"Untuk semua kesalahanku yang bikin kamu sakit hati atau sedih. Tolong kamu lupain itu dan nggak usah diinget lagi, ya."

Aku tersenyum tipis. Memang, kenangan itu sudah sepantasnya dilupakan dan digantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara.

"Iya, pasti. Kamu tenang aja."

☆♡☆♡☆

Aku memasuki gerbang SMA Starlight yang masih sepi. Entah kenapa aku ingin masuk sekolah lebih pagi. Dengar-dengar nanti akan ada pengumuman yang penting.

"Hei," sapa seseorang sambil menepuk bahuku.

Aku menoleh dan mendapati Vexia. "Eh, halo."

Vexia merangkulku dan kami berdua berjalan bersama menuju kelas yang terletak di lantai dua. Di sepanjang perjalanan, kudapati tatapan iri dari beberapa murid cewek yang sudah datang. Oh, apakah kabar aku jadian dengan Kak Rafa sudah menyebar?

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!