Keadaan Vexia sudah membaik dan sekarang dia dinyatakan sembuh. Aku mengamati wajah damainya yang tengah tertidur. Aku menghampirinya dan duduk di sofa yang terletak di dekat tempat tidurnya.

"Vexia," panggilku lembut sambil menyentuh tangannya.

Dia menggeliat dan perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Seakan terkejut dengan kedatanganku, dia langsung beranjak bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menghadapku.

"Lo bikin gue kaget."

Aku terkekeh geli dan mengatakan, "Gantian, dong. Biasanya, kan, lo yang suka ngagetin gue."

Sebenarnya hari ini aku ingin menanyakan tentang semuanya pada Vexia. Dia memang masih belum masuk sekolah karena harus istirahat di rumah paling tidak sampai kondisinya benar-benar pulih.

"Gue mau bicarain sesuatu sama lo. Apa boleh sekarang?" tanyaku dengan hati-hati.

"Ngomong ajalah, Ken. Nggak perlu izin juga kali," jawabnya santai.

"Kenapa lo tega sama gue? Gue suka sama Kak Rafa dan lo pasti tau itu. Lo dulu nyuruh gue buat dapetin dia. Tapi, nyatanya gue nggak bisa dan malah lo yang jadi pacarnya."

Aku tak bisa menahan lagi karena sudah terlalu lelah. Mau tidak mau sekarang aku harus mengutarakan seluruh isi hatiku padanya.

"Ini semua hanya salah paham. Gue dan dia nggak ada apa-apa. Masa, sih, gue tega ngerebut dia dari lo. Enggak, kan?"

Aku menarik napas dalam dan mengucapkan, "Buktinya anak satu sekolah udah tau semua kalo kalian pacaran. Dan waktu gue tanya langsung sama Kak Rafa juga kabar itu bener. Jadi, kenapa lo terus mengelak?"

Vexia mengalihkan pandangannya dariku, beralih menatap kosong jendela kamarnya. Dia mengembuskan napasnya dengan berat.

"Bukan gitu. Gue juga kaget pas tiba-tiba denger kabar itu. Kak Rafa dengan enaknya nyebarin gosip yang nggak bener itu. Ya, jelas gue nggak terima."

"Gue nggak ngerti sama masalah ini. Apa ada hubungannya juga sama Kak Sheren?"

Vexia memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk. "Kak Rafa dan Kak Devan, tuh, dulunya pernah suka sama Sheren sialan itu. Terus mereka ngebalesin dendamnya dengan cara ngebuat kita bertengkar dan berusaha ngehancurin hubungan persahabatan kita."

Aku menganga lebar dan membelalakkan kedua bola mataku terkejut. "Kenapa mereka berbuat gitu sama kita?"

"Mungkin supaya bikin Sheren sialan itu nyesel. Dia, kan, barusan putus dari pacarnya. Terus palingan dia mulai ngejar lagi salah satu di antara Kak Rafa dan Kak Devan."

Aku bergeming. Bagaimana jika Kak Sheren lebih memilih untuk mendapatkan kembali Kak Rafa daripada Kak Devan?
Lalu, aku....

Dengan perasaan yang masih sama dan tak terbalas, aku hanya bisa menatap cinta pertamaku dari kejauhan. Membayangkan kalau seandainya dia berada di dekatku dan juga memimpikan jika suatu saat aku bisa menjadi seseorang yang berarti untuknya. Tetapi, untuk sekarang hal itu masih menjadi angan yang belum bisa kuraih. Dan aku berjanji akan tetap menunggu saat di mana aku mendapatkan apa yang kumau seiring dengan berjalannya waktu. Jika nantinya Tuhan menakdirkan dia bersamaku untuk menjadi satu dan saling melengkapi, kenapa aku harus takut kehilangan?

☆♡☆♡☆

Lantunan lagu jazz yang mengisi kafe ini membuat suasana makan menjadi nyaman. Aku dan Vexia sedang makan malam bersama di sebuah kafe yang terkenal akan kelezatan steak-nya.

"Ken, lo masih jadi pacar pura-puranya Kak Devan?"

Aku menggeleng dengan cepat. "Gue nggak pernah nerima dia, kok. Tapi, dia nganggepnya gue mau jadi pacar pura-puranya."

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!