"Rafa, tunggu!" teriak seseorang dari seberang.

Aku yang semula menunduk karena menangis, akhirnya mendongak untuk melihat siapa itu. Aku menganga tak percaya. Bagaimana bisa Tante Alyssa ada di sini? Bukankah dia sedang berada di kantornya?

Aku diam tak berkutik. Kak Rafa yang tadinya berjalan memasuki rumahnya pun menjadi berhenti. Tante Alyssa menghampiriku dan menarikku masuk tanpa mengatakan apa pun. Sedangkan aku hanya bisa mengikutinya patuh.

"Ada apa, sih, Ma?" tanya Kak Rafa sambil bersedekap.

Tante Alyssa menggeleng tak percaya dan menjawab, "Kamu sangat keterlaluan. Kamu pikir Mama nggak tahu apa yang kamu lakuin ke Kenza?"

Kak Rafa mendengus kesal mendengar mamanya menyebut-nyebut namaku. "Kenapa Mama nyalahin aku?"

"Jelaslah kamu itu salah. Nggak seharusnya kamu bikin Kenza nangis. Apa kamu pikir dia nggak sakit hati?"

Aku bungkam. Tak seharusnya aku berada di antara percakapan mereka. Aku juga tidak tahu kenapa Tante Alyssa mempermasalahkan ini semua.

Kak Rafa menatapku penuh kemarahan. "Aku nggak peduli kalau dia sakit hati, Ma. Aku cuma mau dia pergi jauh-jauh dari kehidupanku."

Rasanya hatiku berkecamuk. Sangat menyakitkan mendengar keinginannya agar aku pergi jauh dan menghilang dari kehidupannya. Bahkan, permintaannya itu sangat sulit untukku.

"Seyakin itu kamu rela dia pergi? Emang ada cewek lain yang tulus sama kamu? Apa Sheren bisa memberikan sayang yang nyata?"

Aku tersentak. Kenapa Kak Sheren ikut dibawa-bawa? Aku memilih untuk mendengarkan saja dan tak ikut campur sama sekali.

"Lebih baik Mama jangan meragukan Sheren. Dia yang lebih ada buat aku dan nggak ada orang yang tau itu. Yang bisa ngerasain, kan, aku sendiri."

Tante Alyssa mengembuskan napasnya dengan berat dan berkata, "Dari awal Mama nggak menyetujui hubunganmu sama Sheren. Waktu pertama kali Mama ketemu Kenza, entah kenapa Mama pengen banget kamu sama dia."

Aku masih tidak mengerti. Sebenarnya arah topik pembicaraan ini ke mana? Ya, mungkin kedengarannya bagus karena Tante Alyssa menyukaiku. Tapi, berbeda dengan anaknya yang mungkin saja membenciku.

"Kenapa, sih, dari dulu Mama nggak bisa menghargai keputusanku?"

Sebelum situasi bertambah panas, aku berdeham pelan dan maju mendekati mereka berdua. "Tante, lebih baik saya pulang. Maaf kalau terkesan ikut campur," ujarku sambil tersenyum sopan.

"Jangan pulang dulu. Tante cuma mau lihat Rafa mengakui kesalahannya dan minta maaf sama kamu," tukas Tante Alyssa yang membuatku terkejut.

Aku refleks menggeleng dan menyahut, "Nggak perlu, kok, Tan. Saya sudah melupakan kejadian tadi dan memaafkan dia."

"Tante merasa kamu sangat tersakiti dengan sikapnya Rafa. Jadi, sebenarnya Tante sudah tahu kalau kamu menyukai Rafa. Makanya tadi waktu kita ketemu di kafe, Tante sengaja minta tolong kamu biar tahu gimana reaksinya Rafa."

Sulit bagiku untuk memercayai apa yang terjadi sekarang. "Bukan sepenuhnya salah Kak Rafa, kok. Ini semua salah Kenza karena sudah mengusik kehidupannya Kak Rafa. Seharusnya saya tadi menolak permintaan Tante, tapi saya pikir nggak masalah karena searah dengan jalan pulang."

"Ah, ya sudah kalau begitu. Hari sudah semakin larut. Nanti orangtua saya akan khawatir. Saya pamit dulu, Tan," lanjutku kemudian.

Tidak ada reaksi dari Tante Alyssa. Tampaknya beliau sedang memikirkan sesuatu. "Tante harap dari kejadian tadi, Rafa bisa berubah. Dan untuk kelanjutan masalah kalian, Tante tidak dapat ikut campur. Sebaiknya kalian sendiri yang menyelesaikannya. Tante akan merasa sangat senang kalau kalian dapat menjadi teman baik nantinya."

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!