BAB 3 - Pemeran Figuran

2 2 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim....
Vote + komen ✨
.
.
Happy Reading!

"Runi?" Panggilan itu sontak membuatku berhenti berdebat dengan pikiranku yang kacau, aku menoleh, penasaran dengan siapa yang memanggil namaku.

Netraku akhirnya menangkap dua sosok lelaki berbadan tinggi yang berdiri di sampingku. Senyumanku terukir singkat menyapa mereka. "Eh, kalian," sapaku dengan ramah pada Zayyan dan Earth yang tadi menyapaku, aku lalu ikut berdiri untuk menghargai dua orang sahabatku ini.

"Kamu sendirian? Luna mana?" tanya Earth padaku. Memang cukup jarang aku bepergian sendirian seperti ini, selalunya aku pergi bersama Luna sedari kecil hingga sekarang, dan aku harap ke depannya pun seperti itu.

"Dia sedang menstruasi hari pertama pagi ini, jadi tidak bisa ikut," terangku. Kulihat, Earth menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku.

"Sakit perut lagi, ya?" Earth kembali bertanya, sudah hapal dengan kebiasaan Luna.

Aku mengangguk. "Iya," jawabku singkat.

"Kamu sudah selesai larinya, Runi?" Aku menoleh pada Zayyan yang bertanya demikian. Layaknya aku dan Luna yang selalu bersama, merek-Earth dan Zayyan-pun juga sepaket.

"Belum, masih ada tiga kilometer lagi," ujarku memaparkan targetku.

"Mau ditemani?" tawar Zayyan padaku, mungkin peduli karena aku sendirian.

Aku tersenyum mendengar tawaran tersebut sebelum akhirnya menggelengkan kepalaku. "Tidak perlu, terima kasih. Lagipula sepertinya kalian sudah selesai, kan?" paparku. Padahal sebenarnya, aku memang ingin menikmati waktu lari sendirianku.

"Iya, tapi tidak masalah jika kamu ingin ditemani, siapa tau kamu takut," ungkap Zayyan lagi, kali ini diangguki oleh Earth. Aku lagi-lagi tersenyum tipis, mereka memang sebaik ini walaupun kadang sedikit menjengkelkan.

"Tidak usah, lagipula aku juga ingin sendiri," kataku yang akhirnya berterus terang.

"Oh, masih galau soal crush kamu itu, ya?" Earth memberikan pertanyaan dan Zayyan tertawa tipis.

Aku memutar bola mataku malas. Pertanyaannya tepat sasaran. Sepertinya mereka bukan sedikit menjengkelkan, tapi memang menjengkelkan.

"Sudah, pergi sana!" ujarku mengusir dua makhluk tersebut.

Zayyan dan Earth kembali tertawa meledekku. "Bye, Runi!" kata Zayyan sembari menarik Earth pergi.

Aku menghela napas melihatnya kemudian memilih melanjutkan kegiatan berlariku.

**

Aku tiba di kediaman keluarga Luna setelah puas berlari. Sebenarnya tujuan utamaku adalah berjalan menuju kamarku, tetapi mengingat ini adalah weekend, aku akhirnya memutuskan untuk ke halaman belakang, bertemu pelatihku.

Di halaman belakang yang cukup luas, aku mendapati teman-teman seprofesi ku tengah bersiap berlatih. Aku tersenyum dan menghampiri barisan perempuan.

"Ini baru mau mulai?" tanyaku pada Salju, dia adalah seorang pengawal pribadi kakak ipar Luna.

"Iya, kamu dari mana?" balas Salju.

"Aku sempat berlari di taman hari ini, baru teringat jika harus berlatih hari ini setelah sampai di rumah," ungkapku seraya menyengir kecil.

Salju ikut tertawa mendengar jawabanku. Selanjutnya, pelatihan kami dimulai. Hari ini tidak semelelahkan itu, hanya sebatas evaluasi terhadap cara bertarung kami. Basic bela diri dan pengawalan yang tidak boleh terlupakan. Setidaknya begitu tugasku sebagai pengawal pribadi sekaligus sahabat Luna.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 22 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Heart and FaithStories to obsess over. Discover now