NAOMI 02

95 16 2
                                    

Assalamualaikum!

Hai semuanya!!🍉

Gimana kabarnya hari ini?

୨୧ Jangan lupa sholat ୨୧

Happy Reading 🤍

"Assalamualaikum, maaf, ya, ibu sedikit telat. Tadi ngobrol dulu sama Ishak, kebetulan dia juga yang akan satu tim dengan kalian." Jelas Bu Mawar saat tiba di tengah-tengah pembicara Mikail dan Naomi.

"Oh iya, bu. Terus Ishak mana, Bu? Enggak ikut latihan?" Tanya Naomi seraya celingak-celinguk mencari keberadaan salah satu timnya.

"Ikut, tapi dia lagi ke kamar mandi dulu. Kita mulainya pas dia datang aja." Dan tidak lama setelah Bu Mawar mengatakan itu, Ishak datang, dan hal tersebut membuat Naomi dan Mikail lantas menolehkan kepalanya ke arah Ishak.

Bu Mawar pun mulai menjelaskan sistem cerdas cermat yang akan mereka lombakan. Sementara itu, Mikail menyadari sesuatu, sedari tadi Naomi tampak curi-curi pandang ke arah Ishak, si bocah yang ia ketahui satu ekstra kurikuler dengan Naomi.

Setelah penjelasan panjang dari Bu Mawar dan pembagian kisi-kisi, mereka sudah di perbolehkan untuk kembali ke kelas masing-masing.

"Naomi, Lo tertarik sama Ishak?" tanya Mikail to the point, saat ini mereka tengah jalan beriringan.

Naomi sontak menghentikan langkahnya dan menatap Mikail dengan kening yang berkerut. "Kok mikir gitu, kak?" Balas perempuan berhijab putih tersebut.

"Soalnya tadi Lo keliatan curi-curi pandang ke dia." Timpal Mikail.

"Enggak kok, lagian nih Kak, gue tuh udah berdoa sama Allah supaya enggak jatuh cinta selain sama jodoh gue. Kalaupun nantinya gue jatuh cinta, palingan gue tinggal berdoa lagi sama Allah, buat hapus perasaan gue kalo dia bukan jodoh gue. Simpel, i have Allah." Papar Naomi.

Mikail tersenyum mendengar jawaban dari Naomi. "Lo cantik deh, kalau lagi banyak ngomong gini." Ucapnya yang sontak di balas tatapan tajam oleh gadis tersebut.

"Ih! Zina mata, tau enggak, sih?!" Ujar Naomi dengan tatapan tajamnya.

"Tau, soalnya barusan di kasih tau sama Lo." Balas Mikail seraya tersenyum manis.

"Terserah deh, bye!" Naomi segera berlari menuju kelas. Tenaganya untuk mengobrol sudah habis. Takutnya kalau di teruskan akan membuat ia menjadi marah-marah kemudian berakhir menangis atau diam seribu bahasa. Biasa, kaum ambivert yang condong ke introvert.

Mikail kembali tersenyum manis, lagi-lagi ia di tinggalkan oleh sang pujaan hati. "Nanti jualan bakso di dekat rumah Naomi, ah~! Siapa tau tiba-tiba ketemu." Monolognya seraya berjalan menuju kelasnya juga dengan perasaan bahagia.

𓆩♡𓆪

Sesampainya Naomi di kelas, bersamaan juga dengan pergantian jam pembelajaran. Dan yang membuat ia sedikit malas adalah pembagian kelompok. Mana ia sedikit telat lagi, kelompoknya sudah di bagi pula. Jadi ia harus memilih.

Sebagai orang yang netral, alias mengajak semua berteman tetapi tidak dekat, membuat Naomi kesulitan untuk memilih ingin di kelompok mana. Rata-rata dari teman kelasnya memang memiliki teman akrab masing-masing, kecuali dirinya.

Untungnya Naomi menjadi salah satu siswi yang cukup pintar di kelas tersebut. Jadi, selang beberapa menit saja sudah banyak sekali kelompok yang menawarkan dirinya untuk bergabung. Setelah mempertimbangkan, akhirnya sekarang ia sudah mendapatkan kelompok yang anggotanya lumayan Naomi kenal.

NaomiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang