IMPOSSIBLE [Completed]

By FauziahZizi5

45.1K 1.9K 397

"Tuhan itu nggak adil, kenapa Tuhan jadiin hidup gue sehancur ini." -Aerylin Fradella Agatha- "Gue suka sama... More

Prolog
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
CAST
20
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Pemilihan Cover
31
32 (Terbongkarnya Rahasia)
33- Oh jadi Alwan itu ( Semua terbongkar mulai dari sini)
Hai
34 - IMPOSSIBLE (End)
Baca Dulu, Penting

21

1.1K 40 17
By FauziahZizi5


[Uda untuk suami= Mas]

[Uda untuk saudara laki-laki= Kakak, Abang]

[Amak= Ibu]

Vote dan komennya jangan lupa ya😘

Aery mengambil sebuah kotak berbentuk balok dari dalam lemari cokelat di sudut kamar. Perlahan tutup kotak itu dibukanya, sebuah pakaian putih dan pita merah tersimpan lama di dalam sana. Ia mengambil baju serta pita itu, lalu tersenyum dan berkata, "Antonio apa kabar, hari ini aku menemukan petunjuk tentang mu."

Kenangan lama seakan terbuka kembali, ketika Antonio berjanji untuk menjaganya jika sudah besar nanti, ia hanya berharap lelaki itu menepati janji karena saat ini seorang teman sangat Aery butuhkan. Semakin lama kehidupan semakin sulit, masalah datang silih berganti, seseorang yang berada di jurang kesepian, kehancuran membutuhkan sebuah dukungan agar terus hidup dan tidak mengambil keputusan yang salah terutama dalam pergaulan.

Tidak ingin berlama-lama mengingat masa lalu tentang janji yang pernah di dengarnya waktu kecil dulu. Entahlah, Antonio adalah teman yang begitu istimewa di hati Aery hingga saat ini dan perasaan itu tidak akan pernah mati.

Teman yang begitu lugu, mau memberikan uang kepada seorang gadis lalu memerintahkan agar ia tidak memberitahukan hal itu kepada sang ibu. Sekaligus teman penakut yang bersembunyi ketika ada anak-anak jahat yang ingin mengambil tempat duduk.

Teman yang suka membual dan dengan mudahnya mengucapkan janji tanpa berpikir lebih dulu, akankah janji itu bisa ditepatinya atau justru hanya menjadi omongan belaka.

Tutup kotak yang berdebu kembali pada fungsinya yaitu melindungi baju serta pita merah agar tidak berdebu walau tetap saja kusam karena terlalu lama di simpannya dalam kotak berukiran naga.

Kotak itu diletakkan jauh di sudut dalam lemari, ditutupi dengan gundukan kain berbahan wol dan sepatu lama yang tidak terpakai lagi. Biarlah kenangan itu tersimpan di sudut lemari hingga datang saat dimana ia harus mengeluarkan kembali kotak balok sebagai bukti pada Antonio bahwa ia tidak pernah melupakan lelaki itu.

Aery menutup rapat-rapat lemari, menyimpan kuncinya di dalam laci meja dekat tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar untuk melepaskan rasa lelah yang telah menguasai separuh dirinya. Samar-samar terdengar banyak suara di ruang makan, Aery berdiri mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka.

Ia tidak dapat melihat apapun, kurang jelas karena jarak pandang yang cukup jauh. Suara lembut terdengar samar, Aery tidak peduli akan suara itu ia menutup pintu tetapi tidak mengunci pintu kamar karena takut jika mendadak terjadi gempa maka ia bisa langsung lari.

Aery merebahkan tubuh ke ranjang, menutup diri dengan selimut tebal dan perlahan menutup mata. Suara hentakan kaki menggema di lantai, suara klik terdengar lambat saat pintu perlahan terbuka. Seseorang, bukan! Ada dua orang karena suara langkah itu terdengar tak seimbang layaknya bunyi hentakkan kuda saat berpacu di lapangan.

Entah sejak kapan, sebuah telapak tangan yang dingin menyentuh kening Aery. Mengusap lembut, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah, menyematkannya ke daun telinga.

"Apa aku harus kehilangan Aery?" seseorang memulai percakapan terlebih dahulu.

Seseorang menyahut, kali ini suaranya lebih berat dan bergetar, "Menurutmu untuk apa kita melakukan ini? Jelas, untuk mempertahankannya. Aery anakku, dan aku tidak ingin kehilangannya."

Seseorang yang memulai tadi kembali bersuara dengan penekanan di setiap katanya, "Jika kehilangan, maka akulah yang akan kehilangan Aery bukan kamu!"

"Tolong jangan egois, jangan pikirkan dirimu sendiri! Lihat aku, aku bahkan melakukan hal ini hanya untuk kamu dan Aery."

Wanita itu berdiri, berjalan ke sisi lain dari kamar itu. Menggapai sebuah foto berbingkai kayu Kalimantan, di dalam lebih tepatnya di balik kaca persegi panjang terpampang sebuah foto anak kecil yang tersenyum bahagia bersama seorang wanita dan seorang lelaki. Mereka bertiga saling merangkul, penuh kehangatan dan cinta.

Ia kembali meletakkan foto ke meja bundar di samping jendela. Wanita itu berbalik badan, menatap tajam ke arah sang lelaki yang tengah membenarkan selimut Aery.

"Dan pada akhirnya hanya ada 2 pilihan; kepergianku atau kepergian Ary. Kedua pilihan itu tidak akan merubah apapun, tetap saja aku harus kehilangan Aery."

"Jangan mengulang topik yang sama! Sudahlah jangan berdebat di sini!"

Lelaki itu mendaratkan sebuah pukulan ke ranjang, tidak menimbulkan rasa sakit namun cukup untuk melampiaskan kemarahannya. Wanita itu hanya diam membeku di samping jendela, wajahnya sengaja di palingkan ke arah lain. Ia marah serta sakit hati, air mata berangsur keluar tetapi sekuat tenaga di tahan agar air mata itu tidak jatuh lagi.

Lelaki itu berdiri, berjalan keluar dengan wajah kusut serta mata yang agak memerah. Si wanita menyeka secara kasar air mata di pipinya sehingga memerah. Ia menyusul suaminya, meninggalkan Aery sendiri yang tengah berbalut dengan selimut hangat.

Hanya berselang beberapa detik setelah kepergian mereka, saat cicak di dinding berbunyi, ketika suara jangkrik bergema jelas diluar sana dan di saat itu juga Aery membuka matanya, ia menyingkirkan selimut karena mendadak gerah. Menatap langit-langit kamar dengan mata memerah dan berair.

Abak berjalan dengan cepat, Ama berusaha mengejar dari belakang karena jauh tertinggal. Mereka pergi ke ruang makan, memanggil bi Supiak dan menyuruhnya membuatkan 2 piring nasi goreng.

Mendengar permintaan mereka, bi Supiak berlari kecil menuju dapur. Mengupas bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya yang di perlukan untuk memasak. Kompor dinyalakan sehingga bunyi shhh berbunyi saat minyak dituangkan ke dalam penggorengan.

Tak lama akhirnya nasi goreng siap di hidangkan, aromanya begitu menggoda dan lezat. Bi Supiak membawa sebuah baki ke meja makan, memberikan satu piring ke Abak dan satu lagi untuk Ama. Bi Su merasa tidak enak jika berlama-lama di sana, ia membalikkan tubuh lalu berjalan menjauh ke ruang belakang.

Ama duduk di samping Abak, mereka meniup-niup nasi goreng yang masih panas.

"Uda sudah lama ya kita tidak makan bersama lagi terutama dengan Aery, aku yakin banyak luka yang disimpannya," kata Ama disela tiupannya.

"Hmm, tolong jangan bahas soal ini lagi."

Ama membuang nafas secara kasar, wajahnya cemberut menatap sepiring nasi goreng. Kerongkongannya terasa begitu pahit untuk menelan nasi itu sehingga Ama hanya mengaduk-aduk dengan sendok.

Abak dengan lahap menyantap nasi goreng buatan bi Supiak yang tidak kalah dengan masakan restaurant. Suapan demi suapan mendarat masuk ke dalam mulutnya, Abak begitu lapar sehingga nasi itu ludes dalam beberapa menit.

Ia melirik ke samping, melihat Ama yang tidak berniat untuk memakan masakan itu. Abak menarik piring, Ama terkejut akan tindak suaminya yang senonoh.

"Tapi itu bekasku," memutar tubuh ke arah Abak.

"Tidak masalah, seorang suami memakan bekas makan istrinya itu hal biasa. Aku tidak jijik karena kamu adalah istriku bukan orang lain," menatap Ama.

Ama tersenyum, melihat sang suami melahap nasi goreng itu. Abak tidak merasa canggung di tatap oleh istrinya begitu, ia fokus pada nasi karena memang sedang kelaparan pada tingkat maximum.

Nnnnn, ponsel Abak yang ada di atas meja tepat di ujung jari Ama bergetar. Layar ponsel menampilkan nama seseorang  yang tengah menelpon, Ama memalingkan wajah setelah tahu siapa penelpon itu.

"Angkatlah! Dia menelpon," seru Ama yang menatap ke arah lain.

"Biarkan saja, aku ingin tidur di sini malam ini."

Mata Ama membulat mendengar ucapan Abak barusan, seakan ia terbebas dari hukuman mati atau merasa oksigen begitu mengalir ke dalam paru-parunya, tidak tersendat.

"Tapi–" bantah Ama.

"Apa keberadaanku tidak kamu inginkan? Kalau begitu aku akan pergi."

Ama menahan lengan Abak, ia menggeleng pertanda jangan pergi, tetaplah disini.

"Siapa dia?"

Aery mendadak saja bertanya, ia sudah duduk di kursi paling ujung. Dagunya ditopang menggunakan pergelangan tangan, menatap tajam penuh tanda tanya ke arah mereka.

Ama dan Abak benar-benar kaget, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Aery di sana, sejak kapan? Pertanyaan berputar-putar di benak mereka.

Aery melangkah mendekat, nnnnnnn. Ponsel Abak kembali bergetar dan dengan cepat Aery menyambar dan mengangkat telpon itu.

"Hallo," ucap Aery.

Abak dan Ama saling bertatapan.

"Apa?" tanya Aery, keningnya berkerut.

***

Seorang lelaki jangkung menenteng sebuah kantong plastik yang berisi beberapa kotak makan dan beberapa botol air mineral. Ia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam suatu bangunan bercat hijau, sendal kulitnya menimbulkan sedikit suara saat tapak sendal bertemu dengan lantai.

Lebih dari 20 orang yang memakai seragam yang sama berlalu lalang melewati lelaki itu, terdapat banyak ruangan dan orang-orang yang tidak mengenakan seragam hijau muda juga ikut bergelimpangan di sana.

Lelaki itu wajahnya agak kusut, rambut yang acak-acakan, terdapat sedikit goresan di bagian kanan hidung, ada beberapa helai rambut berwarna putih terselip di kulit kepalanya. Memakai baju kemeja lengkap dengan celana dasar bersanding di setiap lipatannya. Lengan baju di sisipkan ke atas secara sembarangan, jam tangan berantai emas melilit pergelangannya.

Ia memasuki lorong, tidak panjang dan tidak gelap karena penuh dengan penerangan lampu di setiap sudut dan sisi bangunan ini. Langkah kakinya panjang sehingga bagian celana dasar itu terhuyung ke depan dan ke belakang.

Lelaki itu berhenti di depan pintu yang bernomor 12, ia berusaha menyembunyikan rasa khawatir dan cemas di balik sebuah senyuman yang tampak dipaksakan. Pintu dibukanya, sepasang mata berwarna gelap agak keputih-putihan menatapnya dengan ekspresi terkejut.

"Kamu ini kalau masuk ketuk pintu dulu, Amak udah tua, gimana kalau mendadak jantungan karena kaget seperti tadi?"

Wanita bermata gelap, berambut putih memarahi lelaki itu yang perlahan mendekat ke arahnya.

"Iya Mak, Arya minta maaf," jawabnya sambil meletakkan kantong plastik di atas meja persegi setinggi pinggang.

"Uda, dimana Antonio?" tanya seorang wanita yang tidur terkulai di sebuah kasur dengan lebarnya 1,5 meter.

"Dia sedang dalam perjalanan, jangan pikirkan hal lain! Pikirkan saja tentang kondisimu!" duduk di samping kasur, menciumi punggung telapak tangan wanita yang bernafas dengan alat bantu pernafasan.

"Kamu ini selalu memanggil cucuku dengan nama itu, bukankah sudahku bilang dia tidak suka di panggil dengan nama jelek seperti itu," timpal si nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk menuju sofa di sisi kanan ruangan.

"Amak, istriku sedang sakit saat ini jadi jangan memarahinya begitu."

Si nenek akhirnya mencapai sofa, perlahan ia duduk sambil mulutnya komat-kamit entah mengucapkan kalimat apa. Sesekali ia memukul lututnya sendiri karena mendadak kesemutan, maklum usianya kini sudah memasuki 70 Oktober tahun ini.

Arya mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut, matanya seakan mengatakan: semua baik-baik saja, jangan khawatir. Bau obat-obatan tercium pekat di kamar ini serta suhu yang dingin karena AC membuat hidung si nenek memerah dan sesekali ia bersin.

Teringat akan kantong plastik tadi, Arya bangkit dari tempat duduk. Menyambar kresek itu dan membawanya ke tempat sang ibu yang tengah duduk di sofa.

"Arya membeli bubur kesukaan Amak di tempat langganan kita. Amak harus makan karena sejak tadi perut Amak terus saja berbunyi," memberikan bubur itu dan nenek mengambilnya.

Arya kembali lagi kepada sang istri, "Istirahatlah!" ucapnya.

"Assalamu'alaikum."

Arya yang hampir tertidur terkejut dan nenek memegang jantungnya karena lagi-lagi ada yang mengejutkannya.

"Kamu ini," ucap si nenek.

***

Continue Reading

You'll Also Like

2.3M 71.9K 74
NOVEL BISA Di BELI DI SHOPEE FIRAZ MEDIA "Bisa nangis juga? Gue kira cuma bisa buat orang nangis!" Nolan Althaf. "Gue lagi malas debat, pergi lo!" Al...
5.1M 215K 52
On Going ❗ Argala yang di jebak oleh musuhnya. Di sebuah bar ia di datangi oleh seorang pelayan yang membawakan sebuah minuman, di keadaan yang tak s...
30.2K 2.6K 41
Jangan bersedih! Allah bersama kita! Work ini berisi kumpulan kisah islami penguat jiwa. Diambil dari berbagai sumber.