RASPATI, 20 Agustus 2018
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tiga bogeman dari Bara mendarat sempurna di tengkuk Rajawali. Laki-laki itu tidak membalas pukulan tersebut, melainkan dia diam saja dan tidak melakukan perlawanan terhadap sahabatnya. Dia tahu bahwa dirinya salah. Maka dari itu dia hanya diam saja.
"Maksud lo apa? Kenapa dengan beraninya lo malah mengibarkan bendera putih ke Arvin?" Pekik Arsenio yang berada di belakang Bara, tidak mau turun tangan untuk memukul Rajawali. Hanya diam melihat perkelahian antara Bara dan juga Rajawali.
"Ja, kenapa lo nekat banget sih!" Galen menimpali. Baru saja dirinya ingin memukul Raja, namun langsung ditahan oleh Arsen. "Jangan, biarin Bara aja yang mukulin Raja. Kita gak usah ikutan," pinta Arsen. Kemudian, Galen mundur dan ikut duduk di samping Gibran
Sudah ada 30 menit. Dan Bara masih belum selesai memberi pelajaran kepada sang ketua RASPATI. Sedari tadi Bara juga tak mengucapkan sepatah kata apapun kepada Rajawali dan dirinya hanya fokus dalam memberi pelajaran kepada sang ketua itu. Arsen yang menyadari bahwa ketuanya itu akan tumbang, dia dengan cekatan menghentikan Bara dan menyuruh kedua sahabatnya yang duduk itu untuk menjauhkan Bara dari Rajawali.
"Udah! Lo tenangin diri lo dulu, lo ngga lihat apa ketua lo ini hampir mati di tangan lo!" Lerai Arsen, dia berjongkok untuk menolong Rajawali. Dengan perlahan Arsen memapah Rajawali, meskipun pergerakan laki-laki itu sudah sangat lemas akibat pukulan yang diberikan Bara. Matanya juga sudah sayup-sayup, wajahnya dipenuhi dengan luka memar. Dia membawa Rajawali ke sofa dekat situ
Sedangkan Bara diajak pergi dari markas oleh Galen dan Gibran. "Lo jangan gila, gitu-gitu Rajawali masih jadi ketuanya di RASPATI!" Ujar Gibran saat sudah berada di depan markas.
"Ketua? Ngga banget Rajawali dapat jabatan ketua dengan sikapnya yang kayak gitu!" Bara menyalakan rokok di tangannya. Saat ingin menyalakan rokoknya, dia melirik kearah kedua tangannya yang terlihat ada bercak luka-luka kecil dan sedikit darah. Kemudian dia menyeringai dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda itu.
Mereka bertiga sedang berada di teras markas. Duduk di sebuah kursi yang tersedia di teras markas, semuanya sama-sama menyalakan rokok sehingga membuat teras markas dipenuhi dengan asap rokok dari ketiganya. Hening menyelimuti mereka, sampai Galen berdiri dan mengambil sebuah kertas yang berada di semak-semak. Keberadaan kertas itu sedikit jauh dari tempat duduk mereka.
Galen berjalan dan mengambil kertas itu. Lalu dia kembali duduk diantara Bara dan Gibran. "Apaan tuh?" Kepo Gibran, milirik kertas yang di bawa oleh Galen tadi.
"Selamat menikmati hari kehancuran RASPATI, tertanda A, ketua dari Atlantis." Gibran membaca kertas itu. Beberapa detik kemudian Gibran melirik kearah Bara. "Bentar, kan musuh kita Arvin dari Avaleric. Terus ini A dari Atlantis itu siapa?" Bingung Gibran. Menatap Galen dan juga Bara secara bergantian
Galen meremas kertas itu dan kemudian membuangnya ke tong sampah. "Ada yang gak beres sama kejadian ini semua." Ucap Galen. Dan laki-laki itu melenggang pergi masuk ke dalam markas, untuk memberitahukan tentang kertas yang dia buang tadi kepada Arsen maupun Rajawali. "Lo tau tentang geng Atlantis ngga?" Tanyanya
Arsen menggelengkan kepalanya. "Atlantis geng mana tuh, kok gue ngga pernah denger?" Balas Arsen tanpa melihat kearah Galen, melainkan dia fokus untuk mengobati luka Rajawali. "Ada apa emang?"
"Tadi ada kertas dan tulisannya itu dari geng Atlantis."
"Kita bahas besok aja, kasih Rajawali buat istirahat dulu!"
"Oke." Galen pergi lagi keluar, meninggalkan Arsen dan Rajawali berdua di dalam markas.
Pergerakan tangan Raja menghentikan aktivitas Arsen yang mengobati lukanya. "Lo diem, gue obatin luka lo biar ngga infeksi!" Gerutu Arsen yang menyuruh Rajawali diam. Namun Rajawali tetaplah Rajawali, dia kemudian mendudukkan dirinya dan memberikan handphonenya kepada Arsen. "Apaan?" Ketus laki-laki itu saat melihat Rajawali memberikan handphonenya kepada dirinya.
"Lihat aja, chat itu!" Perintah Raja, yang membuat Arsen mengambil handphone dari Rajawali.
"Yang buat hancur raspati bukan avaleric, tapi atlantis!" Arsen membaca sebuah chat dari Arvin, letua dari Avaleric. "Jadi?"
"Iya itu jawabannya, Atlantis penyebab dari kehancuran raspati. Gue dari awal ngga pernah mengibarkan bendera putih ataupun ngomong nyerah ke Arvin." Ujar Rajawali. "Gue ke markas Avaleric sebenernya buat tanya ke Arvin, siapa ketua dari Atlantis, tapi semuanya malah jadi hancur!" Lanjutnya
Arsen menaruh handphone Raja di meja. Dan dia mulai melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti tadi. "Gak usah dipikirin dulu, mending lo pikirin kesembuhan lo sebelum lo cari tahu siapa ketua Atlantis." Omelnya, sembari mengobati luka-luka Rajawali.
"WOI!!!!"
"TOLONGIN BARA ANJENG!!!!"
Teriakan itu berasal dari luar. Mereka berdua saling melemparkan pandangan bingung, karena baru kali ini dia mendengarkan suara teriakan nyaring dari para sahabatnya yang berada diluar dan teriakan itu juga mereka seperti sedang panik akan sesuatu. Lantas Arsen dan Rajawali langsung berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar. Mereka berdua sangat terkejut saat tau diluar sudah tidak ada siapa-siapa. Mereka bingung setengah mati. Apa yang terjadi? Kemana perginya Gibran, Galen dan juga Bara? Ada apa ini? Banyak sekali pertanyaan yang sedang berkutat di kedua otak mereka
Sampai pada akhirnya, mereka berdua pingsan karena dibius oleh seseorang dari belakang mereka. Dan membawa mereka berdua ke sebuah mobil, entah mereka dibawa kemana oleh orang itu, yang pasti ini ada hubungannya dengan kehancuran RASPATI dan ke misteriusan dari geng Atlantis.
YOU ARE READING
RAJAWALI
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Rajawali Baron Narendra namanya atau bisa dipanggil dengan sebutan Raja. Pemimpin RASPATI yang begitu dibanggakan oleh orang-orang, karena sikap kemanusiaannya. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun bagi anggota RASPATI s...
