CHAPTER 1 : Berangkat bersama?

145 42 61
                                        

"Dari mana kamu?" Alana terkejut saat mendengar suara papanya.

"Jawab Alana!" Bentak papanya.

"Main," Ucap Alana singkat. Dia tidak berani menatap sang papa di depannya yang terlihat menyeramkan.

"Main? Mau jadi apa kamu pulang main jam segini?! Papa tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini!"

"Cukup pa! Aku capek, aku mau istirahat," Ucap Alana sambil berlalu dari hadapan papanya.

"Alana! Papa belum selesai bicara!" Teriak papa Alana. Melihat anak sulungnya yang berlalu meninggalkannya sendirian, dia hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan anaknya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa sifat Alana yang sekarang adalah karena ulah dirinya dan istrinya yang selalu membeda-bedakan Alana dengan adiknya.

🌻

Alana terbangun dari tidurnya ketika mendengar alarmnya berbunyi, entah sudah ke berapa kali alarm itu berbunyi.

"Anjir! Gue kesiangan sialan!" Gadis itu terlonjak kaget dan langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, dia segera memasukkan beberapa buku secara asal-asalan ke dalam tas kecilnya, Alana selalu membawa tas kecil ke sekolah. Katanya kalau bawa tas gede berasa mau camping, wkw.

Alana segera turun, dibawah dia melihat mamanya sedang merapihkan bekas sarapan, mungkin. Alana tidak terlalu memusingkan itu. Dia langsung memakai sepatu.

"Ma, aku berangkat dulu!" Teriak Alana.

🌻

Alana sedang menunggu bus, tapi sedari tadi Alana tidak melihat bus datang. "Duh bisa telat nih gue kalo kaya gini, apa gue jalan aja ya?" Batin Alana.

Ketika hendak berjalan, "Alana!" Teriak lelaki yang memakai helm full face dan menaiki motor ninja kuningnya itu.

"Ayo naik, ini gue Dewa!" lanjut lelaki itu yang melihat kebingungan di wajah Alana.

"Ah? Eh iya iya" ucap Alana bingung sambil menaiki motor ninja kuning milik lelaki itu.

Dijalan hanya ada keheningan, tidak ada yang memulai percakapan duluan. Alana masih syok, karena tiba-tiba Dewa menawarkan tumpangan.

Alana kenal Dewa, begitupun sebaliknya. Dia berteman dengan teman-teman Dewa. Jika Alana sedang nongkrong bersama teman-teman Dewa dan temannya, Dewa hanya sesekali ikut nimbrung. Bahkan jika berpas-pasan di sekolah pun tidak pernah menyapa. Tapi ini? Tumben sekali dia menawarkan tumpangan, sehingga Alana merasa heran.

"Udah sampe. Lo ga mau turun?" Ucap Dewa membuyarkan lamunan Alana.

"Gue turunin lo disini aja ya." Lanjut Dewa.

"Eh iya gapap... " ucapan Alana terpotong ketika Dewa langsung menancap gas lagi meninggalkan Alana yang masih terdiam.

🌻

"Na, lo mau ikut kita ke kantin ga?" Tanya Rani teman sebangkunya.

"Kalian duluan aja deh, gue mau ke toilet dulu."

"Okedeh, kita duluan ya. Dah!" Alana hanya melambaikan tangan kepada teman-temannya. Alana langsung bergegas ke toilet.

"Aduuhh!"

"Makanya kalo jalan liat-liat"

"Dewa?!" Alana kaget, dari sekian banyak murid di SMA Angkasa ini kenapa dia bertemu lagi sama manusia satu ini.

"Sorry gue ga sengaja wa, gue buru-buru," lanjut Alana sambil menunduk.

Dewa hanya berdehem menanggapi Alana.

"Eh tunggu!" Kata Alana sambil mencekal tangan Dewa

"Gue belom bilang makasih tadi pagi sama lo, makasi ya udah nebengin gue". Dewa hanya meliriknya, lalu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata apapun.

Alana tercengang melihat sikap Dewa. Mengapa sifat Dewa seperti Bunglon, berubah-ubah. "Bilang sama-sama kek! Dasar so cool" Ujar Alana kesal, lalu dia langsung pergi ke toilet yang sempat tertunda akibat melayani lelaki tidak jelas.

🌻

Sepulang sekolah Alana memutuskan untuk tidak langsung pulang, dia lebih memilih pergi ke rumah Tasya, beserta temannya yang lain.

"Na, gue ganyangka deh lo bisa berangkat bareng sama Dewa?" Tanya Tasya lalu diangguki oleh dua temannya yang lain, Rani dan Febri.

"Jangan-jangan lo ya yang maksa dia" Tuduh Febri sambil memicingkan matanya.

" Nah iya tuh bener, siapa tau lo berdiri dipinggir jalan terus ngelambaiin tangan, terus maksa minta nebeng deh" Tambah Rani mengada-ngada.

"Mana ada anjir, lo kata gue lonte? Ga percayaan banget lo semua sama gue!" Balas Alana sewot. Ia tak terima dibilang mengada-ngada cerita.

"Ya lagian aneh aja gitu" ucap Rani. Alana hanya memutar bola matanya jengah.

Ting! Ada pesan masuk di handphone Alana.

Satria
Jalan yuk!

Alana
Yuk, Jemput gue dirumah Tasya yaa!!

Alana langsung beranjak dari kasur milik Tasya

"Mau kemana lo?" Tanya Tasya.

"Jalan sama Satria" Jawab Alana cepat.

"Gue duluan ya, bay!" Lanjut Alana berlari sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya.

🌻

"Lo mau nonton ga Na?" Tanya Satria sambil menggenggam tangan Alana.

"Boleh deh, horror tapi ya?" Satria hanya mengiyakan sambil mengacak rambut Alana.

"Ih nanti kusut rambut gue" Ucap Alana sambil cemberut.

"Mau gimana pun, lo tetep cantik dimata gue Na." Ucap Satria sambil menatap Alana. Alana yang ditatap seperti itu pun salah tingkah,

"Apaan si lo!" Balas Alana sambil mendorong bahu Satria. Satria hanya terkekeh melihat tingkah Alana.

"Yaudah ayo ah beli tiket" Ucap Satria seraya menarik tangan Alana.

.
.
.

Maapkan pendek, next part inshaallah dipanjangin💓.
Aku deg-degan banget gais, ini cerita pertama aku. Semoga suka yah! Luv💓
-caaxx

ALANAStories to obsess over. Discover now