Chapther 8

128 15 2


Mohon maaf part ini tidak melalui proses editing sama sekali jadi mungkin akan ada banyak sekali Typo, maaf atas ketidaknyamannya

***

Hari ini hujan pertama turun mengguyur, setelah kemarau panjang yang tak terelakan, aroma dedaunan dan tana yang basah menyatu menyapa indra penciumanya mengirimkan rangsangan ke memory jangka panjang, memanggil kenangan-kenangan indah moemnt di mana dia sangat menyukai aroma ini. kenangan bersama orang-orang yang disayang, namun kali ini berbeda, hari ini air hujan yang memberikan aroma khas pada tanah dann dedaunan memberikan kenangan yang sedikit buruk, dia harus kembali ke rumah besar itu. laksanan berada di atas permadani terbang, kini dia sedang terduduk di kursi penumpang. pandangannya di ahlihkan ke penjuru luar, keindahan bunga-bunga yan mekar tidak mampu mengubah suasana hatinya. dia tidak ingin kembali, namun dia harus menepati janji.

Pria itu yang mengemudikan mobil, suaminya. menyetir dengan tenang, sesekali pandangana mengedar ke kiri dan kekanan melihat bunga indah yang di tanaman oleh pemerintahannya yang kini unjuk gigi menunjukan keindahan dirinya. punggung itu, jujur saja dapat menggetarkan hatinya yang kini duduk di belakang, hanya ada dirinya dan lelaki itu, Leonard mengendari mobil sendiri karena harus seera berada di kantor.

Wajah datar itu berhasil membawahnya sampai ke istinah besar, pria itu keliar dari mobil tanpa kata apapun dan Aliyah hanya dapat terdiam tanpa keluar dari kereta kencana baja itu. dia tidak tahu apa yang harus dilakukanya, turun ? lantas kemana dirinya akan singgah ? masuk dengan tidak tahau diri ke kamar suaminya. itu bukanlah pilihan yang baik tentunya. waktu seolah berjalan dengan cepat, renunganya di dalam mobil telah berjalan selama setengah jam, namun dia belum dapat menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, sebelum akhirnya ibu mertuanya datang membuka pintu mobil. Aliyah tahu kedatangan lelaki iitu untuk menjemputnya sangat besar di pengaruhi sang ibu, sebab itu dia tidak besar kepala mengetahu lelaki itu datang menjemputnya. lelaki penurut bukan.

"Selamat datang kembali !" Seru Nyonya Al Hasyim,

Bibir itu di buat seiit tertekuk ke atas, sebagai tanda rasa hormat dan sopan, wanita itu membukak pintu dan menariknya untuk turum, membawah dirinya berjalan ke rumah semi istana tersebut, di genggamnya tangan wanita itu dan di bawah naik ke lentai atas, ibu mertuanya mengarahkan ke ruang kramat anaknya, ruang privasi yang membuatnya merasa tak nyaman, ingatan kilas penghinaan yang dilakukan di ranjang itu, membawah kenangan buruk dan beban tersendiri untuknya, setiap melihat pintu ini, label kotor teringat di kepalanya, menimbulkan alaram ke khawatiran dalan dirinya sendiri.

Aliyah meremas erat tangan ibu mertua yang menggenggamnya dari saat dirinya turun dari mobil. merasa heran, Nyonya Al Hasyim menoleh ke arah menantunya, melihat wajah yang mendadak memujat. di pandnagnya wajah itu dengan penuh tanya.

"Aku mohon Bu...," kalimatnya tergantung, ada nada keraguan untuk mengungkapkan, namun dia harus mengatakanya.

"Sejujurnya aku belum siap untuk kembali, namun aku sudah berjanji kembali. dapatkah aku mendapatkan tempat tidur tersendiri dulu untuk sementara. aku sangat butuh penyesuaian diri terlebih dulu bu !"

Bibir tipis itu bergetar mengungkapkan keinginnanya, tapi sungguh dia merasa tidak pantas masuk ke tempat ini, secara refleks tubbuhnya meeasa kotor seperti seonggok sampah. wanita paru bayah itu terlihat kecewa, tapi Aliyah merasa ini yang terbaik.

"Baiklah, aku menghargai permintaanmu sayang, namun Ibu harus tetap mendiskusikan keputusan ini pada ayahmu, ayah mertumu maksudku. sementara beristirahatlah di kamar tamu bawah. Refal tadi sudah meminta kepala pelayan untuk mengganti bed cover, mungkin dia sedang menunggumu tapi biar ibu yang memberitahu refal untuk sementara kamu akan tidur di bawah."

Rahasia Hati WanitaWhere stories live. Discover now