Chapther 9

146 15 4


Terimakasih untuk tetap menunggu cerita dan terimakasih untuk segala dukungan terhadap Cerita dengan bintang-bintang yang diberikan.. semoga suara dapat terus bertambah

Again part ini tidak melalui proses Editing, maaf atas banyak Typo yang tersebar

Happy Reading ...,

With Love

Alyasimayn

***

Wajah Putih itu kian memujat, di tengh cahaya yang temaram, i terluka semakin dalam, malam ini ditengah cahaya rembulan yang menjadi satusatunya penerang ruangan hatinya sangat dalam, mengunus hingga tak terkira. Saat isakan itu menyeruh, d yang kini berda di atasnya melepaskan cengkramanya, membuang wajahnya yang tertangkup. dia tidak tahu harus seperti apa merasakan kesakitan itu... terdiam dalam kegelapan saat lelaki itu kemudian meninggalkanya tanpa permisi. Tubuhnya bergetar, perlahan namun pasti, ranjang empuk seolah berubah menjadi pesakitan untuknya. Kakinya melangkah, memerosotan dirinya di bawah lantai marmer yang dingin, namun itu terlihat lebih nyaman dari ranjang busa. terlihat abu-abu. dingin, terlalu dingin hingga menusuk tulang, namun itu lebih nyaman dari ranjang pesakian itu. cahaya temaram membuat tubuhnya semakin bergetar, digigitnya kuku jari lentiknya, dan bersembunyi di bawah ranjang menyembunyikan segala ketakutan yang dia rasakan.

Dia pernah merasakan luka yang lebih sakit dari ini, saat kehilangan orang-orang yang di cintainya, namun sakitnya tidak seberbekas ini, bahkan setelah apa yang terjadi rasa ketakutan itu masih bersarang di tubuhnya, menggerogoti dirinya. dinginnya lantai ditambah cahaya yang gelap total di bawah ranjang memberinya kenyamanan. Rasa tenang itu didapatnya. hingga tertidur dengan pulas di bawah ranjang.indah

***

Pagi yang indah tak pernah di lihatnya lagi, awan yang cerah seolah menggelap. hangatnya pagi seolah mendingin. Aliyah tidak pernah tahu bentuk kesakitan apa yang akan di berikan lelaki yang berstatatsu sebagai suaminya kepada dirinya, dia tahu lelaki itu belum melakukan apapun untuk menyakitinya, tapi rasa sakit itu benar-benar telah menusuk dirinya hingga kini. hanya sebuah ancaman bukan tadi malam, tapi entah mengapa sakitnya begitu terasa.

kakinya menginjak ke ruang makan, sespi ... hanyada ada sepasang manusia yang sedang menikmati sarapan. Dia tidak melihat sosok suaminya di sana, entah kemana perginya. saat terbangun pagi tadi dia tidak melihat ada lelaki itu di ranjang, mungkin beristirahat di kamarnya. begitu melihatnya yang berjalan ke arah meja makan, Nyonya Hasyim menyambutnya dengan senyum lebar.

"Bagaimna kerja hari pertama Aliyah ?"

Belum sempat bokongnya benar-benar duduk di kursi pertanyaan itu keluar dari ayah mertuanya. sembari sesekali melihat ke arah sekelilingnya Aliyah menjawab dengan senyum. seolah mengisyaratkan semuanya baik-baik saja. rasanya masih terlalu lemas untuk beraktifitas, tapi dia tahu bahwa hal tersebut harus dilawanya.

"Baik, Abi."

"Aku dengar kau pulang larut tadi malam. Abi tidak melarang. tapi kau juga harus ingat bahwa kau tidak lagi sendiri nak, kau juga memiliki orang yang harus dirawat dirumah..."

Tuan Hasyim menjeda kalimatnya, melihat ke arah wajah menantunya yang sedikit pucat. sebenarnya lelaki paruh bayah itu juga tidak tega, tapi mendnegar penuturan dari beberapa pelayan rumah bahwa anaknya keluar dari kamar tamu dengan wajah kesal dan debuman pintu yang keras tuan Hasyim memprediksi mungkin ada pertengkaran semalam, sebab itu dirinya tidak menanyakan kemana anak tunggalnya itu, hingga tidak ikut bergabung di meja makan.

Rahasia Hati WanitaWhere stories live. Discover now