Chapther 4

158 6 0


"kau melakukan itu semua itu untuk Kak Afiffah. Bagimna caranya kau mengerti aku ??"

"Apa yang kita harus pertahankan untuk terus bersama ? cinta ? seberapa besar cintamu padaku ??" Elvan diam. Kau tidak mungkin dapat menjawab pertanyaanku itu karena memang tidak ada cintamu untukku. Dan Elvan hanya terdiam seperti orang bodoh. Tidak mampu bergerak seperti patung.

"Apa kau tahu makanan favoritku ? minuman favoritku ? apa hal yang aku paling benci ? apa hal yang paling aku suka. Apa kau tau itu ??"

"..."

"kau tidak bisa menjawab karena kau tidak tahu, selama hampir dua tahun menjalaninya denganmu aku merasa ini benar-benar hambar. Hanya awal yang begitu manis karena aku terbutahkan. Hal yang sekecil itu dari diriku kau tidak pernah tahu. Bagaimana dengan hal-hal lain yang lebih besar ??"

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan ini, menggunakan feeling yang aku yakini untk memilih pintu mana yang merupakan akses untuk keluar dari ruangan ini.

"Gadis bodoh yang diam-diam selalu menonton sichan di akhir pekan."

Tanganku yang tadinya hendak menyentuh ganggang pintu terhenti. Elvan membalik badanku dan menghapus air mata di pipiku dan di sudut mataku. Dia memelukku posesif. Aku hampir terlarut dalam prilakuanya seandainya saja aku membutahkan diri dari kenyataan bahwa dia pandai, pandai menipuku. Dia bisa membuat sebuah pengaturan yang indah, rapi dan seperti sebuah takdir di pertemuan awal jadi untuk mengatur sebuah permainan yang tidak lebih sulit dari itu aku yakin merupakan hal yang mudah baginya.

Dia dapat mengetahui hal-hal yang orang lain tidak ketahui. Sinchan memang kartun yang aku sukai dan tidak semua orang tahu akan itu, Afiffah juga tidak tahu aku menyukai Sinchan. Dari mana dia tahu ? aku tidak pernah tahu tapi setidaknya hal yang aku tahu adalah Elvan orang yang memiliki jangkauan yang sangat luas, hal-hal yang tidak pernah orang lain pikirkan dan sangka akan dilakukanya untuk mengdapatkan dan meraih apa yang diinginkanya. Seperti apapun caranya terasa baik di matanya, tidak peduli bagaimana perasaan orang tersbebut pada akhirnya.

Jika saja aku tidak menanti seperti apa akhir yang dia inginkan sudah pasti aku akan memutuskan hubungan abstrak tampa cinta ini, Melanjutkanya dengan percuma seperti tampa tujuan itu bukan hal yang baik. Sama-sama saling menyakiti.

"Maaf..,"

Aku melepaskan pelukanya dan memilih membuka pintu untuk keluar. Sebelum aku benar-banar keluar dia kembali menarikku ke dalam pelukanya. Elvan memegang daguku memerintahkan aku mentap matanya, aku melihat tatapan teduhnya sekilas, setelah itu mencari objek lain yang lebih menenangkan untuk di pandang. Aku tidak mau tertipu lagi dengan tatapan tedunya.

"maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku meminta maaf untuk semua kesalahanku. Kesalahanku di masa lalu, kesalahanku di masa sekarang dan kesalahanku yang akan terjadi di masa depan. Aku tahu aku tidak bisa menjadi lelaki yang begitu baik untukmu."

"Kesalahan di masa depan seperti apa yang kau maksud kenapa meminta maaf begitu awal ?"

"Aku tidak tahu, tapi aku yakin setiap manusia punya kesalahan, entah itu kesalahan yang besar atau kecil dan di masa depan itu akan terjadi juga. Jadi aku meminta maaf untuk itu."

Apa kau akan mengakui sandiwara ini di masa depan ? mengakui semuanya apa yang kau lakukan di hadapanku. Kau tidak perlu hawatir untuk itu. kau yang memulai El dan kau juga yang harus mengakhirinya dengan caramu sendiri. Seperti apa akhirnya nanti ? apakah kau akan tetap menjalani hubungan terlarang dengan Afiffah saat meskipun statusnya telah berubah menjadi bagian dari keluarga besar Al-Hasyim, atau mengakhirinya dan juga meninggalkan aku yang tak ada lagi bermanfaat untukmu. Aku menunggu itu, menunggu akhir drama yang kau mainkan.

Rahasia Hati WanitaWhere stories live. Discover now