Chapther 5

135 7 0


Hope You Enjoy in this Story...

***

Kakiku lemas, aku merasa tidak akan bisa menopang berat tubuhku lagi. Butir-butir air itu jatuh begitu deras, rasa sesak di dadaku membuatku sulit bernafas dalam keadaan menangis. Aku jatuh duduk di depan karpet merah ketika ayah terjatuh dan moment ini kembali menjadi bulan-bulanan wartawan mereka terlihat bahagia diatas penderitaanku karena mereka mendaptkan berita yang luar biasa dan pasti akan menjadi headline di seluruh negeri ini.

"Tidak..." aku menoleh kea rah suara teriakan Ibu dan mendapati Ayah jatuh tak sadarkan diri di lantai Masjid yang berada tidak jauh dari altar. Aku ingin berlari memeluknya tapi itu hanya sekedar keinginan bagaimana bisa itu terjadi sedangkan untuk berdiri saja aku tidak mampu. Perhatian wartawan teralih kea rah Ayah, mengambil gambar Ayah dengan membabi buta. tidak bisakah mereka berhenti melakukan itu dan menolong Ayahku yang tidak sadarkan diri.

Refal beranjak begitu saja, meninggalkanku di atasa altar dan kekacauan yang terjadi. Dari atas sini aku dapat melihatnya yang berjalan keluar arah masjid, tampa sedikitpun peduli dengan Ayah yang tergeletak tidak sadarkan diri. Security akhirnya bertindak membopong Ayah menuju ke areah luar masjid, Ibu mengekor di belakang diikuti dari keluarga Al Hasyim, ayah dan ibu dari ayah Ibu refal yang aku tidak tahu bagaimana aku sekarang harus memanggil mereka, apakah aku harus mengatakan mereka sebagai Ibu mertua, aku bahkan tidak yakin saat aku belum menanda tangani buku nikahku. tapi akad telah terucap, dan aku tahu ketiak saksi telah mengikrarkan kata sah maka di saat itu juga statusku telah berbalik, aku bukan wanita singel lagi.

Seseorang membantuku berdiri, dia mampu menahan tubuhku yang terasa berat untuk diriku sendiri dan sering kali aku terhuyung seperti akan terjatuh. Dia memelukku erat, begitu erat dan menepuk-nepuk punggungku, menenangkanku. Lizy mencoba menghalangi beberapa wartawan yang sedari tadi masih mengambil gambarku. undangan yang hadir banyak yang meninggalkan area dalam masjid begitu Ayah di bawah oleh pihak security tapi sebagian masih memilih bertahan. Bukan hanya wartawan yang mengabadikan momentat mengerikan ini tapi beberapa undangan sibuk mengarahkan kamareanya ke arahku, apakah ini terlihat benar-benar menyenangkan untuk mereka.

Lizy membawahku pergi dari Masjid ini, di luar situasi tidak lebih baik. keramaian yang berlebihan dan bisikan-bisikan keras yang sengajah di perkeras untuk menyinggungku. situasi ini tidak mereka pahami, mereka tidak tahu apa yang terjadi, begitu dengan diriku aku tidak tahu mengapa ayah sampai tidak sadrkan diri seperti itu.

"Sepertinya Ayahnya tidak tahu apa yang terjadi, Hingga tidak sadarkan diri. "

aku mendnegar dengan sangat jelas apa yang mereka ungkapkan, mereka berfikir bahwa Ayah tidak memahami situasi yang terjadi mengaa aku di sini menggantikan Afiffah, dan aku hanya bisa tersenyum Miris akan hal itu. mengapa mereka merasa tahu segalanya

"Jaga ucapanmu."

Aku meremas lengan Lizy yang membantuku untuk meninggalkan area masjid, aku tidak ingin dia menanggapi celotehan orang-orang dan akan memperkeru suasana jika oang tesebut terpancing emosi.

Kami naik di Van yang tadi membawah kami datang ke tempat ini. Lizy memerintahkan pengemudia Van untuk membawah kami ke Rumah Sakit tempat Ayahku di larikan. Dengan kecepatan di atas rata-rata Van itu meninggalkan area masjid, pergi ke rumah sakit Cipto mangun Kusumo. Di tenga-tengah perjalanan Lizy membersihkan wajahku dari polesan makeup. Lalu kembali memberiku makeup yang natural. Dia mencabut renda ekor gaun sehingga gaun ini tidak terlihat lagi mewah. dia memperlihatkan wajahku di cermin, aku tidak terlihat seberantakan tadi. Tidak lupa dia memberiku tissue untuk menyekah air mataku yang tidak berhenti keluar.

"Setelah ini kau tidak boleh lemah, dan belajar menjadi batu hanya setenga-setenga kau harus benar-benar sekuat batu dalam sekali hentakan. Kejadian ini memerintahkanmu untuk tidak diam begitu saja, jadilah batu yang sangat keras melebihi kerasnya baja."

Rahasia Hati WanitaWhere stories live. Discover now