BAB 1 | Dua Pemuda

435 134 82
                                    

Kamu yang tersesat di temaramnya masa lalu, lihatlah! Aku disini. Tidakkah kau ingin menyapaku dan menanyakan kabarku?

-Anonim-

Adakah aksara antara rasa dan jarak?

~SOMEONE YOU LOVED~

Bug!

Bug!

Dua bogeman sekaligus berhasil mendarat sempurna di tubuh pemuda berponi itu, gurat sakit begitu menguar dari ekspresi yang diperlihatkannya.

Merasa ditindas, pemuda berponi itu menendang perut si pemukul menjauh.

"Kakak gue nggak sepenuhnya salah!" Teriaknya sembari memegangi perut.

Si pemukul yang tengah tersungkur tersenyum sinis, "Omong kosong!" dirinya kembali bangun dan menendang dada sang pemuda tanpa perlawanan. Pemuda itu tersungkur.

"Pembelaan lo itu nggak masuk akal! Sampai kapanpun, gue akan tetep nuntut keadilan dari kesalahan kakak lo, bajingan!"

Setelah mengatakannya laki-laki itu mengendarai motor yang terparkir tak jauh dari tempatnya adu jotos barusan. Membiarkan pemuda berponi tersungkur di jalanan selayaknya korban dari perbuatan yang tak berperikemanusiaan.

Motor itu melesat cepat membelah aspal berembun malam, jalanan kota metropolitan ini tak menunjukkan suasana sepi sekalipun larutnya malam membelenggu semua insan tuk memejamkan mata guna meluruhkan semua lelah yang ada.

Dari balik helm, danau itu kembali mengubangi pelupuk elangnya. Sesak di sudut hatinya begitu sarat akan kerinduan dan luka. Semesta begitu tega merajamnya begitu dalam, jika bisa memilih, maka dirinya lebih baik mati daripada harus hidup dalam belenggu luka ini. Entah sampai kapan dirinya akan mampu bertahan dengan keadaan. Iya, keadaan yang seolah tak pernah merestuinya untuk bertahan.

Motornya berhenti di depan sebuah rumah kecil minimalis di kiri jalan yang jauh dari jalan raya dan pemukiman. Memarkir motor dan membuka pintu rumah adalah hal yang dilakukannya untuk kemudian gelap kembali menyapa.

Dinyalakannya saklar lampu yang terletak di samping pintu, potret itu kembali tersenyum padanya.

Rumah ini hanya berisikan sebuah foto berukuran sangat besar yang menghadap pintu utama. Layaknya gudang, tidak ada perabotan rumah satupun yang mengisi kekosongan.

Gadis itu tersenyum padanya, sangat manis. Iya, potret yang berisikan seorang gadis berambut sebahu dengan dirinya yang berada disampingnya. Keduanya nampak tersenyum bahagia.

Kenangan begitu menyiksa, hanya dengan melihat potret itu luka dalam hatinya kembali menganga lebar, menyisakan kegetiran yang begitu memilukan.

Tubuh itu terjatuh, hisakan tangis terdengar samar. Dimanakah dirinya yang brutal? Dimanakah dirinya yang tak memiliki nurani?

Selalu, dan akan selalu seperti ini. Malam yang dirinya lewati tak lebih dari sekedar labirin keputusasaan yang menjebak. Ingin berkata lelah, namun realita yang tak ingin membuatnya mengalah. Realita jika dirinya masih menginginkannya.

Lihatlah, dirinya begitu rapuh.

Dipandangnya potret itu penuh luapan air mata, "Rania... " pelan dirinya menyebut nama gadis yang selalu hatinya gugu dalam sadar maupun tak sadar. Sekarang, sudikah semesta berbelas kasih mengobati luka itu?

~SOMEONE YOU LOVED~

Jauh dari tenangnya kelas pagi para siswa kelas 12 SMA Internasional Dwi Marga, di ruang guru yang hanya menyisakan empat orang itu nampak gusar. Dimana seorang gadis dengan rok selutut berwarna cokelat sekaligus atasan putih terlihat begitu memperhatikan bagaimana Bu Niswa menjelaskan mengenai tes yang akan dia lakukan besok untuk dirinya sebagai siswa baru.

Someone You LovedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang