SECANGKIR MALAM

4.2K 151 23
                                        

Malam sedang memuncak tatkala pemuda urakan tengah terdampar dalam ruang sunyi, bersama secangkir kopi, lembar kertas, dan pena tua warisan kakek.

Perlahan-lahan, kian lama kian merambat.

Seperti biasa. Ia selalu punya dunianya sendiri, imajinya sendiri yang tak seorangpun bisa mewarisi.

Katakanlah pemikiran adalah dunia paling luas, itu menjadikan ia merasa kian bebas. Seseorang yang tidak pernah punya kecemasan pada masa depan. Baginya, masa depan itu tak pernah ada, semua sedang terjadi saat ini.

Ringga bukan orang yang penuh ambisi atau penuh rencana tentang hidupnya sendiri. Mungkin ia menginginkan hidup yang tidak sama dengan orang kebanyakan.

Kemudian,  dipahatkan olehnya tinta di atas lembar putih dengan tulisan "Secangkir malam" sebagai jalan untuk bercerita tentang sedikit dirinya:

***

Aku bahagia karena Aku merasa bebas. Kebebasan yang tentunya menjadi keinginan semua orang.

Tidak. Tidak sama sekali.

Bukan karena Aku punya kehidupan sempurna, tapi sebaliknya. Justru karena ketidaksempurnaan itu Aku menikmati petualangan menjadi manusia di bumi.

Bagiku, hidup adalah perjalanan panjang yang menyenangkan dan Bumi adalah tempat bermain alien yang bernama manusia. Semakin jauh kaki melangkah, indah kehidupan semakin benar-benar nyata.

Tidak semua orang berhak bahagia, kecuali orang-orang yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Menurutku, orang yang penuh pura-pura tidak layak bahagia dan tidak akan merasakan kebahagiaan.

Kadangkala aku berpikir, segala keterpaksaan dan kepalsuan tidak akan membuat siapapun dalam keadaan baik-baik saja.

Aku bersyukur telah terlahir dari rahim seorang wanita perkasa, wanita yang selalu Aku panggil dengan sebutan Bunda. Terlebih lagi ketika Aku merasa kesyukuran itu semakin bertambah, dimana ketika Aku bisa melahirkan diriku sendiri.

Hidup memang pilihan, hanya dua: bahagia atau tidak bahagia. Pura-pura bahagia bukanlah pilihan.

Maksudku, Aku tidak ingin menjadi manusia bajakan, manusia yang mencontek kehidupan orang lain. Aku bukan mesin fotocopy yang baik, bukan pula peniru yang baik, dan bukan juga pengagum yang baik. Sederhana, Aku adalah diriku.

Aku mengagumi banyak orang. Aku mengagumi semua nabi dan sebagian tokoh dunia, dari Adam AS sampai Muhammad Saw atau Adolf Hitler dan Bung Karno --- masih banyak lagi. Tapi pengagum yang bijak adalah tidak harus menjadi duplikat sosok yang dikaguminya, bukan?

Semua memiliki hak yang sama untuk memilih jalan hidupnya sendiri,  memilih bahagia atau ketidakbahagiaannya sendiri, dan Aku memilih menjadi seperti ini --- apa adanya; mengendalikan kebenaran yang ada dalam diriku sendiri, bukan kebenaran menurut orang lain.

Memang, Aku adalah salah satu makhluk paling egois di dunia. Aku bukan anak penurut bagi kedua orang tua. Bukan murid yang baik bagi gurunya.

Ketika Ayah dan Bunda menyekolahkan Aku agar bisa dapat ijazah untuk suatu saat bekerja dengan gaji besar. Aku memilih sekolah untuk agar Aku bisa menjadi manusia yang berguna, bukan menjadi mesin uang yang tidak memberi sepersen pun jaminan kebahagiaan.

Aku minta maaf pada mereka jika dianggapnya Aku membangkang, tapi sekali lagi, Aku terlalu egois, selalu melakukan apa yang menurutku benar.

Ketika guru mendidik dengan sistem pendidikan yang menakar kecerdasan dengan nilai. Aku memilih menjadi murid yang bodoh. Bukan apa-apa, sesungguhnya jiwa ini berontak tak sepaham. Bagiku, guru bertugas untuk mendidik bukan memberi nilai. Lagi pula, Aku memang sudah terlanjur benci dengan aturan pendidikan yang terlalu banyak formalitas.

Kendati mereka berdalih bahwa itu pendidikan akhlak dan moral. Mungkin guru tidak pernah tahu, bagaimana murid-muridnya mencaci mereka dari belakang ketika rambut panjang dan kaki baju diluar di anggap bentuk pelanggaran.

Itukah keberhasilan sistem pendidikan akhlak dan moral ? Terkadang, kami murid melampauhi batas --- menjadi pelajar yang kurang ajar.

Maafkan kami, Guru! Kami hanya berusaha mengingatkan bukan menghakimi.

Namun, meskipun banyak perbedaan dan ketidaksepemahaman. Aku tidak pernah membenci mereka. Mereka tetap andil dalam petualanganku. Aku memahami, bahwa semua tempat adalah sekolah dan semua makhluk adalah guru. Tidak hanya pada yang benar kita belajar, terkadang kita harus belajar dari kesalahan.

Yah! Itulah Aku yang penuh ego. Ego tidak ingin membenci dan menghakimi orang lain. Aku terlalu ego karena perduli dengan semua penghuni semesta.

Satu kata kunci dalam hidupku: Bebas!

Dengan dan bersama kebebasan Aku merasa tidak perlu khwatir dan cemas tentang penilaian orang lain. Seringkali renungan membawaku merasa, bahwa Aku hidup untuk siapapun, bahkan yang tidak menghendaki keberadaanku.

Aku selalu percaya diri, bahwa semua penjuru semesta adalah rumah bagiku, semua makhluk adalah kawan bagiku. Aku tidak pernah takut untuk dibenci, karena Aku tidak pernah belajar membenci.

Bumi hanya taman bermain yang indah, semuanya hanya perlu di nikmati. Seperti halnya secangkir malam, Aku hanya ingin tenggelam dalam sunyi; menenangkan sejenak jiwa, membersihkan kekotoran yang melekat pada hati, mengasah pemikiran yang tumpul.

Lalu dan semoga, setiap kali Aku terlahir kembali, Aku akan semakin bebas. Aku ingin menjadi manusia yang lebih utuh.

Mari merenung untuk lahir kembali dan mari menulis agar abadi.

DISKUSI ANAK MUDAStories to obsess over. Discover now