Part 10

21.5K 648 15
                                        

      Olla everybody readers, I'm come back masih membawa cerita Lilianne dan Dean.. Maaf ya kalau uda nunggu lama maklum Author lagi UTS makasih buat yang uda nunggu cerita ini. Vote dan Comment ditunggu loh ^_^

G pke lama ini dia The cherrys-Book of Lilianne part10.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah mengantarku pulang Dean langsung pergi. Kepergiannya menimbulkan rasa hampa yang tiba-tiba di hatiku. Aku naik ke kamarku,berhadapan dengan cermin di meja rias tanganku yang awalnya sibuk membersihkan make-up kemudian tanganku terhenti teringat akan kata-kata yang diucapkan oleh Dean.

            " Lilianne Cherrys aku telah jatuh cinta padamu saat pertemuan pertama tidak bisakah kamu membuka hatimu untukku. Jika kamu belum siap untuk mencintaiku seperti aku mencintaimu tidak apa-apa. Tapi bukalah hatimu supaya aku dapat membuktikan aku mencintaimu."

Oh my.. oh my.. aku seperti sedang terbang tinggi tapi disuatu sisi aku takut jika aku terbang terlalu tinggi saat terjatuh akan lebih sakit. Seperti mencintai Dean aku tidak berani untuk mencintai laki-laki yang hampir sempurna yang menjadi incaran setiap wanita london tapi aku juga tidak bisa berbohong entah sejak kapan cinta itu menelusup dan sekarang telah berakar.

            Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, setelah selesai membersihkan make up dan berganti baju aku turun untuk membuka pintu. Oh god.. aku menyesal telah dengan terburu-buru menuruni tangga jika yang ada di balik pintu si bajingan itu. Aku membuka celah di pintu sedikit supaya hanya kepalaku saja yang terlihat dan supaya dia tidak masuk kedalam saat aku sedang sendirian.

            " Kenapa kamu kemari huh?" kataku dengan sebal dan tatapan mematikan

            " Lilianne kembali padaku" katanya dengan nada bergetar

            " Kau benar-benar laki-laki idiot yang berengsek."

            " Kau boleh mengataiku apapun yang kau mau tapi kembalilah.."

Dia mendorong pintunya dengan keras sehingga tubuhku menatap dinding belakang pintu dan dia masuk. Dia semakin memojokan aku sehingga sedikit ruang untukku bergerak.

            " Lilianne,aku merindukanmu"

Oh,my.. mulutnya beraroma alkohol dan dia menyerangku dengan menciumi leherku dan mencoba mencium bibirku tapi aku berusaha mengelak. Oh.. no aku mencoba mengingat kembali pelajaran bela diri yang dulu aku ikuti bersama Emma tapi otakku sedang keadaan off karena ketakutan yang ku ingat hanya injak kaki. Tapi sepertinya itu tidak berdampak banyak,ia hanya meringis sebentar bahkan tidak beranjak sedikitpun dariku. Aku berusaha mendorong dadanya sekuat tenaga terasa percuma. Hingga terdengar mobil Emma terparkir dihalaman depan.

            " Emma ... Em.. tolong aku.." " tolong.." Seketika teriakanku berganti dengan kata-kata yang tidak jelas. Entah bagaimana caranya akhirnya dia mendapatkan bibirku.

            Terasa pintu terbuka tapi tidak bisa terbuka dengan lebar karena terganjal antara tubuhku dan James. Emma masuk melalui celah tersebut dan disusul oleh Ge. Ge yang melihat aku terpojok menarik James untuk menjauh dariku yang sudah menangis,Ge memukuli James berkali-kali bahkan saat James sudah terjatuh dan babak belur Ge tidak peduli. Kaos yang aku pakai sudah sobek karena paksaan James tadi. Emma menarikku ke dapur dan menutupi pakaianku dengan jaketnya. Badanku masih gemetaran karena ketakutan James benar-benar sudah gila. Ge datang dengan wajah sedikit terluka. Tanpa banyak bicara Ge pergi ke dapur,membuat segelas teh dan diberikan padaku.

            " Minumlah.." hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Setelah sesenggukanku berhenti dan aku berubah menjadi tenang,Ge mulai berbicara padaku.

            " Sebenarnya apa yang terjadi?"

            " Aku tidak tahu,dia tiba-tiba sudah berada di sini saat aku ingin menutup pintu kembali dia mendorong tubuhku dan memojokanku dengan badannya."

            " Tapi kau tidak apa-apakan,sist?" tanya Emma

            " Kurasa aku hanya sedikit syok dan teringat.."

            " Bagaimana kalau kalian tinggal di apartemenku? Aku takut tiba-tiba dia kesini lagi dan menyerangmu atau Emma."

            " Terimakasih atas tawarannya tapi aku rasa tidak perlu."

            " Lilianne, ini bukan hanya masalahmu saja tapi Emma juga aku takut dia berubah menjadi nekat dan akan melukaimu dan Emma."

            " Jika kami tinggal di apartemenmu kamu akan tinggal dimana?" tanya Emma

            " Aku bisa tinggal dengan Albert,lagipula apartemen itu lebih sering kosong karena aku lebih sering bermalam di apartemen albert."

            Aku sangat..sangat mengenal Emma dan aku tahu dia sedang ada masalah karena wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih. Aku meletakan tanganku ke lengannya dan lebih merapatkan tubuhku dengannya supaya dia tahu aku sedang memberi kekuatan padanya meski aku belum sepenuhnya pulih dari syok tadi.

            "Kami akan memikirkannya "

            "Ok.. Kurasa aku harus pulang. Aku tunggu jawabannya dan ladies kalian bisa menelponku kapan saja saat bajingan itu kembali."

Ge memeluk tubuhku dan mencium pipiku kemudian dia juga melakukan hal yang sama pada Emma. Tahap introgasipun dimulai...

            " Emm.. jika kamu ada masalah,kamu bisa menceritakan padaku"

            " Aku tidak punya masalah sedikitpun"

            "Don't be liar Emm.. I'm your sister"

            " Okay,aku jatuh cinta"

            " Jatuh cinta? bukankah itu kabar baik."

            " Yep.. Kabar baik jika orang itu dapat membalasnya tapi kenyataannya dia bahkan tidak menganggapku sama sekali."

            "Ooh.. Emm,dia pasti laki-laki terbodoh yang pernah kau temui karena menolak gadis sepertimu." Aku memeluknya dan mengusap punggungnya.

------------------------------------------------------------------------------------------

the Cherrys- book of lilianneWhere stories live. Discover now