Tigapuluhdelapan : Pasar Malam

2.1K 130 2
                                    

Brian sudah beberapa kali mengejar kucing yang katanya namanya Moka itu. Dan pada saat tangkapan ke 8, Brian berhasil menangkapnya.

"Nih." Ucap Brian sambil menyerahkan kucing jadi-jadian itu ke tangan Alya. Alya hanya nyengir watados.

"Makasih ya, lo baik banget ihh!" Ucapnya gemas sebelum pergi meninggalkan rumah Oma.

Oma datang dari dalam sambil membawa dua piring spaghetti, "Alya mana?" Tanya Oma menatap Brian penuh tanda tanya.

"Udah pulang tadi sama kucingnya." Ucap Brian santai. "Itu sphagetti buat aku Ma?" Tanya Brian penuh harap.

"Iya sih buat kamu tadi sama Alyan berhubung Alya gak ada kamu kasih aja buat Clara." Ucap Oma. Dan mata Brian langsung berbinar.

"Brian ke rumah Clara dulu ya Ma!" Pamit Brian sambil membawa dua piring sphagetti ke rumah Clara.

Kebetulan saat itu Clara sedang menyiram tanaman dengan kesal, dan Oma melihat Clara dengan cekikikannya.

Begitu Oma berlalu dari ambang pintu, Brian pun sudah ada di samping Clara, "Ra?" Ucap Brian.

Clara menolehkan kepalanya lalu mengusap dadanya pelan, Clara mematikan keran airnya lalu tersenyum, "Kenapa?"

Brian menjadi kikuk sendiri, "Gue bawa... sphagetti buat lo. Dari Oma." Ucap Brian sambil memberi piring satu lagi.

Clara menatap piring dihadapan nya dengan mata berbinar, "Makasih banyan lho Brian! Gagal kurusan gue di Bandung." Ucapnya.

"Lo mau kurus atau nggak juga cantik kok." Celutuk Brian dan membuat Clara melongo hebat.

Brian menyadari kebodohannya, "Ra gimana kalo kita makan sphagetti nya di tangga teras rumah lo aja?" Tanya Brian.

Clara hanya mengangguk lalu duduk di tangga teras dan disusul oleh Brian. Mereka makan dalam keadaan hening sampai pada akhirnya Brian memecahkan keheningan.

"Enak gak sphagetti nya?" Tanya Brian.

"Enak kok. Oma Wati jago ya." Ucap Clara sambil mengunyah makanannya.

"Lo masih jomblo aja Ra?" Tanya Brian tiba-tiba dan membuat Clara bingung.

"Ya... seperti yang lo liat." Ucap Clara. "Gak akan ada yang ngelirik gue sekalipun, gue cuma pecundang dunia yang... lupain aja." Ucap Clara dengan senyumnya.

Brian heran dengan gadis yang ada di depannya ini, "Lo bukan pecundang dunia." Bantah Brian matanya lurus menatap langit-langit.

"Lo itu cuma manusia yang melakukan kesalahan, dan lo pantang menyerah dan menganggap bahwa lo itu pecundang dunia." Tambah Brian.

"Gue tau. Lo sebenernya nyesel pernah ngungkapin kata-kata yang sebenarnya gak lo inginkan dan gak gue inginkan. Tapi kita sama-sama egois. Hingga hati nurani kita terhalang oleh ego kita." Batin Brian.

"Gue..." ucap Clara tertahan, "Gue emang manusia paling bodoh di dunia." Tambahnya. Lalu ia memalingkan wajahnya ke arah Brian.

Bibirnya menyunggingkan senyum, "Maaf." Ucapnya pada Brian lalu memakan makanan nya lagi.

Brian tahu. Kalau Clara sedang menyesalinya.

×××

Malam ini Brian menjemput Clara, "Kamu? Dekat dengan Clara?" Tanya Oma Risma yang berdiri di ambang pintu.

Brian beranjak dari duduknya lalu menyalami Oma Risma, "Saya... Dekat sebagai teman Oma." Ucap Brian sopan.

Oma Risma hanya tersenyum lalu berkata, "Padahal kau dengan cucuku sangat cocok sekali. Kenapa kalian tidak menjalin hubungan asmara? Hm." Ucap Oma Risma.

Brian jadi gugup begini, di introgasi oleh Oma nya Clara, andai mereka belum putus mungkin Brian bisa mengaku bahwa dirinya kekasih Clara sekarang ini.

"Anu Ma... saya---" ucapan Brian terhenti saat ada teriakan dari seorang perempuan.

"Oma, aku berangkat dulu Assalamualaikum." Ucap Clara lalu menyalami Oma. "Ayo Brian. Nanti keburu malem." Ucap Clara sambil mengedipkan sebelah matanya.

Brian tersadar lalu tersenyum, "Oma saya pinjam Clara dulu." Ucap Brian. Oma hanya tersenyum lalu berseru.

"Jangan malam-malam." Serunya, kini Clara sudah di bonceng oleh Brian untuk ke Pasar Malam.

"Huh... selamat." Gumam Clara, Brian malam ini sedikit kecewa saat Clara tidak memeluk pinggangnya, namun bertahan pada kedua bahu Brian.

Brian memilih diam ketimbang menanyakan 'Selamat apanya?' Karena Brian tidak ingin kehabisan suaranya hanya untuk menjawab perkataan 'Hah?' Dari Clara yang telinga kurang mengkondisikan.

Brian memparkirkan motornya di tempat parkiran. Clara melepas helm Brian itu dan memberikannya.

"Rame banget. Hmmm." Gumam Clara, lalu Brian menarik tangannya secara tiba-tiba dan membawa nya masuk ke Pasar Malam.

"Dari minggu lalu gue pengen ajak lo kesini. Tapi baru kesampaian." Ucap Brian alih-alih tersenyum saat Clara tersipu malu.

"Lo liat disana?" Tunjuk Brian mengarah pada Bianglala kecil yang dihiasa berbagai lampu. Clara mengangguk antusias.

"Kalo kita naik itu. Dan kita ada di urutan teratas. Lo bakal liat pemandangan yang indah banget." Ucap Brian.

Clara hanya mengangguk-anggukan kepalanya, "Mau naik?" Tawar Brian. Clara berpikir sejenak dan akhirnya Clara setuju.

Mereka berdua lalu menghampiri penjaga bianglala kecil itu dan penjaga itu membukakan pintu satu tempat bianglala itu.

"Lo gak takut ketinggian kan?" Tanya Brian. Clara menggeleng kecil lalu tersenyum.

"Nggak." Ucapnya. Padahal Clara berbohong. Tapi Clara mendeskripsikan bahwa bianglala sederhana ini tidak terlalu tinggi.

Clara menatap kagum saat bianglala terus berputar dan akhirnya bagian mereka di paling atas. Clara sedikit terlonjak saat melihat kebawah.

Brian nampak biasa saja sambil melihat pemandangan di malam hari ini, "Gue takut." Gumam Clara.

Brian yang tersadar pun langsung memegang kedua bahu Clara, "Lo kenapa? Takut?" Tanya Brian dan Clara mengangguk.

Brian langsung memeluk Clara erat, "Lo tenang aja. Jangan liat ke bawah. Tapi liat ke atas lo, pemandangan malam hari ini mendeskripsikan keadaan lo." Ucap Brian. Lalu melepaskan pelukannya.

Clara menurut lalu melihat ke atas langit dan disana hanya ada satu bintang dan satu bulan. Mana ada bulan dua...

"Gue gak ngerti maksud lo." Ucap Clara polos dan hampir membuat Brian tertawa.

"Lo itu ibaratkan bintang yang lagi sendirian. Lo merasa takut dan kesepian, tapi Bulan. Dia akan selalu ada buat lo. Kaya gue. Gue akan selalu ada buat lo, jadi jangan pernah merasa takut." Jelas Brian.

Tak bisa di sembunyikan lagi senyuman yang terukir di bibirnya. "Clara denger gue." Ucap Brian memegang kedua bahu Clara.

"Gue sayang sama lo. Gue gak mau kehilangan lo lagi. Gue pengen kita kaya dulu lagi. Gue pengen kita balikan lagi." Ucap Brian.

Kedua nya hening. Nafas mereka beradu di atas bianglala di malam hari ini.

"Gu..gue belum bisa kasih jawaban sekarang. Kaya nya besok gue jawab deh." Ucap Clara nyengir kuda.

"Gak papa. Asal dijawab. Tapi jawabannya jangan bikin sakit hati." Ucap Brian. Dan mereka tertawa.

Lalu bianglala pun bergerak lagi dan mereka menikmati malam ini dengan senyuman yang merekah.

///

Stay with my story💚💚💚💚💚💚

Return In Feelings✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang