9 - Sesak

984 77 4
                                    

Happy Reading ^^

___________

Kinar menghempaskan tubuhnya di sofa putih ruang tengah rumahnya. Setelah kejadian ia tak sadarkan diri yang ia tak tahu sebabnya apa tadi, teman-temannya tak jadi nonton dan malah sibuk mengantarnya pulang. Bahkan beberapa diantara mereka menawarkan Kinar untuk check-up di rumah sakit milik keluarga mereka. Ya, teman-teman Kinar memang hampir seluruhnya anak orang-orang berada.

Kinar memijat pelipisnya pelan. Ia merasa tidak enak dengan teman-temannya. Karena dirinya, mereka tidak jadi nonton dan hangout seperti apa yang mereka rencanakan sebelumnya.

Kinar memikirkan rencana, kira-kira kapan ia akan mengajak teman-temannya nonton lagi sebagai ganti dari hari ini.

"Kinara, minum."

Suara Nafla disertai dengan suara gelas kaca yang bersentuhan dengan meja membuyarkan semua lamunan Kinar tentang rencana yang tengah ia susun.

Kinar tersenyum tipis, lalu mengambil gelas itu. "Makasih, Kak." Ujarnya. Kemudian ia meminum teh hangat yang dibuatkan Nafla untuknya.

Kinar menaruh gelasnya di meja, lalu menatap Nafla yang menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.

Kinar mengerutkan kening, "Kenapa sih, Kak?" Tanya Kinar heran.

Nafla menggelengkan kepalanya, "Gak papa." Jawabnya singkat. Kemudian gadis itu mengalihkan pandangan ke lukisan karya pelukis Raden Saleh yang tergantung di dinding rumah Kinar, dan langsung terlarut dengan fikirannya sendiri.

__________

Devo memasuki rumahnya dengan santai. Matanya menyipit ketika ia melihat Ayah, Ibu, dan Devan sedang makan bersama di ruang makan. Ada rasa hangat yang menjalari hatinya. Ia ingin tersenyum, namun ia tahan. Dengan wajah datarnya, ia berjalan melewati ruang makan.

"Vo, gak ikut makan malem?" Suara Ibunya sukses membuat langkahnya terhenti. Ia membalikkan badan dan berjalan pelan menuju meja makan. Ia menarik kursi di sebelah kursi Devan.

Tanpa bersuara, ia mengambil piring dan menyendok nasi, kemudian mengambil lauk dan mulai makan dengan pelan. Sesekali ia melirik Devan, Ibu, dan Ayahnya yang sedang mengobrol seperti layaknya keluarga normal di luar sana.

Devo menelungkupkan garpu dan sendoknya di atas piringnya. Ia mengusap mulutnya dengan sapu tangan, lalu menatap Ibu dan Ayahnya bergantian.

"Sebenarnya ada apa?" Tanya Devo langsung, tanpa ba-bi-bu. Jelas ia merasa aneh. Kemarin Ibu dan Ayahnya bertengkar, dan hari ini mereka dengan santainya makan malam bersama seperti tak pernah terjadi apapun?

Nadia, Ibunya menghela nafas pelan, lalu tersenyum, "Kamu memang selalu tau ya, Vo kalau ada yang nggak beres..," ujarnya.

Devo hanya menampilkan ekspresi acuh tak acuh khasnya, sambil mengedikkan bahunya.

Theo, Ayahnya angkat bicara, "Sebenarnya ada yang mau kami bicarakan dengan kamu, Vo. Tadi kami sudah bicara dengan Devan..,"

"To the point aja," Devo memotong dengan tak sabar.

"Ayah dan Ibu sudah memutuskan..," Nadia menggantungkan kalimatnya. Devo menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat selanjutnya.

"Kami memutuskan akan berpisah," Theo melanjutkan. Devo merasakan jantungnya mencelos. Ia sudah menyangka hari ini akan terjadi, tapi kenapa ia tetap merasa seperti ini?

Nadia mengangguk, "Iya, dan Devan akan melanjutkan sekolahnya di sekolah normal..," ujarnya dengan raut bahagia.

"Lalu apa yang bikin kalian seneng?"

Daddy(?) [ON HOLD]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang