7 - Luka (1)

1.4K 102 11
                                    

WARNING!!
PART INI TERDAPAT KATA-KATA KASAR!
YANG TIDAK NYAMAN SAMA KONTEN TSB YO GAUSA DIBACA:V YANG MASI MAU BACA YA MONGGO DIBACA TAPI NO BULLY SOALNYA UDAH AKU PERINGATIN.
BE A SMART READERS YA GUYS TQ

Happy Reading^^

___________

Ivan berjalan dengan santai di sebuah mall di pusat kota. Ia tak menghiraukan tatapan tertarik para wanita yang berpapasan dengannya. Langkahnya terhenti di depan sebuah distro dengan nuansa klasik namun ada sedikit nuansa punk.

Ivan mendorong pintu distro itu, dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan seorang pria bermata hijau terang.

Pria itu menyipitkan mata sejenak, memperhatikan Ivan dari atas ke bawah.

"Lo lupa sama gua, Raf?" Ivan mengerutkan alis melihat tatapan heran Rafa.

Rafa mempertahankan ekspresinya itu, lalu kemudian ia tertawa keras.

Ivan cengo beberapa detik, namun kemudian ia tersenyum dan menghampiri temannya itu. Rafa langsung berdiri dan memeluk Ivan.

"Gua gaakan bisa lupa sama setan kayak elo, Van," ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung Ivan.

"Sesama setan gausa saling mengejek," sahut Ivan sambil tertawa.

Mereka tertawa bersama, lalu Ivan melepaskan pelukan mereka. "Apa kabar, Bro? Udah nikah?" tanya Ivan sedikit bergurau.

"Baekkk. Wehh lo jangan ngejek gua. Emang lo sendiri udah nikah?" balas Rafa sambil menyunggingkan senyum jahil.

"Rese. Pertanyaan gua malah dibalikin." Ivan memukul bahu Rafa, lalu mereka tertawa bersama.

"Oh iya, Van. Gimana si itu?" Tanya Rafa setelah mereka berhenti tertawa. Ivan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Rafa.

"Si itu? Who?"

Rafa berdecak. "Elah sok pilon lu. Kinara lho. Masih kondisi kayak dulu atau gimanaa?" tanya Rafa gemas.

Ivan ber-oh panjang, kemudian menjawab, "Masih kayak dulu."

"Masih kayak dulu? Lo belum bilang yang sebenernya?" Tanya Rafa sambil membelalakkan matanya.

Ivan menggeleng pelan, "Belum, Raf. Gue takut dia bakal ninggalin gue begitu tau yang sebenernya," jawab Ivan pelan.

Rafa menepuk dahinya. Sahabatnya ini tak pernah berubah.

"Terus kalo lo gak ngasih tau dan dia denger dari orang lain, lo kefikir gak dia marahnya bakal kayak apa?" Rafa berujar sambil menatap mata Ivan.

Ivan mendesah frustasi, "Gua bakal ngasih tau, Raf. Tapi.. Gak sekarang..," desisnya pelan.

"Terus kapan, Van? Gua denger dari Bara kalau dia nanyain Mamanya terus. Mau sampe kapan sih, Van? Lo gak takut tiba-tiba dia nyari tau sendiri?" tanya Rafa.

Ivan menunduk, lalu menggigit bibir bawahnya pelan. Ia melangkah menuju ke kursi yang ada di distro milik Rafa, kemudian memijat pelipisnya. Rafa duduk di seberang Ivan.

Dengan perlahan, Rafa menepuk paha Ivan. "Gini, Van. Lo harus ngasih tau ke dia cepat atau lambat. Dia harus tau yang sebenarnya. Itu hak dia. Lo gak bisa nyembunyiin ini terus. Kinara bukan anak kecil, Van. Dia bisa aja nyari tau sendiri. Akibatnya bisa lebih gawat, Van. Jadi, kalau lo gak mau kehilangan dia, lebih baik lo kasih tau kebenarannya sesegera mungkin. Dia pasti marah, Van. Pasti. Tapi kemarahan itu gak akan sebesar kemarahan kalo dia nyari tau sendiri. Lo ngerti kan?"

Daddy(?) [ON HOLD]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang