Bismillahirrahmanirrahim.
Hai, assalamualaikum 👋🏻
Selamat datang di cerita Heart And Faith, betah yaa💜
Harap menjaga tutur kata saat berkomentar yaa manis🫶🏻
Happy Reading!
"Kamu mau mengikutiku lagi?" Lelaki dengan tinggi 185 cm tersebut memberikan pertanyaan penuh curiga pada perempuan di depannya ini.
Perhatian Runisia kini beralih pada Luna yang ditanya demikian oleh Earth, gadis itu bersiap menyimak.
Luna sontak saja memasang ekspresi melongo, tidak setuju. "Enak saja! Tidak, ya! Aku cuma mau tahu kamu lanjut kuliahnya di mana. Lagi pula, aku sudah lolos di universitas kesayanganku," ujarnya sombong.
Runisia yang harus menoleh ke kanan-kiri untuk mengikuti percakapan kedua temannya ini. Kini, ia beralih menatap ke arah Earth.
Earth tampak mengedipkan matanya. "Oh, aku kira kamu mau mengikutiku lagi seperti di High School sekarang," timpal lelaki bermata hazel itu. Runisia kemudian kembali menatap ke Luna.
"Tidak. Jadi di mana?" tanya Luna sembari tersenyum manis, penasaran dengan universitas yang akan dituju oleh sang sahabat sekaligus crush perempuan itu.
Terlihat, Earth terdiam sejenak dengan matanya yang menyipit, menundukkan sedikit wajahnya pada gadis yang hanya memiliki tinggi badan 170 cm itu. "Rahasia," balasnya sembari tertawa kecil dan berlalu meninggalkan Luna yang kini memasang ekspresi cemberutnya.
Runisia yang melihat itu beralih menatap ke arah Luna. "Menyebalkan!" jerit Luna menggelengkan kepalanya.
Mendengar hal itu, Runisia menggelengkan kepalanya. Ah, dunia serasa milik mereka berdua .... Batinnya seraya mengusap pelan pundak temannya. "Sabar," ujarnya.
**
"Runisia, katanya ada cafe baru di dekat sekolah, pulang nanti ayo ke sana, aku traktir." Luna memberikan ajakan pada Runisia setelah guru yang tadinya mengajar meninggalkan kelas mereka.
Runisia menghentikan tangannya yang hendak memasukkan buku ke dalam tas miliknya sejenak. "Searah rumah atau tidak?" tanya gadis itu seraya membenarkan sedikit hijabnya.
"Searah, aku tadi stalk sosial medianya, menunya gemes-gemes semua!" ujar Luna penuh semangat.
Runisia memilih berpikir beberapa saat sebelum ikut mengangguk semangat. "Ayo kalau begitu," sambung gadis berlesung pipi tersebut.
"Yey!" sorak Luna dengan bahagia mendengar jawaban dari Runisia.
Kedua gadis dengan perbedaan tinggi badan yang cukup mencolok itu kemudian keluar kelas ketika mereka menyelesaikan kegiatan membereskan barang-barang sekolahnya. Jam pulang telah tiba.
"Eh, itu Earth!" Baru lima langkah mereka dari kelas, Luna sudah menotice sang pujaan hati. Gadis tersebut kemudian tanpa babibu langsung menarik sang sahabat menghampiri Earth yang juga tengah berjalan bersama temannya.
Runisia lagi-lagi harus menghela napasnya saat di seret begitu saja oleh Luna. Sabar, ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu.
"Hai!" sapa Luna ketika ia akhirnya tiba di dekat Earth.
Dua lelaki yang mendengar sapaan itu sontak berhenti dan mengerutkan keningnya. Mau apa lagi gadis-gadis ini? Begitulah pikirnya.
"Kenapa?" tanya Earth seraya menatap bingung ke arah Luna.
Runisia ikut menatap ke arah Luna dan mendapati gadis itu tengah tersenyum manis. "Ada kafe baru yang searah dengan rumah, kalian mau ikut?" ajak Luna dengan nada penuh semangat—ya, begitulah yang telinga Runisia tangkap.
YOU ARE READING
Heart and Faith
RomanceRunisia menganggap bahwa saat ini hidupnya hanya sekadar "NPC" yang sedang membantu karakter utama atau "MC", dan anehnya dia tidak masalah dengan itu. Namun, meskipun demikian, ia masih berharap dan yakin; bahwa mungkin suatu saat nanti, gelar kara...
