1. Pertemuan Pertama, Pertemuan Kelima

1.7K 141 32
                                    

Selamat datang di chapter pertama Evanescent

Kali ini kita memulai petualangan baru dari Jordan dan Serenade

Aku harap kalian suka dan mau bertahan sampai akhir

Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya

Biar aku makin semangat

Ada satu hari yang paling memalukan dalam hidup Serenade Mahera Sasmitaㅡyang akrab disapa Serenㅡdan itu bukan soal pekerjaan yang menuntut dia untuk berangkat dini hari demi merias pengantin, tetapi jujur kejadian memalukan itu mulanya disebabkan ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada satu hari yang paling memalukan dalam hidup Serenade Mahera Sasmitaㅡyang akrab disapa Serenㅡdan itu bukan soal pekerjaan yang menuntut dia untuk berangkat dini hari demi merias pengantin, tetapi jujur kejadian memalukan itu mulanya disebabkan oleh pekejerjaan yang luar biasa sibuk.

Ada enam hari penuh Serenade dan tim MUA-nya menerima banyak job karena bulan lalu sudah bekerja santai, hingga mereka ingin menantang diri dan menggantikan waktu kosong itu dengan kesibukan baru. Serenade menerima beberapa klien untuk make up lamaran dan tunangan, kelulusan SMP dan SMA, lalu puncaknya saat merias pengantin.

Serenade ingat sekali saat itu hari Sabtu dan seperti biasa dia pergi ke tempat acara bersama timnya pada dini hari, membawa seluruh perlengkapan untuk merias pengantin, bridesmaid, serta anggota keluarga seperti ibu mempelai wanita, kakak, dan adik. Semua berjalan dengan baik meski tubuh mereka kelelahan karena diforsir selama enam hari penuh, belum lagi masih harus mengurus pengantin hingga sore untuk touch up dan mengganti gaun sebanyak tiga kali.

Tepat setelah gaun terakhir, Serenade dan timnya sudah lunglai hingga tidak fokus. Di saat timnya masih bisa istirahat, bahkan beberapa ada yang pulang dan berlibur keesokannya, Serenade harus memenuhi janjinya menemui seseorang yangㅡmenurut kabarㅡakan menjadi calon suaminya. Saat kabar itu sampai ke telinga, Serenade tidak terlalu memusingkan dan langsung menyetujui ajakan ayahnya tanpa pikir panjang, sebab baginya itu akan jadi pertemuan biasa di mana sang ayah hanya ingin ditemani ketika berjumpa dengan kawan lama.

Kepala Serenade yang sudah pusing karena lelah seharusnya istirahat, tetapi dia tetap pergi ke tempat tujuan setelah merias diri sedikit agar tidak terlihat pucat. Saat itu Serenade harap dia hanya akan absen wajah sebentar, setelah itu sang ayah mengizinkannya pulang dan merehatkan tubuh yang lelah. Serenade pergi ke alamat yang dikirim oleh ayahnya, tetapi sial karena orang yang mengajak justru belum tiba ketika wanita itu memberi kabar sudah berada di depan rumah dua lantai bercat putih dengan pagar hitam tinggi.

"Terus gimana dong, Ayah? Kenapa nggak datang dari tadi, sih?" protes Serenade sambil memegang erat ponselnya yang menempel di telinga.

"Kan Ayah ngikutin jam kamu selesai, Nak. Mana tahu kalau ini bakal macet," jawab Zaenal, ayah Serenade, yang berbicara melalu earphone karena tangan beliau sibuk menyetir. "Kamu masuk duluan aja. Mereka udah tahu kok kamu mau datang. Mereka juga udah tahu muka kamu."

EvanescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang