Update nih, ada yang masih nungguin dan kawal cerita ini sampai tamat? Thankyou yaa!
Selamat membaca.
•••
Keysa tidak pernah merasakan se-nyaman ini. Vano kembali bertingkah manis seperti sedia kala. Bahkan ucapan yang di gunakan Vano ketika marahan dengannya kini telah muncul kembali. Membuat kesedihan itu tiba tiba saja lenyap ditelan tawa. Sejak tadi Vano menatapnya dari balik kaca mobil. Cowok itu tidak cepat pulang. Padahal Keysa sudah masuk rumah. Cewek itu tengah menatap dirinya dari atas balkon rumahnya.
Disa cantik
pulang!
Vano mengernyit heran ketika pesan seseorang kini muncul di layar ponselnya. Keysa. Namun, bukan dirinya yang memberikan nama kontak ceweknya itu seperti itu 'Disa cantik'. Sungguh Keysa lah yang tidak waras.
Vano
aku kangen.
Keysa yang melihat pesan itu terkekeh. Padahal baru saja dirinya baikan. Dan satu hari saja Vano tak kuat jika bermusuhan lama lama dengan Keysa. Bahkan Vano kembali menggunakan bahasa aku- kamu. Dasar anak kecil! Namun, Keysa juga masih kesal dengan perilaku Vano di sekolah. Benar benar, dia kira Vano mencampakkannya tanpa alasan.
Disa cantik
aku masih marah!😏
Beberapa menit ...
Vano
iya Vano minta maaf ya
Disa cantik
Gak mau.
Vano
Mau dibeliin apa?
Keysa yang melihat pesan itu berdecak sebal. Lantas cewek itu tertawa melihat pesan WhatsApp yang baru saja dikirim Vano. Namun dirinya kembali berpikir, ketika bayang bayang Aletta dan Vano menyelimutinya. Bahkan Vano belum menjelaskan semuanya akan Aletta. Dan Keysa masih berpikir apakah Vano benar benar berpacaran dengan Aletta.
Seketika moodnya buruk lagi. Dadanya sedikit nyeri ketika bayangan itu hadir. Ya, memang benar Vano sudah meminta maaf. Namun, Keysa belum sepenuhnya menerima permintaan maafnya. Rasanya Keysa kesal ketika melihat Vano seperti itu.
Keysa ingin menanyakan sesuatu tentang Aletta. Semua itu urung. Dia tidak ingin Vano kembali mengamuk seperti tadi. Ah, tapi jiwa keponya memberontak.
Disa cantik
Gak usah. Aletta beneran pacar kamu?
Keysa mengigit bibir bawahnya. Ketika dirinya dengan sengaja ingin tahu sesuatu yang dipikirkan olehnya
Vano
Knp?
Keysa mencebikkan bibirnya kesal ketika Vano malah berbalik tanya. Menyebalkan! Sok dingin sekali!
Disa cantik
Ish! Aku serius.
Vano
serius
Disa cantik
Dasar sok dingin
Vano
hm
Disa cantik
A
ku nanya ya, kok kamu gak jawab?
Vano
e
mg perlu dijwb?
Vano benar benar membuat dirinya sangat kesal! Cewek itu mendengus tak suka ketika Vano mengirim pesan yang sangat unfaedah.
Disa cantik
Iya
Vano
emg kl dijwb knp?
Disa cantik
aku nanya.
Vano
bnrn mau tau nih?
Keysa mengigit bibir bawahnya lagi.
Disa cantik
iya mau tau.
Vano
Aletta beneran pacarku.
Disa cantik
Jadi bener?
Vano
iya
Disa cantik
Ok
Keysa benar benar merasa Vano terlalu jujur. Bahkan dia rasa Vano tidak becanda. Keysa tersenyum tipis. Vano bilang Vano cemburu jika Keysa dan Kevin yang padahal hanya sebatas teman. Tapi Keysa lebih lebih cemburu Vano dan Aletta ternyata benar benar pacaran. Lagipula Vano menyatakan terang terangan kepada Keysa.
Vano is calling ...
Keysa sempat mengumpat ketika Vano tiba tiba menelponnya. Moodnya benar benar rusak parah. Kesal bercampur marah menyelimuti diri Keysa. Dia kira Vano mencintainya bukan main main seperti ini huh!
Keysa me-reject panggilan dari cowok itu. Keysa memilih mensilentkan ponselnya daripada harus berurusan dengan Vano. Pokoknya dia akan mencoba bermusuhan dengan Vano lagi!
Vano
Kangen. Angkat, Dis.
Disa cantik
?
Vano
ngambek?
Disa cantik :
nggak
Vano
maaf
Disa cantik
y
Vano
Aku cuma boong. Jangan ngambek ya?
Read
Keysa sangat kesal. Bisa bisanya Vano membohongi dirinya. Benar benar cowok tidak tahu diri awas saja.
Sementara Vano yang melihat pesannya tidak dijawab hanya terkekeh pelan. Benar, Keysa masih mencintainya seperti dulu dan mungkin sampai sekarang. Dan dia lihat Keysa juga cemburu, seperti lisannya yang berkata bahwa dirinya memang sakit hati jika Vano bersama cewek lain selain dirinya. Vano mencoba menelpon Keysa. Lagi lagi direject. Mungkin Keysa sudah sangat kesal pada dirinya. Dasar ngambekan.
Untuk yang ketiga kalinya. Vano berusaha menelpon lagi. Kali ini telepon diangkat dengan suara Keysa yang ketus. Membuat Vano yang mendengarnya tertawa pelan. Lalu tersenyum tipis.
"Maaf! Aku nggak ada niatan buat kamu cemburu, kamu aja yang ngerasain, tandanya kamu cinta sama aku," ujar Vano terkekeh. Keysa yang mendengarnya terdiam diujung telepon.
"Aku ga pernah becanda, aku serius," ujarnya diseberang telepon.
"jangan marah lagi, besok aku ajak kamu main, aku-"
"Kangen," lanjutnya. Keysa hanya berdecak sebal.
"kamu beneran gak ada hubungan sama Aletta," ujar Keysa was was. Sudah sangat terasa pada suara cewek itu. Sangat parau. Bahwasanya Keysa memang serius membahasnya. Vano yang sempat terdiam kembali terkekeh.
"Enggak, aku kan cuma bales apa yang kamu lakuin ke aku!" ujar Vano.
"Hem, maaf Van."
"Gak papa, aku sayang kamu. Jangan tinggalin aku ya?" ujarnya lagi. Vano sedikit tersenyum tipis. Lagi lagi dia membahas sesuatu yang berada di akhir kata. 'Jangan tinggalkan aku' selalu saja begitu. Vano hanya takut, ketika Keysa mengetahui sebenar-ah sudahlah kalian pasti tahu.
"Enggak, kan aku udah janji dulu!" ujar Keysa lagi.
"hem, semoga kamu gak akan menjauh," ujarnya lirih. Keysa yang mendengarnya bingung sendiri.
"Menjauh apa? kamu ragu sama aku?" ujar Keysa sedikit tertaut. Vano hanya membeku. Suara deruan napas kian menggema di seberang telepon.
"Enggak, aku tutup ya, jangan ngambek. Nanti aku beliin seblak," ujar Vano membuat Keysa terkekeh. "Dih! Iya iya terserah!" ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.
Kapan gue bisa jujur Key? Bahkan gue takut elo ngejauh.
Vano kembali membahas dalam hatinya. Padahal dia sudah mulai membuang semua pikiran pikiran itu. Vano menutupnya rapat. Harus! Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Keysa. Anggap saja kali ini Vano mementingkan ego nya. Karena Vano sangat mencintai Keysa.
•••
Artha tampak mengulas smirk sinis ke arah Aletta yang duduk dengan wajah yang sedikit didongakkan. "Lo butuh gue?" ujar Artha angkuh. Lalu memalingkan wajahnya dari Aletta. Cewek itu sedikit terusik atas omongan Artha. Namun dengan cepat dia terkekeh.
"Seperti biasa," ujarnya ke arah Artha. Artha semakin berdecih.
"Udah lama lo gak ketemu gue, gak mau ngasih kabar dulu?" Artha semakin memojokkan Aletta. Ya, Aletta adalah teman SMP-nya. Dulu Aletta-Vano-dan Artha bersahabat. Sejak kelas tujuh mereka selalu bertemu. Membahas apapun untuk bersenang senang. Namun, saat itu Aletta tiba tiba saja memiliki rasa pada Vano. Vano tidak menggubris. Cowok itu dingin terhadap siapapun. Meski Aletta adalah temannya. Bukan hanya Vano, Artha juga memiliki rasa pada Aletta, Namun. Aletta justru tidak menyukai seorang Artha, cewek itu menyukai Vano-nya. Sejak saat itu Artha tidak pernah lagi ingin berteman dengan Vano. Artha merasa semuanya itu tidak penting. Semakin Artha bersama Vano dan Aletta, maka Artha semakin mudah tersakiti.
"Kabar gue buruk Tha, gue banyak masalah," ujar Aletta menyesap rokoknya lagi. Cewek itu menghembuskan napasnya gusar.
Sebenarnya Artha tidak ingin ikut campur. Dia masih teringat kejadian dulu, ketika cewek itu lebih memilih Vano-nya yang bahkan tidak memiliki apa apa. Sakit Artha yang dulu masih saja sepadan dengan sakit yang sekarang. Masih membekas, dan tak mampu terobati. Jujur, jika dia masih menyukai Aletta-nya yang manis. Tapi ego-nya berkata lain. Dia membenci Aletta sekaligus mencintainya. Jika kalian tanya mengapa Artha benci Aletta? Ya! Karena Aletta selalu saja menyukai Vano, daripada dirinya. Artha sangat benci keduanya. Terutama Vano.
"Bahkan gue gak ada waktu buat ngomong sama lo Al," ujar Artha sedikit menyingkirkan kata hatinya. Dia berusaha mementingkan ego-nya. Artha tidak boleh jatuh terlalu dalam seperti dulu. Aletta kembali tertegun ketika Artha memanggilnya dengan kata Al, dia masih sama seperti dulu.
Aletta menatap serius wajah Artha. "Tha?" ujarnya sedikit mengatupkan bibir. Artha memalingkan pandangan lalu menepuk dua kali agar beberapa anggota gengnya segera pergi dari hadapannya. Artha tahu Aletta membutuhkan empat mata untuk berbicara dengannya.
"Lo tau kan? Gue nggak bisa bantu lo!" ujar Artha, inilah sisi lain dari diri Artha, cowok itu selalu ragu dengan pikirannya. Bingung antara mengendalikan ego atau kata hatinya. Aletta masih terdiam datar. Cewek angkuh ini masih tetap sama melihat Artha tanpa takut. Toh? Dia juga teman-nya. dulu
"Apa lo masih inget?" ujar Artha lagi cowok itu menatap sinis wajah Aletta.
"Kenapa gak minta sama cowok yang lo suka itu!" ujarnya menghujam kata lagi. Aletta paham akan 'siapa' cowok yang dibahas Artha.
"Tha!"
"Kenapa ngelibatin gue? Apapun itu jangan libatin gue lagi!" Artha semakin naik pitam. Raganya sedikit terguncang. Namun, dirinya kembali tenang.
Aletta kembali diam. Tatapannya sedikit kosong. "Lo masih punya rasa sama gue Tha?"
Artha bungkam. Bahkan untuk mengatakan semua itu hanyalah suatu jebakan yang lagi lagi memerangkapnya dalam sebuah kenangan.
"Gue-enggak suka sama lo," tegasnya tercekat. Artha menatap netra Aletta. Cewek itu masih saja mematung tanpa sebab.
"Gue gak masalah, tapi gue cuma minta bantuan aja sama lo, karena gue terlalu berambisi."
"Maafin gue yang lebih suka sama dia daripada lo, tapi cinta itu gak bisa dipaksain kan?"
"Gue sayang elo, Tha!" ujar Aletta mengarah ke Artha yang ada di depannya. Artha memalingkan wajahnya, ketika Aletta berbicara seperti itu.
"Gue-gak bisa bantu elo, kalo elo ada masalah kenapa ke gue Al? Sedangkan cowok yang lo suka itu apa gunanya?" ujar Artha datar. Tidak menatap Aletta sekalipun. Dia tetap pada posisinya, datar dan tenang.
"Tha!" ujar Aletta tegas. Artha tertawa sumbang.
"Kenapa ke gue?" ujar Artha lagi. Aletta tersenyum kecil lalu kembali datar.
"Gue butuh lo, Tha ..." ujar Aletta pelan. Artha kembali terdiam.
"Lo butuh orang yang salah, kalo lo minta bantuan jangan sama gue," datarnya semakin menjadi-jadi. Artha tidak ingin lagi berurusan dengan Aletta. Kali ini dia lebih mementingkan kata ego-nya dari pada harus mengenang masalalu yang semakin terasa menyakitkan. Artha hendak pergi dari hadapan Aletta. Cowok itu sudah tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Aletta. Sudah, dia sudah sangat muak.
Namun, tangan kecil Aletta menghadang agar Artha tidak pergi dari hadapannya. Aletta yang terdiam menyesap puntung rokoknya itu menggeleng.
"Gue butuh lo, Tha ... Please."
Artha menghempaskan tangan Aletta yang mencekalnya. Cewek itu sedikit tersentak atas perlakuan Artha kepadanya. Artha pun masa bodoh dengan Aletta yang melongo karena perlakuannya. Tanpa pikir panjang cowok itu segera pergi dari markas itu.
Lagi-lagi suara Aletta yang parau terdengar di telinganya. Artha kembali tercekat dan terdiam begitu lama. Cowok itu menghembuskan napasnya gusar.
"Apa lagi Al?"
"Lo masih sahabat gue kan Tha?" ujar Aletta pelan. Artha masih bungkam tak ingin berbicara. Benar, Artha tidak ingin membahas hal itu lagi.
"Udah lama-dan semuanya mungkin udah gak ada artinya buat gue," ujar Artha bergegas pergi. Namun sebuah pelukan memenjarakan langkahnya.
Artha masih terdiam bingung. Dirinya tidak bisa bergerak sedikitpun. Kali ini hatinya bergerak lebih cepat dari biasanya. Berdetak lebih kencang. Dia merasakan sesuatu yang menjalar dari dalam tubuhnya. Artha tidak tahu kenapa dirinya seperti ini.
"Gue cuma butuh bantuan lo, gue juga kangen elo, temen gue yang dulu selalu ngertiin gue," ujar Aletta masih mendekap Artha yang masih saja diam membisu.
"Mau lo apa Al?" ujarnya tersenyum tipis. Bahkan bukan senyum tipis yang keluar dari bibir Artha melainkan senyum sinis yang kian menghujam sindiran pada Aletta.
Aletta terkekeh getir. "Gue cuma kangen sama apa yang lo lakuin dulu."
"Maksud lo apa?"
"Dulu, lo selalu ngasih apapun untuk gue. Meskipun semuanya itu hal bodoh yang selalu aja lo lakuin untuk dapetin hati gue," ujarnya datar dan pelan. Artha yang mendengar itu menguatkan rahang kokohnya. Tangannya sedikit mengepal.
"Tapi sekarang nggak lagi, lo bukan Artha yang gue kenal," ujarnya tersenyum getir. Artha semakin kalap di telan kebungkaman. Tidak ada candaan lagi. Dia benar benar diam mencerna semuanya.
"Gue gak ada waktu buat bahas-"
"Gak ada waktu buat cewek kayak gue?" ujar Aletta lagi. Artha semakin mengatupkan bibirnya.
"Apa yang bisa gue bantu?" ujar Artha tiba tiba. Cowok itu sedikit menghembuskan napasnya lagi. Artha mencoba berpikir. Mungkin lebih baik seperti ini daripada harus membuat Aletta semakin menjadi.
"Gue cuma minta bantuan lo," ujar Aletta pelan. Artha kembali datar seperti biasanya.
"Apa yang lo mau?"
"Bantu gue pisahin Vano dari Keysa. Apapun caranya buat mereka pisah!" ujar Aletta lagi. Bahkan ucapan itu membuat Artha mengepalkan tangannya.
"Lo masih suka sama Vano?" ujar Artha datar.
"Menurut lo?"
"Gue nanya!" ujar Artha semakin tegas.
"Iya-gue masih suka sama Vano!" ujar Aletta semakin nyalang menatap Artha. Pelukan itu kini teralih. Cewek itu kembali menyesap rokoknya dalam dalam di hadapan Artha.
"Gue gak bisa bantu lo," dinginnya. Aletta tersenyum sinis ke arah Artha.
"Lo gak bisa bantu gue karena lo suka gue kan?" ujar Aletta sinis. Cewek itu sedikit mendongakkan wajahnya lagi. Artha semakin diam. Lantas cowok itu berdecih.
"Gak! Sekarang lo pergi dari hadapan gue," ujar Artha semakin kesal ketika Aletta menyangkal semua ucapannya dengan intonasi tinggi. Dulu, Artha tahu Aletta tidak seperti ini. Aletta selalu lembut di hadapan dirinya. Namun, kali ini cewek itu berbeda.
Aletta semakin tertawa sinis. "Oke gue bakal pergi, gue nggak akan minta bantuan lo lagi. Gue bakal ngerebut Vano dari Keysa dengan tangan gue sendiri. Ngebuat mereka pisah itu bukan hal sulit. Bahkan sekalipun gue harus ngebunuh Keysa gue bakal bunuh!"
"Elo gila! Elo terobsesi!"
"Yah, lo tau itu," ujarnya tertawa. Cewek itu pergi dari hadapan Artha. Meskipun dia kecewa dengan balasan Artha, namun Aletta tidak ingin mementingkan hal itu. Kali ini dia cukup fokus untuk mendapatkan Vano.
Artha menguatkan rahangnya. Tangannya sedikit mengepal ketika Aletta melakukan hal demi mendapatkan Vano. Dia sangat benci hal itu. Ya, Artha masih sangat mencintai Aletta. Ini yang kedua kalinya Artha berbicara jika dia mencintai Aletta.
"Lo nggak akan bisa buat mereka pisah Al, Meskipun gue benci sama Vano. Tapi, gue gak mau elo yang gue suka malah lebih milih Vano. Gue gak bakal buat lo pisahin mereka, jujur karena gue masih suka elo," dinginnya.
TBC!
Lanjut? Hampir end.