32. Dissolutio ☕

Start from the beginning
                                        

"Chelly!"

Chelia membuka mata dan begitu terkejut saat melihat Rama tengah berlari ke arahnya.

"Rama? Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Chelia begitu Rama duduk di sebelahnya. Tempat persembunyiannya ini sangat terpencil dan jarang dilalui orang-orang.

"Navigasi hati, Sweetheart," ujar Rama menujuk dadanya.

Chelia hanya tersenyum getir dan memalingkan wajah.

"Kamu kenapa kabur begini? Semua jadi khawatir." Rama menegokkan kepalanya mengikuti Chelia.

"Maaf ...," lirih Chelia semakin merunduk.

"Aku bertanya Chelly, kenapa malah minta maaf." Rama memegangi kedua sisi kepala Chelia dengan lembut.  "Lihat ke sini, dong. Nanti lehermu pegal terus tertekuk begitu."

Chelia mengangkat pandangannya dan menatap Rama yang memasang senyum. Chelia merasa makin sedih melihat Rama yang tampak tegar. Ia tahu ada beban di balik senyum itu.

"Rama ...," panggil Chelia dengan mata berkaca.

"Iya, Sweetheart." Rama menggenggam tangan Chelia. Ia mengerti bagaimana perasaan Chelia sekarang. Kurang lebih sama sepertinya.

"Aku ... aku takut ...," Chelia tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan berusaha menangis tanpa suara.

Rama meraih Chelia dan membiarkannya menangis di pundaknya. Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan. Melihat bagaimana Rean tidak percaya padanya semalam, juga Chelia yang menangis dalam dekapannya sekarang membuat hatinya terasa mati berulang kali.

"Kita tidak salah, Chelly. Kita tidak melakukan itu, kan? Jangan takut."

"Tapi bagaimana kalau orang-orang tidak percaya? Bagaimana kalau ...,"

"Kami percaya, Chelly!" Cassy yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana berlari ke arah Chelia dan Rama disusul Edward, sedangkan Naya dan Erva datang dari arah berlawanan.

"Kami percaya pada kalian berdua," tegas Cassy lagi dan dibenarkan oleh yang lainnya.

"Benar! Kalian jangan khawatir. Ini pasti hanya akal-akalan kelompok oposisi yang ingin menjatuhkan Rean itu!" ungkap Naya kesal.

Rama menyeka air mata Chelia yang terus mengalir meski tangisnya sudah reda. "Dengar, Chelly? Teman-teman percaya pada kita."

Cassy yang menyaksikan itu menjadi haru, meski Rama selalu bersikap manis, ia tahu sejak dulu Rama menyukai Chelia. Sebagai perempuan, Cassy bisa merasakan perlakuan berbeda Rama pada Chelia.

Chelia melenggut beberapa kali dan menarik sudut bibirnya agar terlihat tersenyum. "Tapi bagaimana dengan Rean? Pasti dia sangat tertekan sekarang."

Segenap perhatian serempak beralih pada Rama dan Edward yang hanya membungkam. Chelia menatap Rama lekat-lekat, mengamati bekas kemerahan melingkar di lehernya karena tercekik kerah bajunya kemarin.

"Lehermu kenapa, Rama? Jangan bilang ini karena kamu bertengkar dengan Rean kemarin!" Mata Chelia kembali berkaca.

"Ah?!" Rama mengelus lehernya dan memasang senyum lagi. "Bukan, kok, Sweetheart. Ini karena kemarin aku main Hangaroo sama Eddy."

"Hangaroo?" Chelia menatap Rama dengan serius.

"Iya, Chelly. Kita main Hangaroo live action. Eddy jadi player, aku jadi kangurunya. Karena Eddy mainnya payah, aku jadi dihukum gantung terus."

Chelia terdiam beberapa saat baru kemudian memukul lengan Rama dengan gemas. "Jangan bercanda dong, Rama!" katanya setengah menangis setengah tertawa pula.

Rama terkikik dan membantu Chelia berdiri. "Sudah, ya. Jangan menangis lagi. Ayo, nanti kita terlambat. Ini kelas prof. Attar, lho. Kasihan Erva kalau kena sentimen lagi."

"Ah, iya! Mana kemarin kueku jatuh di atas kepalanya."

"Hah?! Kok bisa, Va?!" Cassy terperangah.

Erva kemudian menceritakan kejadian pada hari di mana Gio tidak sengaja menabraknya hingga menyebabkan kesialan pada prof. Attar yang kebetulan sedang lewat.

Mereka semua lantas tergelak tanpa dikomando, kecuali Naya yang terpaku.

"Jadi kue waktu itu ...?" tanya Naya penuh selidik.

"Gio berikan sebagai ganti."

"O-oh begitu, ya! Syukurlah" Naya berdeham. "Maksudku, syukurlah dia bertanggungjawab!"

"Prof. Attar, tahu?!" tanya Edward lebih tertarik pada reaksi prof. Attar.

Erva menggeleng. "Tidak! Aku sama Gio langsung kabur. Jangan bilang-bilang, ya. Nanti habis wisuda baru aku mengaku."

Rama tertawa. "Tenang, Va. Kita semua akan jaga rahasia. Tapi kalau kamu sakit dan tidak beri kabar seperti kemarin, awas saja! Kita lapor prof. Attar. Bagaimana?" ujarnya meminta kesepakatan pada yang lain.

"Setuju!" dukung Chelia. "Kalau kamu sakit bilang saja. Lagipula aku juga sering sendirian di rumah."

"Tapi ... aku takut merepotkan." Erva memandang sepatunya. "Aku tidak mau menjadi seperti benalu."

"Benalu? Siapa yang bilang kamu seperti benalu, Sweety? Pasti ada yang berkata begitu, kan?!" Rama mengernyit, istilah tersebut terlalu ilmiah untuk dikatakan seorang Ervana Arystia pada dirinya sendiri.

"Tdak usah kalian tahu. Lagipula apa yang dikatakan mereka itu--"

"Tidak benar!" Chelia menatap Erva. "Maaf memotong perkataanmu, Va. Tapi aku tidak mau kamu berpikir begitu. Kemarin kamu sengaja menghindari kami karena alasan itu, kan?"

Erva mengangguk lesu.

"Siapa yang bekata begitu, Va?!" Edward ikut geram.

Erva menggigit bibir. "Tidak usah kalian tahu."

Chelia beranjak pada Erva dan mengelus punggungnya  "Baiklah, tidak masalah siapa yang berkata seperti itu. Tapi harus kamu tahu, Va. Kita tidak pernah berpikir seperti itu. Kita saudara, kan? Saudara tidak main hitung-hitungan."

"Ya, sepanjang kita semua tidak keberatan, sepanjang kita semua oke-oke saja, jangan pedulikan perkataan orang. Kalau ada yang bicara seperti itu lagi, katakan saja. Biar Edward yang beri pelajaran."

"Aku?"

"Iya, ayahmu kan pengacara. Orang lain saja dibela, apalagi anak sendiri." Rama memberi isyarat dengan sedikit gerakan kepala. "Yuk, nanti kelasnya keburu dimulai!"

"Ayo, Cassy." Chelia mengamit lengan Cassy. "Maaf yah, tadi aku pergi begitu saja."

"Tidak masalah, Chelly." Cassy tersenyum. Diam-diam ia memperhatikan Chelia dan Rama bergantian. Ia makin terenyuh melihat keduanya masih berusaha menghibur Erva di tengah masalah yang mereka hadapi.

Cassy tidak ingin mengiring pikirannya ke arah negatif, namun jauh dalam hati, ia menyesalkan keputusan Rean untuk mendaftar sebagai calon ketua BEM.

"Ya, ini semua karena ambisi Rean!"

☕☕☕

TBC

Prescriptio☕  Where stories live. Discover now