PROLOG

94 32 7
                                        

Sama seperti biasanya, aku selalu menghabiskan waktu senggangku untuk membaca buku di perpustakaan.
Seperti siang ini, ketika kelas kosong aku memilih menghabiskan waktuku di perpustakaan ketimbang nongkrong-nongkrong di kantin.

 Seperti siang ini, ketika kelas kosong aku memilih menghabiskan waktuku di perpustakaan ketimbang nongkrong-nongkrong di kantin

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Namun, saat aku sedang asik membaca buku.

SEET...

Tanganku di tarik oleh seseorang, lebih tepatnya sahabat baikku. Siapa lagi yang mau menyusulku ke perpus jika bukan Kevin?

"Eh apaan nih?" Tanyaku, refleks terkejut.

"Shuut..." Desis Kevin meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

"Ini hadiah buat kamu" Tambahnya. Dengan telaten ia memasangkan gelang berwarna putih di tangan ku.

"Liat nih" Ujarnya memperlihatkan gelang yang melingkar di tangannya.
Hanya berbeda warna saja, jika gelang yang ia pakaikan padaku berwarna putih, maka lain halnya dengan dia yang mamakai gelang yang berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu.

"Kayak anak kecil" cibirku melihat gelang tersebut, Kevin yang mendengar lantas mencebik

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Kayak anak kecil" cibirku melihat gelang tersebut, Kevin yang mendengar lantas mencebik.

"Iya-iya, makasih yaaa" ujarku menutup buku bacaanku dan meletakkannya dimeja. Sedetik berikutnya senyum terukir di bibir tebalnya.

"Sama-sama sayang ku. Nah, kalo gitu, mending sekarang abang anterin aja eneng kekelas, kan udah mau masuk nih..." ujarnya merangkulku. Aku melirik sekilas tangannya yang menggantung dibahuku lalu mendecih.

"Kita emang sekelas, OON!" Telakku, meninggalkan Kevin, hingga suara langkah kaki mulai terdengar mengejar.

"Sarla, tungguin..."

Memang beginilah persahabatan kami. Tidak pernah serius dalam bertengkar, hanya sebatas menggoda satu sama lain tanpa terbawa perasaan yang macam-macam, sampai suatu hari...

-0-


Aku tergesa menuju kantor untuk menemui Pak Susilo. Ketua kelasku bilang, aku di panggil karena ada urusan penting yang ingin beliau bicarakan.
Apa karena aku sering telat? mungkin di minggu ini sudah yang ke empat kalinya aku telat. Tapikan, aku tetap bisa berprestasi, rasanya tidak mungkin kalu Pak Susilo akan menghukumku karena masalah itu. Tapi jika benar, bisa gawat! Bunda sama Ayah bisa ngamuk.

Bisa-bisa aku nggak di sekolahin lagi, aku nggak bisa dapet pekerjaan, aku nganggur dirumah, aku di jodohin sama om-om, aku depresi, bunuh diri, terus... terus..terus... sial pikiran macam apa itu.

BRUGH...

Karena terlalu sibuk melamun, aku tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang baru keluar dari ruang BK, hingga kami berdua jatuh terduduk.

Saat kulihat, ia tidak mengenakan seragam yang sama denganku, sepertinya dia bukan siswa sini

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Saat kulihat, ia tidak mengenakan seragam yang sama denganku, sepertinya dia bukan siswa sini.

Apa dia wali siswa? Atau murid pindahan? Jangan-jangan guru? Biasanya, kalau di sinetron kan gurunya masih muda-muda, cakep lagi.

Tapi untuk opsi terakhir, kayaknya enggak deh. Mungkin aku harus berhenti nonton sinetron-sinetron nggak jelas itu.

"Aw... maaf-maaf mas saya nggak sengaja, lagi buru-buru soalnya" Ujarku, sembari membersihkan pakaian yang kukenakan.

"Iya-iya nggak apa-apa" Jawabnya lirih.

'Sebegitu sakitkah ku tabrak?' Fikirku, karena kulihat dia terus merunduk.

"Kalau gitu, saya permisi dulu" Pamitku,dia hanya mengangguk

Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor setelah mengucap maaf sekali lagi.

Beberapa meter setelahnya, aku tidak bisa untuk tidak kembali menengok kebelakang. Ku lihat, dia sudah berdiri, masih ditempat yang sama dengan melihatku dari kejauhan.

Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun, satu hal yang aku tahu, dia tampan.
Tak terasa sebuah senyum terukir di wajahku.

"Ah, Pak Susilo" Aku baru ingat, wali kelasku bak seekor gorila ganas itu tengah menunggu dikantor.

Akupun kembali tergesa melangkahkan kakiku ke ruang guru.

-0-

Cinta itu yang seperti apa?
Apakah yang selalu berbeda?
Agar dapat saling melengkapi?

Ataukah yang selalu sejalan?
Agar dapat saling mengerti ?

Jalan cinta manakah yang kamu pilih jika semua itu memiliki akhir yang sama?
Semua pilihan ada di tanganmu.

-0-

Hay! Diriku anak baru di wattpad.
Salam kenal 😘
Namaku Puji Novi Yanti, panggil aja Novi 😁

Baru prolog nih 😊
Ada yang tertarik? 😙

Buat kalian semua, silahkan menikmati ceritaku yang absurd ini... 😆

Oiya. Jangan lupa vote dan komen ya 🙏
Buat semangat aku nulis *kedip² 😘

WHO?Stories to obsess over. Discover now