1. RAVISPA!

1.9M 114K 52.8K
                                    

1. RAVISPA

Gerombolan lelaki berbadan tegap berjaket hitam parasut dengan tulisan Ravispa di dada kiri memenuhi lorong utama. Pagi-pagi sekali mereka sudah tiba di sekolah. Sebuah kejadian langka mengingat mereka sering datang terlambat. Suara gelak tawa pun mulai terdengar di antara barisan panjang mereka. Ada yang membawa tongkat kain Ravispa dipundaknya, ada yang mengikat dasi di dahinya, ada yang memasang wajah dingin dan ada juga yang bersiul sambil cengar-cengir menyapa cewek-cewek.

Salah satu yang paling ribut berdiri di sisi kanan sambil membawa sapu untuk menggoda para siswi dengan pantun-pantun gombal. Nyong Bakarbessy namanya. Seminggu lalu hampir saja dipindah sekolahkan ke Ambon oleh Bapaknya karena ketahuan bolos dengan memalsukan tanda tangan di surat izin buatan cowok itu.

“IH, IH, IIHHHHH!! KAK SEPTIAN SAMA TEMEN-TEMENNYA!! ADUH JADI PENGEN MASUK RAVISPA!!”

“KAK SEPTIAN MOBIL BARU LAGI YAA?! GILA TAJIR BENER ANJEERR! GONTA-GANTI MOBIL MULU! ANAK SULTAANNNNN!!”

“IH DIA YANG NAMANYA KAK SEPTIAN?! YANG PUNYA DISTRO?! IHHH, GANTENG BANGET MAU DONG JADI PACARNYA!!”

“KAK SEPTIAN ITU LOH YANG FOLLOWERS-NYA BANYAK DI IG TAUU!!”

Septian Aidan Nugroho. Cowok paling pendiam dan misterius yang merupakan anggota Ravispa. Pintar, atlet basket dan juga tajir menjadikannya idola para siswi di sekolahan. Sementara itu. Ravispa adalah nama geng besar di sekolahnya yang terdiri dari ikatan para murid nakal SMA Ganesha. Mau cowok mau cewek yang gabung pun sama. Tak ada bedanya. Septian juga sosok populer di sekolah. Murid kesayangan guru-guru karena sering menuai prestasi ketimbang sensasi. Ia juga masuk dalam bagian inti Ravispa.

Ikan hiu makan ubi
I Love You bertubi-tubiiiiiiiiiiii....

“WOEEE!! SEJAK KAPAN HIU MAKAN UBI NYONGGGGG??!” Bambang atau yang sering dipanggil Bams emosi di tempatnya. “Lo kata Hiu vegetarian haahhh?!!”

Nyong tertawa geli. “Santai dong lo Bams. Gak usah ngegas. Abisnya pagi-pagi gini udah ributin si Asep aja. Ributin gue kapan?” tanya Nyong pada teman-temannya.

“Emang netizen lebih tau mana yang ganteng mana yang burik!”

Guntur, salah satu temannya tertawa ngakak! “Sirik aja lo Nyong!” katanya sambil tertawa pada cowok kribo berkulit sawo matang itu. “Bersyukur. Itu udah bagus lo lahir sempurna. Lahir di Ambon lagi! Ambon tuh kota eksotis! Lo tau kaga?”

“Cintailah Indonesia. Cintai tempat kelahiranmu,” ucap Galaksi.

“Iya-iya tiang (Saya) tau Bli (Bang) Guntur. Beta teh sudah besar.” Nyong memang tidak fasih berbahasa Bali seperti Guntur yang asli penduduk Bali namun mendengar Guntur yang sering berucap seperti itu Nyong jadi hafal meskipun bahasanya masih gado-gado. Sebuah bentuk ikatan silahturami toleransi yang masih dijaga anak-anak Ravispa hingga detik ini.

Lain halnya dengan Septian. Cowok itu lebih banyak diam sejak memasuki area lingkup Sekolah. Septian memang lebih dikenal dengan nama Asep di kalangan teman-temannya. Namun hanya yang paling dekatlah yang sering memanggilnya Asep. Selebihnya tetap memanggilnya Septian.

Nama itu tercetus dari Nyong yang salah sebut namanya dulu saat mereka kelas sepuluh hingga sampai kini nama Septian tetap awet menjadi Asep. Menjadi panggilan pop teman-temannya. Emang Nyong suka gitu. Nama orang udah bagus-bagus dikasih emaknya malah diganti jadi nama kampung! Asep pula namanya!

“Mending lo sini Nyong! Ngepantun samping gue!” Jordan menarik seragam Nyong dari belakang tubuh Septian menuju ke arahnya. “Bantuin gue godain cewek!” Jordan lalu refleks bersiul melihat Mona yang baru saja datang.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang