Thirty Nine

245K 15.9K 2.5K
                                    

"Kupikir diakhir cerita ini ada sebuah kebahagiaan yang menunggu, ternyata aku salah. Pada akhirnya aku kembali ditinggalkan seorang diri dalam kepedihan yang tak berujung dan perasaan kehilangan."

#turn on music : Christina Aguilera-you lost me.

----------

"Mau kemana? " Gladys mengerutkan kening bingung saat motor Given tidak berbelok ke arah jalanan menuju rumahnya.

"Mau culik kamu."

Gladys berdecak pelan. "Aku serius, kita mau kemana?  Katanya sore ini mau kerumah, nggak jadi? "

"Udah sering date home, sekali-kali jalan keluar biar kayak pasangan lain. Lagian kalau dipikir-pikir kita udah lama banget nggak pergi bareng, seringnya cuma ke cafe. " ucap Given agak keras agar Gladys dapat mendengar jelas ucapannya.

Senyum dibibir Gladys mengembang, entah mengapa ia merasa senang karena Given juga memikirkan hal itu. Sudah lama mereka tidak quality time berdua diluar rumah seperti ini. Kebetulan mood-nya hari ini juga kurang baik setelah melihat ekspresi aneh Given saat melihat Liana. Sempat ada pikiran negative yang mengganggunya. Semua itu Gladys rasakan bukan karena membenci Liana tetapi ia takut kehilangan Given untuk kedua kalinya.

Gladys takut semua kebahagiaan ini akan berakhir tidak sesuai ekspektasinya. Cinta memang dapat membuat manusia menjadi egois, tidak pernah puas dengan apa yang sudah diperoleh. Sekarang Given memang pacarnya tetapi ada perasaan ingin memonopoli agar cowok itu tidak akrab dengan perempuan lain terutama Liana.

Wajar jika Gladys possessive,  karena sebelumnya ia pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang dianggap berharga. Ditinggalkan orang yang terlanjur memberi banyak kenangan lebih menyakitkan dari pada ditolak tegas oleh orang yang disukai.

Ditolak memang menyakitkan tapi jauh lebih baik dari pada tidak mendapat kepastian. Sedangkan ditinggalkan oleh orang yang terbiasa ada menemani hari demi hari akan lebih terasa menyesakkan saat kehadirannya tidak ada lagi.

Membayangkan saja Gladys tidak sanggup,  sudah cukup dulu Given meninggalkannya dimasa lalu. Jika bisa Gladys ingin terus berada disisi Given dan berharap cowok itu memang pendampingnya kelak. Gladys menyandarkan kepala dipunggung Given, menikmati desir angin yang menyejukkannya. Beruntung sinar matahari siang ini tidak terlalu terik, langit tampak cerah dan menyejukkan.

Given terus melajukan motor dengan kecepatan rata-rata, beberapa kali ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya berharap dapat menenangkan perasaannya.

Melihat bagaimana Gladys memeluknya erat justru membuat hati Given mencelos. Bagaimana bisa ia tega mengkhianati gadis sebaik Gladys?

Given tidak bisa membayangkan seberapa sakit yang Gladys rasakan jika tahu bahwa ada perempuan lain yang selalu mengusik pikirannya. Given merasa seperti pecundang karena tidak bisa mewujudkan janjinya sendiri. Ia pernah berjanji ingin melindungi dan menjaga Gladys, tapi nyatanya menjaga hatinya saja ia tidak mampu.

Mungkin brengsek adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan sikap Given saat ini. Disatu sisi ia tidak ingin kehilangan Gladys tetapi disisi lainnya ada perasaan takut membayangkan Liana dalam posisi bahaya. Tidak dapat dihindari, jauh didalam lubuk hati Given memang ada gadis itu.

Given pikir semua perasaan itu sudah terkubur jauh dan hilang tapi ternyata semuanya masih ada jelas tertinggal disudut hatinya. Given tidak bisa mengabaikan Liana begitu saja terlebih ada Ivan didekat gadis itu. Pikiran tentang keselamatan Liana terus terngiang dan membebani pikiran Given selama beberapa hari ini, apalagi Liana keras kepala tidak mau mendengar penjelasannya.

Why ? [ SUDAH DISERIESKAN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang