Kamu, alasanku untuk tersenyum.
Motor merah dengan pengendara berjaket hitam itu mulai memasuki kawasan perumahan elite, dan berhenti di sebuah rumah besar berwarna putih lalu membunyikan suara klaksonnya beberapa kali. Sedangkan di sisi lain, Steffi Raina Hussain, gadis polos nan cantik yang masih terlelap di kasur kesayangannya harus terbangun karena sang kakak yang mengganggu ketenangannya.
“Ada apa bang?” tanya Steffi dengan polosnya padahal kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi yang artinya sudah seharusnya Steffi bangun untuk bersiap siap pergi ke sekolah guna menuntut ilmu.
Setelah Bang David, kakak Steffi memberitahukan alasan membangunkan adik manisnya itu, Steffi terlonjak kaget pasalnya dirinya baru saja terbangun dari tidurnya tapi diluar, sahabatnya Rendy sudah menunggu dengan motor ninja merah kesayangannya.
“Abang kenapa nggak bilang dari tadi sih ada Rendy?” Ucap Steffi sambil berlari mengambil handuk lalu pergi kamar mandi tanpa mendengarkan jawaban dari sang kakak.
“Gimana mau bilang kalo lo aja tidur mulu.” Gumam Bang David lalu pergi dari kamar Steffi karena harus bersiap siap untuk pergi kuliah.
Setelah sekitar 25 menit menunggu akhirnya Steffi keluar dari rumahnya dengan rambut yang dikuncir kuda, dan terlihat lelaki yang menampakkan ekspresi kesalnya bernafas lega karena orang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya datang, Rendy sudah siap untuk mengeluarkan omelannya pada Steffi tapi belum saja terungkapkan, mulutnya sudah ditutup lebih dulu oleh telapak tangan Steffi.
“Jangan marah marah, nanti telat!”
Dengan mata mendelik Rendy menuruti keinginan Steffi untuk pergi ke sekolah, dengan kecepatan diatas rata rata Rendy mengendarai motornya membelah ramainya jalanan ibu kota. Hingga Steffi si penumpang selalu berteriak membuat Rendy ingin menurunkannya sekarang juga.
“Diem ga lo! Gue buang disini mau?” teriak Rendy pada Steffi yang dibalas pukulan di punggungnya, namun sama sekali tidak menghentikan teriakannya.
Setelah sekitar sepuluh menit akhirnya Steffi dan Rendy tiba di sekolah tapi sayangnya, gerbang sudah tertutup rapat yang mengakibatkan mereka tidak bisa masuk ke kelas mereka tepatnya ke kelas 11 IPA 3, Steffi dan Rendy sama sama mencari celah untuk bisa masuk ke sekolah tapi nihil, celah itu tidak ada sama sekali, mungkin bukan tidak ada melainkan mereka bukanlah anak yang suka bolos hingga mengetahui jalan masuk ke sekolah selain gerbang, yang mereka lihat hanyalah gerbang tinggi yang sudah tertutup.
“Ah lo sih, pake telat bangun segala! Mending mandinya cepet lah mandi lama, buku belum diberesin, belum nyisir rambut, belum pake bedak, belum pake sepatu.” cerocos Rendy membuat Steffi geram dan menginjak kaki Rendy dengan keras hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.
“ Baru on time kali ini aja laganya kaya orang terdisiplin sedunia, belagu!”
“Udah ah, manjat pagernya aja yuk.”
Steffi meraih rambut Rendy yang sudah rapi dan menariknya “Kalo ngomong tuh mikir dulu kenapa sih! Gue pake rok Rendy gue nggak mau ya ngasih sadaqah buat lo!”
“Yaudah gue aja.” Ucap Rendy acuh sedangkan Steffi menatapnya tajam, mengamati setiap pergerakan Rendy yang mulai memanjat gerbang sekolahnya.
Saat Rendy sudah setengah perjalanan menaiki gerbang, tiba tiba saja gerbang yang sedang dipanjat Rendy bergerak seperti ada yang menariknya dan benar saja ternyata sudah ada Pak Joko satpam sekolah ini yang membukakan gerbang.
“Ini kenapa kamu naik naik gerbang? Ayo turun cepat!” Teriak Pak Joko sambil memukul mukul bokong Rendy untuk turun, hngga Rendypun kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat disebelah Steffi yang sedang berdiri, hingga Steffipun tertawa terbahak bahak lalu menjulurkan lidahnya pada Rendy tanda kemenangan.
Sedangkan Rendy yang masih tersungkur lagi lagi mengaduh kesakitan “Bantuin kek!” ucapnya dan Steffi pun membantunya dengan wajah yang memerah karena menertawakan kejadian tadi. Sedangkan Pak Joko dengan kumis tebalnya sudah memasang mata tajam pada Steffi dan Rendy, setelah Steffi dan Rendy menyadari hal itu mereka menuduk takut, “Kenapa kalian telat?”
“Steffi temen saya ini tadi saya jemput, terus salah makan pak, kira itu selai strawberry ternyata saus mana banyak lagi pak ngasih sausnya akhirnya dia kebelet terus dari tadi.” Ucap Rendy mencari alasan sedangkan Steffi sudah menatap Rendy dengan tatapan menerkam.
Sayangnya alasan mereka tidak diterima oleh Pak Joko untungnya, mereka dibolehkan memasuki kelas tetapi sebelum itu mereka harus hormat kepada bendera hingga pelajaran pertama usai kira kira jam 10 nanti, karena tak ada pilihan lain mau tidak mau mereka berdua mengikuti syarat yang Pak Joko berikan, mereka berdua masuk ke sekolah dan menyimpan tasnya di kursi pinggir lapangan dan berjalan menuju lapangan untuk hormat kepada Sang Merah Putih.
Setelah kurang lebih 3 jam mereka berdiri dengan tangan yang hormat kepada bendera, akhirnya bel tanda usainya pelajaran pertama berbunyi hingga Rendy maupun Steffi menghembuskan nafas lega, Rendy pun mengajak Steffi pergi ke kantin untuk membeli minuman karena sinar matahari sesehat apapun tetap saja membuat kerongkongan kering.
Steffi berjalan di depan sedangkan Rendy mengikutinya dibelakang, tapi tiba tiba saja tubuh Steffi lemas dan jatuh, untung saja Rendy dengan cepat menopang tubuhnya hingga tubuh Steffi tidak sempat bersentuhan dengan tanah.
“Bangun Stef, lo kenapa?” Ucap Rendy yang terus saja menepuk pipi yang memerah karena matahari itu.
Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Rendy, dan Rendy membopong Steffi ke UKS yang jaraknya lumayan jauh dari lapangan, dengan keringat yang sudah mulai bercucuran Rendy tetap saja menggendongnya hingga akhirnya sampailah ia di UKS dan Rendy menidurkan Steffi di brankar yang sudah tersedia. Rendy mencari minyak kayu putih dan mengoleskannya di kening Steffi dan membiarkan Steffi menghirup aromanya, selang 2 menit Rendy dapat tersenyum karena Steffi sudah mau membuka matanya.
“Gimana, ada yang sakit? Bilang sama gue. Lo nggak boleh sakit, gue nggak suka.” Ucap Rendy menumpahkan kekhawatirannya sambil mengelus ngelus tangan Steffi sedangkan Steffi hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya memberi tanda bahwa dia baik baik saja.
Rendy melepaskan tangannya dari tangan Steffi dan berdiri dari tempat duduknya, tangannya beralih mengusap lembut kepala Steffi “Gue beli air putih dulu, lo tunggu sini, jangan kemana mana dan kalau ada yang sakit bilang jangan disembunyiin.” Pesan Rendy yang diangguki oleh Steffi dan Rendy pun pergi keluar dari ruangan.
Lo tau? Ketakutan terbesar gue adalah menyalah artikan perhatian yang lo kasih buat gue, gue takut, sangat takut kalau pada akhirnya perasaan gue akan menghancurkan kita. Batin Steffi lalu memejamkan matanya dan tertidur sesaat berharap perasaan itu akan hilang walaupun hanya dalam mimpi.
Vote dan comments gaise❤
KAMU SEDANG MEMBACA
For A Love
Teen FictionMaaf atas harapan yang terlalu besar kutitipkan hanya kepada seorang manusia. Semuanya telah usai, bahkan kita belum sempat memulainya Sudah kuceritakan semuanya pada semesta Bahkan sudah kubisikkan padanya aku mencintaimu. Baik baik tanpaku Ah, maa...
