31. Hidup Baru untuk Kita

Mulai dari awal

Aku akhiri ritual melamun pagiku di depan cermin kamar mandi. Segera aku mengambil handuk kecil dan mengeringkan wajahku. Perutku mulai meronta-ronta minta diisi makanan. Baru saja kakiku menapak di tangga, aroma masakan ibu semakin kuat di indera penciumanku. Ibu sedang sibuk menata aneka masakan ke atas meja.Terlihat juga bapak tengah sibuk menikmati secangkir kopi hitamnya.

"Anak gadis ibu udah bangun toh." sapa ibu. Aku tersenyum sambil mengambil tempat di sebelah kursi bapak.

"Abisnya aku nyium masakan ibu dan bikin perut aku kelaparan." jawabku dengan cengiran lebar.

"Selama di Jakarta, kamu pasti makannya enggak teratur deh." kali ini bapak bersuara. Lagi-lagi aku hanya memberikan cengiran pada bapak. "Lihat sekarang kamu kurusan tuh." tambah bapak.

"Ah yang bener aku kurusan, pak? Alhamdulillah berarti dietku berhasil!" seruku dengan riang.

"Apa? Kamu diet? Oalah kamu tuh, ibu enggak setuju kamu diet-diet gitu kayak model kurus kering yang tivi-tivi. Pokoknya ibu enggak mau denger kamu diet-dietan lagi." ibu yang sedang terlihat menggoreng ayam, terpaksa menghampiriku dengan masih membawa spatula. Takut-takut spatula itu mampir di jidatku.

Selesai sarapan, kami menghabiskan waktu di ruang tengah dengan aktifitas masing-masing. Bapak yang sibuk membetulkan kipas angin yang rusak milik mbok Parti, ibu yang sejak tadi sibuk dengan rajutannya sedangkan aku sibuk membaca novel dengan headset yang enggak lepas dari telingaku. Semenjak bapak pensiun dari profesinya yang seorang guru, kegiatan bapak hanya dihabiskan di rumah membetulkan peralatan rumah yang rusak atau terkadang ada anak tetangga yang meminta tolong untuk memberikan les tambahan, bapak siap membantu.

"Sea..bapak nanya boleh?" tanya bapak sambil menyenggol kakiku.

"Nanya apa pak?"

"Kapan toh bapak dikenalin sama pacarmu." sambung bapak sambil merapikan peralatan yang tadi dipakai untuk membetulkan kipas angin. Ibu pun yang tadi sibuk merajut sekarang mulai ikut-ikutan mendengar percakapan antara anak dan bapak. "Usia seperti kamu sudah sangat matang untuk menikah, nak. Bapak sama ibu sudah pengen banget liat kamu nikah sebelum kami pergi." ujar bapak.

Ya ampun, bapak kenapa bicara seperti itu? Pasti aku akan menikah tapi enggak sekarang juga. Pacar saja aku enggak ada.

"Jangan bilang kamu masih nyantol sama si Ardhan." selidik ibu. Mendengar namanya saja aku enggan apalagi masih berhubungan dengannya. "Nak, kamu sama lelaki manapun ibu enggak larang. Tapi yang pasti kamu jangan salah pilih. Pilih yang seiman dan enggak macem-macem sama kamu."

Aku langsung menubruk tubuh ibu dan memeluknya dari belakang. Jangan heran kalau di usia sekarang aku suka bergelayut manja di ketiak ibu. Pikiranku menerawang saat pertama kali aku pulang ke rumah dan ibu sangat senang. Malamnya kami habiskan duduk berduaan di balkon rumah sambil menikmati singkong rebus dan segelas teh jahe, kami berbincang-bincang membahas apapun. Termasuk hubunganku dengan Ardhan yang sangat menyakitkan. Enggak ada sedikitpun cerita yang aku sembunyikan dari ibu. Semua aku ceritakan. Jujur saja, aku hampir menangis saat ibu mengelus puncak kepalaku sambil mengusap air matanya.

Saat itu aku berjanji kalau itu adalah hal yang pertama dan terakhir ibuku menangis karena memikirkan aku. 25 tahun memang usia sangat matang untuk seorang perempuan yang akan menikah. Tapi aku enggak menargetkan di usia berapa aku akan melepas masa lajangku. Yang menjadi prioritasku saat ini adalah sukses berkarir dan mencari laki-laki yang mencintaiku.

"Walah bapak lupa mau nanya sama kamu. Bapak tau dari si Ella kalau dekat sama duda di Jakarta. Benar Enggak itu?" tembak bapak saat menyebut nama Ella -sepupuku-.

"Ah Enggak kok pak. Itu hanya bagian dari profesional kerja saja. Lagipula sekarang dia Sudah kembali rujuk sama mantan istrinya."

Yang barusan bilang seperti itu mulutku kan? Aduh kenapa lancar sekali menjawab pertanyaan bapak.

"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti bantu ibu yuk bikin kue untuk arisan di RT."

"Okay, bu!"

**

Bram berjalan mondar mandir di lorong ruang operasi. Di dalam sana ada Dewi yang tengah berjuang untuk melahirkan anak pertamanya. Semua keluarga tengah menunggu di luar. Termasuk Julian beserta sang calon istri, Amelia. Rencananya mereka akan menikah di penghujung tahun ini. Amelia tidak lain dan tidak bukan adalah seorang teman lama Julian saat mereka masih sama-sama bekerja di Australia. Keduanya menjalin komunikasi kembali saat Julian tengah berlibur di Bali sekitar tiga bulan yang lalu dan memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius.

Tidak henti Julian menenangkan Bram yang terlihat sangat cemas menunggu Dewi. Sudah hampir dua jam Dewi mempertaruhkan nyawanya di dalam ruang operasi. Di sudut ruang tunggu, pak Hendrik dan sang istri tidak kalah cemas. Sampai pada akhirnya suara tangisan nyaring seorang bayi memecah keheningan. Tidak salah lagi itu pasti suara bayi Dewi. Ibunda Dewi menangis haru mendengar tangisan cucu pertamanya.

Seorang suster memanggil Bram untuk masuk ke dalam ruang operasi. Dia menitikkan air matanya saat melihat makhluk kecil yang masih merah itu digendong suster untuk dibersihkan. Bram menengok ke bangsal tempat dimana Dewi masih terbarik tidak sadar. Perlahan dia mendekat ke arah Dewi.

"Dewi.." panggil Bram dengan lirih. Namun Dewi belum merespon apa-apa. "Selamat kamu sudah menjadi seorang ibu. Bayi kita laki-laki." Bram menggenggam erat tangan Dewi dan menciuminya, Sungguh ini adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu. Tiba-tiba saja mata Dewi terbuka.

"Bram.." panggil Dewi nyaris tanpa suara. Bram mendekatkan wajahnya ke Dewi. "Maafin aku, Bram. Maaf..aku.."

"Ssstt...kamu enggak perlu minta maaf."

"Aku mohon....namai anak kita Lintang Angkasa Nugraha. Aku enggak kuat."

"DOKTER!! DOKTER!!"

Bram panik saat Dewi bernafas dengan tersengal-sengal. Tabung oksigen yang berada di dekatnya menggelembungkan bulir-bulir udara dengan kencang. Lalu dokter tiba dan meminta Bram untuk meninggalkan ruang operasi. Julian dan Amelia panik saat melihat Bram yang digiring suster untuk keluar. Begitupun dengan orang tua Dewi. Bahkan pak Hendrik terlihat emosional saat Bram tidak menjawab pertanyaannya. Dalam hatinya dia terus berdoa agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Dewi. Langkah kakinya membawanya menuju ruang bayi tempat dimana bayinya selesai dibersihkan. Disana dia menatap dari luar dengan batas dinding kaca tebal sambil menggumamkan sesuatu yang membuatnya menangis.

"Selamat datang Lintang Angkasa Nugraha, anakku."

On Air ( Secret Admirer )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang