7. Kejutan

1.8K 146 6


Sea dan Bram mengikuti mobil Dewi--mantan istri Bram--yang baru saja keluar dari rumah mewah di kawasan pusat Jakarta. Mobil Audi hitam itu meluncur menuju sebuah mall yang tidak jauh dari rumah tadi.

"Kita turun!" perintah Bram dan membuat Sea mau tidak mau ikut turun. Dewi berjalan anggun memasuki mall sehingga membuat beberapa orang memandang kagum ke arahnya. Pantas saja Bram tidak merelakan Dewi pergi, ternyata dia mirip seorang bidadari kesasar dari negeri khayangan. Dewi masuk ke dalam sebuah restoran dan bertemu dengan beberapa orang temannya yang ke seluruhannya perempuan itu.

"Dia enggak macam-macam kok Bram. Tuh liat saja dia malah arisan disana." kata Sea. Mereka berdua duduk di meja paling pojok agar tidak mengundang kecurigaan Dewi.

"Siapa tahu habis ini dia nemuin lelaki lain. Kita tunggu saja." jawab Bram. Tatapannya tajam melihat setiap gerak gerik Dewi.

"Tapi aku lapar, Bram. Makanya kalau mau ngajakin pengintaian tuh ajak makan dulu dong agentnya biar konsen." lagi-lagi Sea sewot sambil memanyunkan bibirnya.

"Setelah ini, kamu bebas makan dimana saja. Tapi tolong kamu harus tetap bantu saya hari ini." kata Bram. Dengan berat hati, Sea menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak lama kemudian, Dewi pun pergi sendiri menuju sebuah butik tas ternama. Lagi-lagi Sea dan Bram menguntit. Hampir saja mereka ketahuan saat Dewi tiba-tiba menoleh ke belakang. "Tetap jaga jarak, Sea."

Disana Dewi bertemu dengan seorang lelaki kurus yang dikenali sebagai artis pendatang baru di dunia artis dan mereka saling bercipika cipiki segala. Membuat Bram kepanasan. Dengan sigap, Sea menarik tangan Bram untuk tidak melakukan hal aneh. "Katanya kamu mau intai dia. Tenang dulu jangan gegabah." ucap Sea mengingatkan.

Dewi dan sang lelaki misterius itu sibuk memilih-milih tas sambil sesekali mereka berangkulan mesra. "Kita akhiri pengintaian hari ini." kata Bram dingin. Lalu dia berjalan cepat meninggalkan Sea di belakang.

"Hey Bram tunggu! Hey..!!" teriak Sea.

Bram mengetuk-ketuk stir kemudi saking kesalnya melihat kemesraan Dewi dan pria itu.

"Dia Roman.." gumam Bram pelan.

"Apa? Siapa? Roman? Wajahnya pernah aku lihat deh tapi dimana ya?" tanya Sea bingung. Bram mengusap wajahnya gusar lalu menghirup oksigen dalam-dalam.

"Lelaki yang bersama Dewi tadi. Dia Roman teman saya saat di bangku kuliah. Saya tahu kalau sejak dulu dia menyukai Dewi. Tapi yang enggak saya tahu, ternyata diam-diam mereka menusuk saya dari belakang." Sea melihat ada pancaran kesakitan dari wajah Bram.

"Oh my God, terus sekarang apa langkah selanjutnya?" tanya Sea hati-hati.

Bram mengedikkan bahunya. "Saya tahu kamu sudah lapar. Ayo kita makan." dengan wajah bersinar macam piring baru dicuci, Sea bersemangat mengikuti langkah Bram dari belakang. Bram memang lelaki jantan yang bisa dijaga janjinya. Dia mengajak Sea makan di restoran Italia dan boleh memesan apa saja sesuai keinginan Sea.

Saat memasuki restoran, Sea nampak kikuk karena pakaiannya terlalu sederhana untuk berada di restoran mahal ini. Seorang waitress cantik menunjukkan tempat untuk mereka dan memberikan buku menu. Mata Sea hampir copot saat tahu harga-harga makanan yang tertera. "Apa enggak kemahalan disini, Bram? Uangku enggak cukup kalau mau patungan sama kamu loh." bisik Sea sambil menutupi wajahnya dengan buku menu yang dipegangnya.

"Untuk masalah itu tenang saja." balas Bram.

"Bram, tapi aku enggak terlalu tahu sama makanan Italia. Kamu saja deh yang pesenin." ujar Sea malu-malu.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!