6. Di Sudut Coffebean

1.9K 148 0


Ini gila!! Gila!! Keterlaluan banget. Sea terus mengetuk-ketuk kepalanya sendiri berusaha menghilangkan pikiran gilanya. Sea menghabiskan segelas air es yang baru dituangkannya dengan sekali teguk. Terasa kerongkongannya kering seperti padang tandus. Bagaimana bisa seseorang yang asing bisa tiba-tiba memaksa masuk ke dalam hidupnya dan seketika dunianya berubah. Ini semua gara-gara Bram!! Dengan mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di coffebean saja membuat otaknya dengan cepat mendidih.

Beberapa jam yang lalu,

"Saya akan memberikanmu apa saja asal kamu mau membantu saya, Sea." Bram memohon pada Sea sambil memasang wajah sedihnya. "Kamu tahu, saya masih sangat mencintainya. Saya enggak mau dia pergi ninggalin saya gitu saja tanpa alasan. Kamu sebagai perempuan pasti bisa bantu saya dengan bicara baik-baik dengannya." Sea menghela nafas panjang.

Dirinya hanya sebagai penyiar radio bukan sebagai pakar rumah tangga. Kebanyakan para pendengarnya sebatas anak muda yang curhat masalah tugas sekolah atau kuliah dan masalah pacaran layaknya anak muda jaman sekarang. "Aku..aku enggak tahu apa yang harus aku lakukan, Bram. Aku enggak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang. Lagian aku-"

"Saya pemilik Healty LiFe. Saya akan memberikanmu kelas aerobik, kelas yoga atau keanggotan gratis seumur hidup." potong Bram cepat. Sea melotot seakan dua biji matanya akan loncat keluar. "Asal kamu mau membantu saya. Aku memohon bantuanmu sebagai seorang penggemar beratmu, Sea Cihuy."

Sea mengusap wajahnya dengan gusar. Ini bukan ranah yang bisa dia masuki seenaknya. "Dengar ya Bram, aku berterima kasih karena kamu sudah jadi penggemar beratku tapi aku enggak ada pengalaman masalah seperti ini." nada suara Sea terdengar sangat frustasi.

"Untuk apa kamu nerima curhatan pendengarmu dan memberi mereka solusi. Kenapa saya enggak bisa kamu bantuin?"

"Itu beda masalahnya. Aku enggak bisa Bram. Sorry to say, aku tetap enggak bisa bantu kamu. Aku harus pergi. Permisi." Sea pergi meninggalkan Bram yang masih diam tanpa bisa dia tahan.

Sea

"Selamat malam pendengar setia MX Radio. Kembali lagi sama Sea Cihuy. Malam ini seperti biasa Sea bakalan buka sesi curhat di line telepon 6522944. Kayaknya sudah ada yang nelpon nih. Halo."

"Halo kak Sea." suara cempreng seorang perempuan terdengar.

"Halo juga. Siapa nih dan dimana?" tanyaku.

"Ini Caca kak di Jagakarsa. Aku mau curhat dong tentang pacarku." aku menghela nafas denga rakus.

"Iya Ca, aku siap dengerin. Kamu mau curhat apa?"

"Aku sayang banget sama pacarku, kak. Tapi dia enggak sepenuhnya sayang sama aku. Dia itu selalu memperlakukanku seenaknya saja. Bahkan dia nyuruh aku untuk berubah jadi orang lain.." ada jeda sedikit dari Caca. Dia terdengar menghembuskan nafas dengan kasar. "aku kan bigsize kak, dia minta aku untuk kurus. Dia pengen aku kayak mantannya. Dia..hiks..hikss" benar dugaanku Caca akan menangis. Tapi kok?

"Halo kak Sea, masih dengerin aku kan?" pertanyaan Caca seketika membuatku terkesiap.

"Iya dong Ca. Aku masih dengerin kamu. Aku kasih jawaban nih ya, jadi pacar kamu minta kamu untuk berubah seperti mantannya dulu? Satu sisi dia memperhatikan kesehatanmu karena dia pengen kamu sehat, kamu tahu kalau orang gemuk itu beresiko? Hahaha sama kayak aku deh aku juga mengalami hal kayak gini." apa yang aku tertawakan? Kenapa tiba-tiba ulu hatiku nyeri?

"Kak Sea juga digituin sama cowoknya? Disuruh diet ya?"

"Hahaha..kenapa jadi aku ya yang ditanya? Iya, pacarku minta aku bisa mempercantik diri dengan diet. Tapi Ca, dietnya harus bener jangan sembarangan. Oke, back to topic dan sisi yang kedua, kenapa harus membandingkan kamu sama mantannya? Sorry ya sebelumnya, kalau emang pacar kamu sayang dan cinta sama kamu apa adanya, dia akan menerima apapun keadaanmu. Karena cinta enggak dilihat dari bentuknya semata. Tapi tetep saranku, kamu kalau memang pengen berusaha membahagiakan dia, coba dimulai dengan cara membahagiakan dirimu dulu." aku menghirup nafas. Kenapa seketika studio yang dingin terasa menyesakkan?

"Oh gitu kak? Makasih ya kak buat solusinya. Aku boleh request lagunya Justin Bieber yang love your self? " suara Caca berubah sumringah.

"Tentu, oke sama-sama ya Ca sudah mau berbagi cerita sama pendengar semua. Pokoknya kalian yang di luar sana, kalau ingin menjaga berat badannya please, dengan cara yang wajar saja. Jangan pakai acara diet-diet keras yang ujungnya akan membahayakan. Olahraga juga cukup untuk diet. Kayak aku gitu, tiap pagi lari-lari manja di taman dan kadang diajak nge-gym sama Delia. Oke ya Ca thank you banget sudah nelpon." aku bersiap untuk mematikan sambungan telepon. Namun Caca menahannya.

"Kak, kelanjutannya kisah si Bram gimana ya? Apa dia beneran meninggal atau enggak? Habis di grup whatsapp aku, semua pada ngomongin Bram. Kakak sudah ketemu dia?" tanya Caca

Apa? Kenapa tiba-tiba Bram disangkut-pautkan coba? Astaga, apa yang harus aku katakan ke para pendengarku? Ini bukan kali pertama mereka menanyakan Bram padaku?

"Oke deh kalau kakak enggak mau jawab, enggak apa-apa. Selamat tugas sampai tuntas ya kak. Malam."

Dari balik kaca jendela tepatnya di ruang operator, nampak mas Ubit terkekeh. Sungguh menyebalkan dia. Siaran berakhir sekitar 10 menit yang lalu. Aku dan mas Ubit masih saja duduk di ruang tengah di studio tapi aku lebih sibuk dengan ponsel. Sebenarnya bukan sibuk, aku masih berusaha menghubungi Ardhan yang hilang bagaikan ditelan buaya. Aku kesal karena Ardhan tetap enggak bisa dihubungi.

"Lo baik-baik aja kan?" tanya mas Ubit yang duduk disebelahku. Aku rasa dia sedari tadi memperhatikanku yang lagi merana ini. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Masih enggak ada kabar dari Ardhan?" tanyanya lagi dan aku mengangguk lagi. "alasan dia ke Pontianak buat kerja kan? Sesibuk-sibuknya orang kerja, kenapa pakai acara matiin ponsel sih? Sudah tahu itu adalah benda berharga buat semua orang. Iya enggak?" aku diam. Benar juga, ponsel di jaman sekarang seperti 'soulmate' manusia. Tanpa benda itu, hidup hampa. Apalagi buat seorang Ardhan yang notabene workaholic, apa iya dia enggak berhubungan dengan kliennya melalui ponsel? Atau..enggak Sea, kamu enggak boleh punya pikiran aneh-aneh. Ardhan disana kerja! Ya, kerja

Kalau ketauan Ardhan, aku akan diceramahin habis-habisan. Kenapa? Karena aku lagi mengkonsumsi mie instant di tengah malam. Yup, sepulang dari MX Radio, perutku kelaparan dan kebetulan aku sedang ingin makan mie instant rasa kari ayam kesukaanku. Dengan asap yang masih mengepul, aku berjalan membawa mangkok berisi mie menuju balkon. Memandangi langit Jakarta di jam 3 seperti ini rasanya teduh sekali. Kelap kelip dari lampu jalanan membuat siapapun merasa damai, berbeda sekali kalau pagi sudah tiba. Asap, keruwetan jalanan akan membuat orang menjadi hipertensi dadakan.

Suit.. Suit..

Aku tertegun mendengar siulan seseorang. Aku membeku di tempat. Perlahan aku menaruh mangkok keramik di atas meja kecil tepat di sebelahku duduk. Mana mungkin ada suara orang bersiul yang terdengar di lantai tujuh ini. Di depan hanya ada gedung perkantoran yang pastinya sudah enggak ada siapa-siapa lagi. Ditambah kamar sebelah kanan kiri kosong enggak berpenghuni. Jangan bilang ini ulah tuyul kecil. Buru-buru aku menghilangkan pikiran aneh yang sempat mampir di otakku. Aku berjalan jinjit menuju dinding pemisah balkon dengan balkon kamar sebelah kanan. Aku yakin kalau disebelah enggak ada siapa-siapa. Pelan-pelan aku memanjangkan leher untuk melihat ke balkon sebelah. Dan..

"Aarrggghhhhhh...." jeritanku melengking sambil menutup mata dengan tangan.

"Sstt...ini saya. Jangan teriak. Hey diam!" aku membuka matanya.

"KAMMUUU?" aku melotot membuat dua bola mataku melompat keluar.

Udara semakin dingin menusak tulang dan aku masih setia menemani Bram curhat yang dibatasi tembok putih. "Maka dari itu saya minta bantuanmu, Sea. Saya ingin bicara baik-baik sama mantan istri saya." kata Bram selesai bercerita. Ternyata sudah beberapa hari ini Bram menempati apartemen sebelah. Dia pun sudah mengaku kalau dirinya lah yang mengirimi boneka panda dan sarapan untukku. "Please jangan diam saja dong, Sea. Saya masih sangat mencintai dia. Saya janji kalau misi ini berhasil saya akan menjauh dan pergi dari hidupmu." Bram tetap bersuara.

"Aku enggak berpengalaman masalah ini, Bram. Kan sudah aku bilang mulai dari kamunya yang introspeksi diri kenapa bisa dia ninggalin kamu." aku akhirnya angkat bicara.

Bram menghembuskan nafasnya dengan berat. "Mungkin kamu benar. Saya pasti punya kekurangan yang tanpa saya sadari sudah membuatnya pergi. Baiklah saya enggak mau maksa kamu lagi. Saya enggak mau menyeretmu dalam masalah rumah tangga saya. Oke terima kasih sudah mau jadi teman curhat. Bye, Sea." aku merasakan kalau Bram kembali masuk ke unitnya dan menutup pintu balkon. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hilang saat Bram permisi barusan. Sepertinya Bram memang harus ditolong.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!