3. Hangout

3.9K 228 10



Sea tidak menemukan siapa-siapa di rooftop gedung. Apa dia hanya menjadi korban kejahilan pendengar setianya? Entahlah yang pasti Sea harus buru-buru kembali ke ruang siaran. Bahkan setelah Bram menelepon itu muncul, banyak pesan ataupun panggilan masuk yang menanyakan kebenaran tentang si penelepon misterius itu.

"Gimana?" tanya Ubit penasaran saat acara siaran sudah selesai.

"Apanya yang gimana?" tanya Sea balik.

"Lelaki frustasi yang pengen bunuh diri tadi. Lo beneran enggak nemuin siapa-siapa di rooftop tadi?" kini Ubit memasang wajah kepo maksimalnya.

Sea mengedikkan bahunya. "Kan tadi aku sudah jelasin kalau itu cuma hoax. Cuma orang iseng doang yang ngerjain aku." Sea langsung menyambar tasnya. "ya sudah mas aku balik duluan. Bye mas Ubit."

Sea masih tidak habis pikir tentang penelepon gilanya itu. Dari awal pria yang mengaku bernama Bram itu memang sudah aneh. Suaranya itu loh yang bisa bikin bulu kuduk merinding disko. Selama dia bekerja sebagai penyiar, baru sekali ini peneleponnya mengerjai dirinya. Dilirknya jam digital yang berada di dashboard mobil menunjuk pukul 02:02. Sea tersenyum lebar saat melihat jam menunjuk angka yang sama dengan menitnya. Dia percaya kalau melihat angka yang sama pada jam tanpa sengaja, itu tandanya ada yang kangen dengan dirinya. Mitos yang aneh.

Rasanya tubuh Sea habis digebuki orang se-kelurahan. Pegal semuanya.
Sesampainya di depan apartemen, Sea merasakan ada seseorang yang sejak tadi mengintainya. Dia semakin panik karena pintunya tidak mau membuka karena salah memasukkan kode kombinasi. Setelah berhasil, Sea langsung menghambur ke dalam dan menutupnya dari dalam rapat-rapat. Di balik pintu Sea merapatkan tubuhnya dengan tas ransel yang dia bawa sambil mulutnya tidak berhenti komat kamit melantunkan doa.

"Itu jangan-jangan Bram. Atau malah....hantunya Bram." gumam Sea sambil bergidik.

**

Cahaya matahari masuk dari celah tirai di kamar Sea. Membuat perempuan hobi makan itu bangun. Rutinitas pertamanya saat bangun tidur adalah mengecek ponselnya apa ada telepon atau pesan dari Ardhan. Tapi pagi ini hasilnya nihil. Tidak ada apapun yang dikirim Ardhan. Pikirnya mungkin Ardan belum bangun mengingat ini weekend. Sea berjalan menuju dapur dan membuat sereal kesukaannya. Ponselnya tiba- tiba bergetar..

Satu pesan diterima Sea dari Ubit.

Mas Ubit MX : Sea, banyak yang nanya nih tentang Bram ke gue!!!

Alis Sea bertaut. Bram? Sea kurang paham dengan yang dibicarakan Ubit. Dengan cepat dia membalas pesan tersebut.

Sea : Bram siapa mas?

Tidak sampai satu menit balasan diterima Sea.

Mas Ubit MX : Bram si penelepon misterius kemarin itu loh. Kita harus cari tau siapa dia sebenernya....

Sea memutar matanya gemas membaca pesan dari Ubit yang berkhayal menjadi seorang detektif dan memilih tidak menanggapinya. Sea ingin menikmati waktu santainya dengan menonton acara infotainment kesukaannya sambil ditemani setoples kripik jagung balado. Lalu ponselnya berdering dan terpampang nama Ardhan di layar.

"Halo my honey bunny sweety." sapa Sea dengan manja sambil kedip-kedip nakal. Padahal kan Ardhan tidak akan lihat juga.

"...." seketika wajah Sea muram.

"Kok dadakan sih ngasih tahunya? Kapan baliknya?" tanya Sea sedih. Dia beranjak dari ruang tv menuju balkon.

"..." Sea menggigiti kuku-kukunya. Kebiasan buruknya kalau sedang dilanda gugup.

"Ya sudah tapi kamu hati-hati aja disana. Makan yang teratur, jangan jelalatan sama perempuan disana. Jangan genit-genit. Satu lagi, aku titip oleh-oleh."

"..."

"Iya aku inget pesan kamu kok. Love you too." Sea meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang berada di sampingnya dan mengusap wajahnya gusar. Dia berdiri di pagar pembatas sambil memandangi langit Jakarta yang lumayan terik di pagi hari. Moodn-nya di weekend ini harus berantakan karena Ardhan akan meninggalkannya sementara ke Pontianak untuk kunjungan kerja. Akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan sahabatnya daripada harus mati gaya sendirian di apartemennya.

Sea melajukan mobilnya menuju restoran cepat saji untuk bertemu Ubit dan Delia. Rupanya kedua sahabatnya itu sudah menunggu.

"Lama banget sih lo. Kebiasaan ngaret mulu kalau ketemuan." geram Delia sesaat Sea tiba. Bukannya merasa bersalah, Sea justru mencomot kentang goreng pesanan Delia. Beda dengan kedua perempuan rempong, Ubit yang tenang memilih sibuk berduaan dengan ipad kesayangannya.

"Sorry, Del tadi aku bingung mau pakai baju apa." jawab Sea masih dengan mulut mengunyah kentang goreng. "mas Ubit kalem banget sih kalau sudah wi-fian gratis. Eh mas tahu enggak sampai saat ini banyak notif di facebook yang nanya tentang Bram." ujar Sea dan langsung duduk di sebelah Ubit. Ubit hanya bergumam menanggapi Sea. Matanya masih saja terpaku di layar ipadnya. Merasa kesal, Sea pun mengacak-acak layar tersebut.

"Lo mah Sea, tuh kan nyebur semuanya!" seru Ubit yang asyik main Zombie Tsunami.

"Habisnya mas Ubit nyebelin ah." Sea bangkit lalu menuju kasir untuk memesan makanan. Tiga menit kemudian, Sea kembali dengan nampan berisi satu paket hemat menu serba ayam.

"Astaga Sea! Lo laper apa khilaf?" tanya Delia.

"Laper mami Delia." jawab Sea dengan cengiran khasnya.

"Huss..jangan panggil mami kalau di outdoor gini. Nanti gue dikira mami-mami yang jualin anak perawan lagi." protes Delia. Sea tidak menanggapi dan sibuk menghabiskan makanannya.

"Habis ini kita karaokean yuk." usul Ubit yang langsung dapat anggukan dari Sea dan Delia.

**

"Eh lagu apa duluan nih?" tanya Ubit sambil memilih-milih lagu di layar datar depan mereka.

"Berhubung kita bertiga, nyanyi lagunya Jessie J aja yang trio sama Nicki Minaj dan Ariana Grande." usul Delia.

"Iya aku setuju. Aku yang jadi Ariana Grandenya ya." sahut Sea. Lalu gadis bertubuh gemuk itu di 'bully' kedua temannya. "Ih kalian rese banget sih. Aku kan emang cakep unyu-unyu kayak Ariana. Hahaha.."

Setelah selesai berdebat yang memperebutkan peran sebagai Ariana Grande, Ubit dan Delia mengalah. Toh, membahagiakan orang dapat pahala kan. Bagian pertama diambil alih oleh Delia.

She got a body like an hourglass

But i can give it to you all the time

She got a booty like a Cadillac

But i can send you into overdrive (oh)

Suara Delia lebih mirip panci satu gerobak yang jatuh membuat telinga yang mendengarnya sakit. Ubit dan Sea bahkan sampai menutup telinga mereka. Kemudian bagian kedua diambil alih Ubit. Duh..kedua temannya tidak yakin kalau mas-mas bertubuh sama dengan Sea itu bisa nyanyi.

Stop and wait, wait for that

Stop hold you, swing your bat

See anybody could be bad to you

You need a good girl to blow your mind, yeah

Tuh kan, Ubit nyanyinya kejar-kejaran kayak para PKL sama Satpol PP. Suara kemana, musik kemana. Bagian reff diambil alih Sea.

Bang bang in to the room (i know you want it)

Bang bang all over you (i'll let you have it)

Wait a minute let me take you there (ah)

Wait a minute tell you (ah)

Dari ketiganya tidak ada yang bagus. Sudah lah lebih baik mereka jadi penyiar dan operator daripada jadi penyanyi.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!