30. Selamat tinggal, Jakarta!

1.7K 140 8


"Aku bukan seseorang yang ahli dalam masalah percintaan. Kisah cintaku berakhir dengan sangat memuakkan. Aku harus tahu kalau pacar yang selama dua tahun ini bersamaku ternyata adalah suami orang. Dan..yang lebih parahnya lagi istrinya sedang hamil. Sekarang kamu memintaku untuk membantu memecahkan masalahmu dengan mantan tunanganmu. Yang benar saja, Julian." ujar Sea setengah frustasi. Oh atau memang dia sudah frustasi. dIa duduk di sofa sambil membenamkan wajahnya di atas meja. "Aku enggak bisa bantu kamu. Sorry."

Julian menyeruput Caffe Latte sehabis menjelaskan sesuatu pada Bram. "Setelah itu Sea pergi ninggalin gue sendirian di Starbucks. Gue ngerasa dia punya masa lalu yang menyakitan." ujar Julian.

"Ya. Dia pasti trauma saat ini. Gue salah sudah mengenalkan lo dengannya. Julian, kalau Sea enggak mau bantu, gue mohon jangan pernah maksa dia."

"Loh bukannya lo bilang dia orang yang recommended untuk urusan percintaan terus sekarang lo minta gue untuk enggak minta bantuan lagi sama dia? Kenapa?"

"Karena.."

"Apa?" potong Julian cepat.

"Gue juga yang sudah buat dia ngerasain sakit hati yang kedua kalinya."

**

Angin malam tidak membuat Sea bergeming. Justru dia semakin menantang angin dengan duduk di roof top gedung. Sebelum mulai siaran, Sea naik ke atas gedung dengan ditemani segelas susu cokelat panas. Dalam diam dan sendiri, Sea menangis sambil menggenggam kuat mug berusaha mencari kehangatan dari mug itu. Dia menangis dan tidak ada yang boleh tahu akan hal itu. Ini tidak lepas dari Julian. Pria itu memintanya untuk membantu memecahkan masalah percintaannya dengan sang mantan tunangan yang selalu 'menghantui' dirinya.

Suara langkah kaki mendekat ke arah Sea. Hembusan angin meniupkan aroma tubuh seseorang yang sudah lama dia tidak rasakan. Tanpa perlu Sea menoleh, dia sudah tahu siapa pemilik aroma tubuh woody itu. Bram duduk bersebelahan dengan Sea dan ikut menatap gedung-gedung perkantoran yang terlihat berkelap-kelip. Dari mereka tidak ada yang berminat membuka percakapan terlebih dahulu. Selain suara desau angin, yang terdengar hanya helaan nafas mereka masing-masing.

"Sejauh apapun kamu menghindariku, aku tetap akan mencari kamu, Sea." kata Bram akhirnya membuka suara. "Aku minta maaf untuk semuanya. Ini diluar kendaliku. Ini terlalu cepat. Kalau.."

"Misi kita berhasil, Bram."

"Maksudmu?"

Sea meletakkan mug di sebelah kirinya kemudian dia bangkit dan berdiri di tepi gedung sambil merapatkan jaketnya. Bram tidak boleh tahu kalau diam-diam bulir air bening itu mulai mengendap di sudut matanya.

"Kita berhasil. Maksudku, kamu berhasil. Misi kita sudah selesai kan?"

"Sea.."

"Ini kan yang kamu mau? Masih ingat saat pertama kamu datang ke aku, kamu minta bantuan untuk bisa kembali rujuk dengan Dewi. Setiap hari yang aku dengar hanya Dewi, Dewi dan Dewi. Sekarang kamu berhasil kembali sama dia. Bahkan sebentar lagi kalian akan memiliki anak." ujar Sea dengan wajah memerah menahan emosi dan tangisnya. Rasa sesak sudah pasti menjalar di tubuhnya. Pasti dan itu tidak bisa dipungkiri. Bram ikut berdiri.

"Ini di luar kendaliku. Aku enggak ada niat menyakitimu, Sea."

"Aku enggak ngerasa kamu yang nyakitin aku. Tapi aku yang salah disini..STOP!" Sea berteriak saat Bram mencoba mendekatinya. "Aku yang salah mengartikan ini semua. Membawa misi dengan perasaan. Aku masih ingat apa yang kamu bilang saat on air kalau sampai ada seorang perempuan yang dekat denganmu, itu bukan karena sebuah perasaan tapi sebagai zona nyamanmu."

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!