27. Sea dan Lukanya (Lagi)

1.6K 129 22


Sea

Huwwwaaaa!!! Aku berteriak kencang saat mendapati Bram tengah duduk manis di tepi ranjangku. Dia tersenyum sumringah melihatku. Bagaimana bisa dia menerobos masuk unitku?

"Kamu kenapa disini?" tanyaku dengan tatapan melotot. Dan astaga!! Aku masih dalam keadaan kucel dengan piyama pink lusuh kesayanganku yang bergambar princess Aurora. Langsung saja aku menutup wajahku dengan bantal. Ini pasti mengerikan!! Ceplakan bantal di pipi, mata sembab plus rambut berantakan menambah kesan horror pada diriku. Kontras dengannya yang sudah wangi dan rapi.

"Mandilah biar aku yang buat sarapan." perintah Bram sambil berlalu dari kamarku. Setelah dirasa cukup aman, aku berlari menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, aku selesai. Berpakaian normal khas rumahan, aku menuju pantry. Rupanya Bram tengah sibuk menggoreng telur untuk sarapan kami. Di meja sudah tersaji susu cokelat low fat dan dua lembar roti tawar serta keju cheddar.

"Maaf ya aku enggak bisa masakin kamu. Habis hanya ada telur di lemari es." katanya sambil meletakkan telur goreng ke atas lembar roti tawar.

"Enggak apa-apa. Aku bisa sarapan dengan apa saja kok." jawabku. Entah mengapa hari ini Bram terlihat manis. Jauh dari kesan yang menyebalkan. Semakin hari aku semakin merasa kalau aku..jatuh cinta padanya. Oke, maaf kalau berlebihan. Tapi aku berani bertaruh kalau kalian merasakan jatuh cinta pada seseorang, kalian akan merasa tersenyum sepanjang hari. Memang aku belum sepenuhnya mempercayakan hatiku padanya. Namun aku yakin seiring berjalannya waktu, aku akan meletakkan hatiku pada seorang Bram. Aku akan mengatakannya sendiri hubungan seperti apa yang tengah kami jalani ini.

"Kenapa malah bengong?" tanya Bram tiba-tiba dan membuatku terkejut karena wajahnya persis berada di depanku.

"Ah enggak apa-apa. Hmm..aku lapar. Mari makan." aku melahap potongan sandwich buatan Bram dan aku rasa tidak buruk. Tingkat kematangan telur dan rasa telur pas. Oh aku seperti chef Juna saja.

"Aku akan ke Malaysia hari ini." ucap Bram yang seketika membuatku berhenti mengunyah. "ada beberapa meeting besar disana dan.."

"Berapa lama?"

"..sekitar dua minggu."

"Baiklah. Tapi aku boleh mengantarmu ke bandara?"

"Tentu saja, queen bee."

Aku hanya bisa diam tanpa berceloteh sedikitpun sepanjang jalan menuju bandara. Kami menumpang taksi dan aku hanya membuang pandangan ke jendela. Aku merasa ada sentuhan hangat menjalar di tanganku. Saat aku menoleh, Bram tersenyum. Apa aku kuat ditinggalkannya? Aku takut. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang aku takutkan? Kami akhirnya tiba di bandara Soekarno Hatta. Jalanan macet tadi membuatku enggak bisa berlama-lama dengan Bram sampai menunggu waktu keberangkatan.

"Bram.."panggilku. Dia menoleh. "Boleh aku bertanya satu hal?"

Jantungku berpacu dengan cepat seperti marching band. Apa aku harus mengatakannya sekarang? Tentu saja, Sea. Kau harus mengatakannya sebelum terlambat. Bram kembali meghampiriku,

"Kita..maksudku, hubungan kita sekarang seperti apa?" tanyaku dengan sekali tarikan nafas. Mataku memanas menahan butiran bening menetes. Tanpa menjawab, Bram menarikku ke dalam pelukannya.

"Tetaplah seperti ini. Tetaplah bersamaku, Sea. Jangan tinggalin aku. Aku janji, setelah selesai urusanku, aku akan mengatakan yang sebenarnya." katanya.

Air mataku tumpah. Bukan ini jawaban yang aku mau. Bram enggak mengatakan apa-apa. Hanya memintaku menunggu sebentar lagi. Tapi untuk apa? "sebentar lagi pesawatku berangkat. Take care, my queen bee." Bram melepaskan pelukannya kemudian mencium keningku dengan lama. Tuhan, sebentar saja seperti ini. Aku menatap punggungnya yang lebar memasuki ruang check-in sambil mendorong koper hitam besar miliknya. Aku mencintaimu, Bram.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!