15. Tamu Tak Diundang

1.5K 121 2

Satu buah tas besar berwarna hitam sudah mengambil tempat di bagasi mobil Sea. Sang empunya mobil hanya mendelik kesal melihat bagasi mobilnya seketika penuh. Belum lagi tas miliknya yang belum mendapatkan tempat.

"Sekalian saja kamu bawa koper." sindir Sea sambil memasang wajah menakutkannya pada Bram.

"Bawa koper? Emang mau berapa hari disana? Sebulan?" jawab Bram tanpa dosa. Dengan seenak bodongnya dia duduk di kursi sebelah kemudi. "Hey, Sea ayo masuk nanti kita ketinggalan rombongan nih." perintahnya lagi.

Hampir saja Sea akan mengumpat dengan makian, namun Delia langsung menenangkannya. "Enggak baik ngomel sama duda keren. Nanti lo malah naksir." begitulah Delia meledeknya. Dengan santainya Bram tertidur selama perjalanan. Begitupun dengan Delia. Tinggallah Sea yang mengemudi sendiri tanpa ada yang menemaninya sekedar untuk membunuh kejenuhan. Sebuah gerakan kecil menyenggol lengannya. Rupanya Bram sudah bangun dari mimpi di siang harinya. Pria itu menguap lebar sambil merentangkan tangannya.

"Hey, jangan ganggu konsentrasiku dong!" pekik Sea.

Bram seketika menoleh ke arahnya. "Apa yang sudah saya lakukan? saya saja baru bangun." jawab Bram.

"Tanganmu jangan sampai menutup pandanganku. Bahaya tau!"

"Jangan salahkan tanganku, Sea. Salahkan saja mobilmu yang terlalu kecil."

"Kenapa jadi mobilku yang disalahkan? Aku kan juga enggak ngajak kamu numpang di mobilku, kamunya saja yang nyelonong masuk kemari."

"Ih kalian berisik banget sih. Ganggu gue tidur saja." suara Delia mengintrupsi pertengkaran kecil antara Bram dan sahabatnya itu.

"Sini deh gantian aku yang nyetir. Bagaimana?" Bram menawarkan. Tak ada salahnya kan kalau mengistirahatkan tubuh untuk persiapan acara nanti malam di villa milik Elly, pikir Sea. Kemudian Sea meminggirkan mobilnya di bahu jalan dan keluar dari mobil. Meskipun perjalanannya hampir sampai di tujuan, istirahat sebentar seperti ini justru sangat berharga.

***

Elly sang pemilik villa mengatur kamar untuk para tamunya. Ada sekitar sepuluh orang yang ikut dalam rombongan. Terdiri dari enam orang pria dan empat orang perempuan. Sea dan Delia satu kamar di lantai dua dengan Elly dan Sasa-sepupu Elly. Sedangkan para pria tidur di lantai bawah dengan dua kamar yang tersisa. Bram kebagian tidur dengan Ubit dan Feri-pacarnya Elly. Sesampainya di kamar, Bram memilih untuk mengambil tempat di dekat jendela yang langsung menghadap ke hamparan kebun teh yang luas.

"Bro, gue enggak bawa handuk nih kelupaan. Gue pinjem handuk lo ya." kata Feri pada Bram.

"Oh silakan saja, bro." Bram membongkar tas besarnya untuk mengambil handuk.

"By the way, lo siapanya Sea?" tanya Feri.

"Saya hanya rekan kerjanya Sea." Bram melemparkan handuk putih itu sambil tersenyum tipis lalu dia membuka lebar jendela yang terbuat dari kayu jati itu sambil menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. Dia menghirup udara di siang hari yang sedikit mendung dan basah. Tanpa Bram sadari, Ubit dan Feri memperhatikannya. Udara di luar sangat dingin ditambah dengan derasnya hujan yang sejak satu jam lalu turun. Sea dan para perempuan lainnya sedang sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Sea duduk di kursi pantry sambil sibuk mengupas apel.

"Sorry ya, girls. Harusnya gue bilang ke bibi kalau kita mau dateng. Jadi kita enggak perlu repot-repot masak." ucap Elly dengan mimik sedihnya.

"Santai saja mbak. Untung Sasa hobi masak jadinya kita enggak kelaperan kan?" Sasa menimpali. Tangan kecilnya dengan cekatan mengaduk saus asam manis untuk campuran ayam goreng. Elly memeluk Sasa dari belakang. Usia mereka hanya terpaut dua tahun jadi mereka sangat akrab.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!