2. Penelepon Misterius

4.1K 221 0

Sea memacu mobilnya santai di jalanan ibu kota. Beruntung setiap hari dia siaran malam jadi tidak perlu merasakan yang namanya kemacetan. Sesampainya di gedung Patriot dan memarkirkan mobilnya, Sea langsung menuju warung kecil yang ada tepat di sebelah gedung. Biasanya jam seperti ini, bu Nani—pemilik warung—baru akan menutup warungnya.

"Baru datang mbak Sea?" tanya bu Nani.

"Iya nih bu. Jangan tutup pokoknya kalau aku belum dateng ya." kata Sea. Bu Nani hanya mengulum senyum. "Aku beli roti sama susu, bu. Ini uangnya." Sea memberikan selembar uang lima puluh ribuan.

"Yah mbak Sea bawa saja dulu deh enggak ada kembaliannya. Barusan uangnya dibawa sama suami saya." kata bu Nani.

"Yasudah deh. Besok saja ya bu. Makasih loh. Aku masuk dulu ya."

"Siap mba Sea santai saja. Saya nanti rikues ya lagunya bang Haji Rhoma yang judulnya menunggu." seru bu Nani sebelum Sea masuk ke dalam gedung.

Waktu siaran tinggal lima menit lagi dan Sea memilih membaca-baca materi yang akan dibawakannya malam ini bersama Ubit. Ponselnya bergetar pertanda satu pesan masuk. Seketika wajahnya sumringah saat pesan yang Sea terima berasal dari Ardhan.

My Ardhan : Udah sampe MX blm yank?

Segeralah dia balas pesan itu.

Sea : Udah..nih lagi baca materi. Kamu jgn lupa istirahat. Banyakin minum air putih jangan minum cola mulu 

"Sea, yok masuk!" panggil Ubit. Sea menggangguk lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mengikuti langkah Ubit masuk ke dalam ruang siaran. "Materi sudah siap kan? Oh ya nanti buka line telepon di nomer biasa. Jangan lupa nomernya." jelas Ubit sebelum dia memasuki control room. Sea membentuk huruf O dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

"Three, two, one.." ucap Ubit memberikan aba-aba. Backsound Happy Night pun terdengar.

"Selamaaaat malaaammm pendengar setia 88,4 FM MX Radio. Ketemu lagi di acara Happy Night. Bagaimana hari Jum'at kalian? Hmm semoga menyenangkan ya. Tenang, ada Sea Cihuy yang akan menemani waktu santai kalian dengan lagu-lagu hits dan info menarik. Enggak cuma itu Sea akan buka line telepon khusus para galauers di luar sana. Oke, sudah pada hapal kan nomer teleponnya. Kalau begitu Sea akan balik lagi setelah lagu umbrella milik Rihanna. Enjoy it."

Sea menghela nafasnya dengan rakus. Seakan dia benar-benar kehilangan oksigennya. Selagi pemutaran lagu, Sea menikmati sebungkus roti sandwich keju dan sekotak susu cokelat yang tadi dibeli di warung bu Nani. Tangan kakinya ikut bergoyang mengikuti lagu.

Tok..tok..

Sea menoleh dan melihat Ubit meledeknya dengan menggembungkan pipi dan memperlihatkan perutnya yang buncit. Sea membalasnya dengan memeletkan lidahnya. Ubit melepas headphonenya lalu membuka sedikit kaca penghubung antara ruangannya dengan ruang siaran.

"Kapan program dietnya selesai lo?" tanya Ubit.

"Belum juga mulai, mas." Sea terbahak-bahak sampai menyemburkan sedikit sisa roti di mulutnya. Sudah lima tahun Sea menjadi penyiar di MX Radio bersama Ubit sebagai operatornya maka dari itu Sea dan Ubit sangat akrab. Kalau ditanya tentang suka dukanya menjadi penyiar Sea akan menjawab sukanya adalah bisa bantu orang yang lagi kegalauan sekaligus memberi mereka solusi semacam buka konseling gratis. Dan bagian tidak enaknya karena mau dandan sekeren apapun tidak ada yang lihat.

"Diet dong biar aa Ardhan makin klepek-klepek sama lo." ledek Ubit.

"Yah dia mah mau aku gendut tetap saja dia cinta sama aku." balas Sea.

"Iya deh iya daripada gue disembur sama lo. Eh on air lagi nih." Ubit menutup kembali kaca lalu mengisyaratkan kalau acara akan kembali on air. Sea cepat-cepat menghabiskan roti dan susunya lalu memakai kembali headphone.

"Ready? Three, two, one." kata Ubit memberi aba-aba kembali.

"Welcome back to 88,4 FM MX Radio. Nah seperti yang Sea janjikan tadi, Sea akan buka line telepon di 6522944. Kalian bisa curhat apa saja malam ini, masalah kerjaan, tugas sekolah atau kampus, masalah cinta apapun itu sharing sama Sea disini. Hmm sepertinya sudah ada yang masuk nih. Coba Sea check." Sea menekan tombol hijau. "Halo selamat malam. Siapa nih?" tanya Sea.

Belum terdengar apa-apa di seberang sana yang ada hanya suara angin yang berhembus kencang.

"Halo..siapa nih? Ada yang bisa Sea bantu. Halooo." Sea melirik ke arah Ubit. Lelaki bertubuh gempal sama seperti Sea itu, mengisyaratkan agar telepon diputus.

"Halo." sebuah suara akhirnya terdengar. Suara serak dan berat khas lelaki dewasa. Agak sedikit bergidik mendengar suara lelaki tersebut. Buru-buru dia menampik pikiran horornya.

"Ini siapa dan dimana?" tanya Sea ramah.

"Saya..saya Bram dari Pondok Indah." kata lelaki itu dengan terbata-bata.

"Oh Bram. Ada yang bisa aku kamu ceritakan ke aku? Atau kamu mau request atau salam gitu buat pacar kamu?" Sea meminta Ubit menaikkan volume suara penelepon.

"Hmm...saya mau cerita tentang saya yang baru bercerai sama istri. Dia sendiri yang menggugat. Padahal saya masih sayang banget sama dia. Bahkan saya punya rencana mau honeymooni di Maldives."

Sea menaikkan sebelah alisnya. "Tapi dia jutsru minta cerai dengan alasan kami sudah enggak cocok. Kita menikah sudah hampir empat tahun dan.."

"Sorry ya aku potong, sebelumnya kalian pernah ribut besar gitu atau apa?"

"Enggak, Sea. Kami baik-baik saja. Ribut pun enggak sampai yang gimana-gimana. Saya rasa ada alasan yang mendasari dia minta cerai dari saya."

Terdengar Bram menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sea menggigiti kuku-kuku tangannya. Dia harus bisa memberikan masukan atau solusi untuk pendengarnya. Tapi jujur, dia tidak berpengalaman dengan masalah seperti ini. Apalagi masalah rumah tangga. Selama ini kebanyakan para pendengarnya anak-anak muda yang bahas masalah pacarnya, masalah tugas kuliah atau sekolah bukan masalah perceraian.

"Begini saja Bram, kamu temui dia lagi. Bicarakan baik-baik. Mengingat kalian sudah hampir empat tahun bersama kan. Sorry, kalian sudah punya anak?"

"Belum." Wow, duren man! Sea menggeleng cepat. Ingat, dia lagi buka konseling. "halo Sea. Kamu masih denger saya kan?" Sea pun terkesiap. Ini semua gara-gara duda. Loh?

"Ya Bram aku masih disini. Ya sudah seperti yang tadi aku bilang, ada baiknya kalian omongin baik-baik. Siapa tahu bisa rujuk kan? Kalaupun kalian sudah enggak mungkin bersama tapi seenggaknya hubungan baik antara kamu dan mantan istri enggak buruk dong. Oke makasih loh sudah mau berbagi cerita. Pokoknya aku doain yang terbaik saja buat kamu. Makasih ya sekali lagi." ujar Sea hati-hati karena takut menyakiti perasaan peneleponnya itu.

"Tunggu.." kata Bram. Ubit terkejut hampir saja dia menekan tombol off.

"Iya kenapa lagi Bram?" tanya Sea.

"Saya enggak sanggup untuk hidup sendiri. Saya lebih baik mati. Sekarang, saya sudah berada diatas gedung MX Radio."

Mata bulat Sea hampir copot saat mendengar pengakuan Bram. Dia meminta bantuan sama Ubit dan pria itu hanya mengedikkan bahu. Sea bingung kalau sampai Bram benar-benar bunuh diri saat on air di acaranya.

"Oke thanks ya Bram untuk ceritanya dan untuk kalian yang masih ingin berbagi cerita sama Sea, jangan kemana-mana Sea akan kembali tapi setelah lagu yang berikut ini. Enjoy it."

Buru-buru Sea keluar dari ruang siaran dan menuju rooftop gedung MX Radio. Sea berlari menuju lift untuk naik ke lantai lima. Dengan nafas tersengal-sengal, Sea mencari sosok Bram yang di rooftop. Tapi...

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!