31. Hidup Baru untuk Kita

1.6K 116 3

To : Bram

Jika nanti pada akhirnya sama-sama tersakiti, akulah yang memilih dulu untuk pergi. Dan aku enggak akan menahan dia pergi jika memang dia sudah enggak mencintai lagi. Tapi jangan pernah sedikitpun kita mempunyai rasa benci. Sebab itu hanya membuat kita menguras hati. Karena ketika hati ingin mencari seseorang yang lebih berarti terkadang kita malah dipertemukan dengan seseorang yang enggak pernah menghargai. Disitulah jangan pernah kamu sesali ketika dulu pernah meninggalkan dia sendiri. Sesungguhnya yang terbaiklah yang akan kembali. Dan itulah yang dinamakan cinta sejati , tanpa suatu paksaan dan tulus dari hati.

Saat kamu baca surat ini, mungkin aku sudah enggak di Jakarta lagi. Kenapa aku lebih memilih menyampaikan semua dengan menulis surat bukan dengan sms karena aku ingin surat tulisan tanganku ini menjadi penghubung antara kamu dan aku dan bisa menjadi bukti otentik tentang hubungan pertemanan kita. Bram, aku enggak mau jadi orang yang enggak sopan karena main pergi gitu saja tanpa salam perpisahan. Senang sudah mengenalmu. Senang bisa menghabiskan waktu beberapa bulan ini dengan kekonyolanmu ( termasuk saat pertama kalinya kamu ikut on air ). Sstt..sampai saat ini masih ada yang penasaran denganmu loh. Hehehe

Selain surat, aku menitipkan buku novel terjemahan favoritku. Bukan maksud apa-apa aku memberimu buku. Kamu tahu, membaca bisa membuatmu sedikit relaks dan sabar. Mungkin selama ini kamu tipe pria kaku yang hanya disibukkan dengan macam-macam pekerjaan. Buku novelku ini dijamin bisa membuatmu menjadi lelaki santai namun tetap bijaksana (cieellaah bahasa gue!!)

Terima kasih, Bram. Sampaikan salamku untuk Dewi.

Sea Cihuy

"Sayaaaanngg!! Kamu dimana sih?" teriakan manja Dewi mengagetkan Bram yang tengah duduk di balkon rumahnya sambil menggenggam surat dari Sea yang entah untuk ke sekian kalinya dia baca. Surat itu dia lipat lalu diselipkan diantara halaman buku novel terjemahan milik Sea. "Kamu lagi ngapain disini?" tanya Dewi sambil memeluk lengan Bram.

"Cuma lagi ngerasain suasana sore yang mendung saja." jawab Bram enteng. Tangan kanannya mengusap perut Dewi yang semakin membuncit. Usia kehamilannya pun sudah memasuki bulannya. Sebagaimana yang sudah direncanakan keluarga besar Dewi, setelah Dewi melahirkan barulah mereka kembali dinikahkan untuk yang kedua kalinya.

"Kamu siap untuk menikah kembali denganku?" tanya Bram dengan tatapan lurus ke rerumputan hijau. Dewi yang sejak tadi menggelayut mesra di lengan Bram terpaksa mendongakkan kepalanya.

"Aku siap banget untuk menikah lagi dengan kamu. Apa jangan-jangan kamu yang nggak siap?" jelas sekali kalau Dewi gugup menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut laki-laki itu.

Bram memberikan senyumnya. "Masuk yuk, udaranya semakin dingin."

**

Sea

Astagaa..aroma apa ini? Kenapa sangat menggelitik hidungku? Aku tahu kalau mataku saja belum terbuka sempurna tapi kenapa hidungku menangkap aroma nikmat seperti ini pagi-pagi. Hidungku terus saja mengendus yang sepertinya aroma masakan ibu.

"Mbak Sea, bangun dipanggil ibu buat sarapan." teriak Mbok Parti. Tuh kan benar kalau aroma ini berasal dari masakan ibu.

"Ya sebentar mbok. Aku cuci muka dulu." sahutku setengah teriak. Lalu dengan gontai aku menuju kamar mandi dan mencuci muka asal. Ini sudah hampir delapan bulan aku di kampung halaman meniti karir lagi di MX Radio Semarang. Aku jadi ingat saat hari pertama aku siaran, banyak yang mendukungku pindah kesini. Aku jadi banyak kenal orang-orang baru, teman baru dan tentu saja pendengar baru. Tapi enggak jarang juga pendengar Jakarta yang mengirim sms saat aku on air. Beruntunglah aku enggak merasa terasing di kota kelahiranku.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!