35. Sekali untuk Seumur Hidup

2.7K 176 6


Bram

Aku enggak ingin menunggu lama-lama untuk menikahi Sea. Rasanya lima tahun lebih sudah sangat menyiksa kami berdua. Kami sama-sama tersiksa oleh perasaan masing-masing yang diliputi egois dan gengsi. Selain aku, orang yang paling bersemangat adalah Lintang. Putraku itu sangat senang saat aku beritahu kalau Sea akan menjadi ibu baru untuknya bahkan dia henti-hentinya bertanya kapan itu akan terwujud. Kami sepakat untuk menikah sehabis lebaran. Kini Lintang terlelap di pangkuanku. Aku mengusap rambut tebalnya dengan lembut. Sebuah sentuhan hangat membuatku menoleh. Di sebelahku ada Sea yang sedang tersenyum.

"Mikirin apa sih?" tanyanya dengan lembut. Aku hanya menggeleng lalu membalas menggenggam tangannya. Sea enggak berubah. Dia tetap pribadi yang hangat. Mood boosterku. Aku jadi malu kalau pernah melukai perasaannya.

"Aku cuma enggak nyangka kaauo kita akan nikah sebentar lagi." ujarku.

"Aku nyangka kok" lirih Sea yang langsung aku tertawai. Pipi Sea menggembung dan memerah macam tomat. "Kenapa ketawa?"

"Enggak apa-apa. Terima kasih ya, sayang."

Sea terkejut saat pertama kalinya dia dengar aku memanggilnya dengan sebutan sayang. Aku rasa perutnya merasa tergelitik seperti ada ribuan kupu-kupu di dalamnya.

"Setelah di sampai Jakarta, kita bermalam di rumah orang tua almarhumah Dewi karena mereka katanya kangen banget sama Lintang. Kamu enggak keberatan kan?" tanyaku.

"Tentu saja enggak, Bram. Kasian juga Lintang kalau enggak ketemu sama kakek dan neneknya." jawab Sea tulus.

Akhirnya kami tiba di bandara Ahmad Yani dan segera check-in karena pesawat akan berangkat sepuluh menit lagi.

Pusara itu terlihat rapi tanpa adanya rumput liar yang mengganggu. Batu nisan hitam bertinta putih itu masih terlihat bagus. Setelah berdoa, kami bertiga menyiram air wangi dan menaburkan bunga-bunga.

"Ayah, ini makam ibu ya?" tanya Lintang polos.

"Iya sayang. Ini makam ibu LIntang namanya Dewi." tambah Sea.

"Ibu aku cantik enggak, ayah?" Lintang terus saja mengoceh. Sampai akhirnya aku mengintrupsi dan menuntun anaknya itu untuk memanjatkan doa. Sebelum akhirnya aku mengajak Sea dan Lintang ke rumah almarhumah Dewi, Sea mengajak untuk bertemu dulu dengan kedua sahabatnya. Mereka sepakat untuk bertemu di resto langganan mereka. Pintu resto terbuka dan seketika suara berisik terdengar di penjuru resto.

"SEEEAAAA!!!" suara heboh Delia yang pertama terdengar membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.

"Dia masih saja berisik." bisikku di telinga Sea yang lalu dapat cubitan pedas di perut. Bahkan Lintang yang tengah asyik menikmati cokelat float dibuat menganga.

"YA AMPUN SEA SAYANG, GUE KANGEN BENER SAMA LO. SUMPAH!" seru Delia sambil memeluk Sea. Sedangkan mas Ubit membalas jabat tanganku. Kami berlima menikmati makan siang diselingi obrolan ringan.

"Duh kalo si Ania udah gede, gue jodohin sama anak lo ya, Bram." ujar Delia menyebut nama anak pertama mereka. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Lain halnya dengan mas Ubit dia malah menyenggol lengan istrinya yang kelewat narsis.

"Anak kamu kenapa enggak dibawa, Del?" tanya Sea sembari menyuapi Lintang makan.

"Si Ania lagi dipinjem sama omanya. Bener-bener deh nyokap gue sekarang lebih sayang sama anak gue daripada sama guenya." kata Delia dengan ekspresi dibuat-buat.

"Ya maklum saja, Del. Nyokapnya almarhumah Dewi juga setiap hari nelepon ke rumah cuma buat dengar suaranya Lintang" kataku menambahkan.

"Ayah, temannya berisik. Aku kan lagi main." celetuk Lintang. Tawa pun pecah di sudut resto.

On Air ( Secret Admirer )Baca cerita ini secara GRATIS!