°°
Alaram berbunyi, hari senin, hujan dipagi hari, dan macet. Adalah hal paling tidak ku sukai.
Rasanya baru sebentar terlelap, alaram sudah berbunyi menunjukan waktu hampir fajar.
Rutinitasku disetiap hari kecuali weekend memang dimulai sebelum fajar untuk mengejar kereta pagi menuju tempatku bekerja mengumpulkan receh.
Terlambat barang lima menit saja, jangan harap akan ada one fine day untukku dihari hari berikutnya.
Jakarta ternyata kejamnya bukan hanya katanya, tapi juga kenyataannya. Tidak ada kata santai untukku yang hanya seorang pendatang. Hidup jauh dari orang tua, membuatku harus terbiasa mandiri.
Pagi ini kota jakarta kembali diguyur hujan. Terhitung sejak pukul 12 dini hari tadi hujan mengguyur kota, membuat keadaan lalu lintas disekitar menjadi lebih padat dan macet diberbagai tempat.
Jarak dari tempat kosku ke tempat kerja untung tidak terlalu jauh. Meski begitu, tubuhku tetap saja kuyup akibat kecilnya payung yang kugunakan.
"Rambutnya lepek amat mbak. Percis kek kucing disiram aer kobokan."
Aku menoleh ketika mendengar sebuah olokan dari arah belakang.
"Sialan!." Dengusku kepada wanita berkemeja biru yang kini maju menghampiriku.
"Lagian, basah amat sih itu rambut. Perasaan mandi besar juga enggak kan lo?." Ledeknya lagi membuatku mendengus sebal.
Namanya Anya, sahabat karibku sejak kami kuliah. Cara bicaranya memang begitu. Tidak pernah disaring dulu. Asal ceplos dan apa adanya dia sekali.
Biar begitu, aku betah berteman dengannya.
"Resek ya lo kalo lagi laper." Komentarku yang ditanggapi Anya dengan kekehan.
"Allhamdulillah kelakuan jelek gue kalo laper cuma resek. Nggak bego kayak elo." Cela Anaya lagi yang ku balas dengan memutar bola mataku tanda, malas.
"Dari mana lo?." Tanyaku ketika sadar kalau ditangan Anya ada cangkir putih yang rupanya kosong.
"Minta sumbangan?." Ledekku membuat Anya tertawa receh.
"Pantry tadi nyeduh energen." Jawab Anya sambil menekan tombol buka pada pintu lift yang akan membawa kami naik keruangan kerja kami.
"Mana isinya?."
"Itulah gue. Energennya gue buang, cangkirnya gue bawa." Candanya yang membuatku mendorong kepalanya kebelakang secara reflek.
"Si bego." Dengusku.
Pintu lift yang kami naiki akhirnya sampai dilantai 6. Anya keluar lebih dulu, disusul aku yang mengekorinya dari belakang. Kebetulan, kami bekerja di lantai yang sama.
Kantorku ini terbilang cukup besar meski bukan kantor pusat.
"Eh Ipah!." Anya memanggilku dari bilik meja kerjanya ketika aku akan bergerak menuju ruanganku sendiri.
Kami memang berkerja dilantai yang sama, namun jabatanku terbilang keren disini. Anya hanya seorang manager keuangan diperusahaan ini sedangkan aku adalah direktur keuangannya. Meski kami berlatar pendidikan yang sama juga, namun nasib sepertinya lebih memihakku membuatku bersyukur karenanya.
"Lupa gue. Ada titipan nih." Anya menghampiriku dari meja kerjanya sembari menenteng sesuatu.
Anya memberikan sebuah kertas tebal berbentuk persegi ditangannya kepadaku.
Undangan pernikahan.
"Nggak nyangka yah. Baru kemarin lho dia nangis nangis nggak mau ninggalin lo demi cewek pilihan ibunya. Tahu tahunya sekarang malah ngasih undangan." Komentar Anya panjang lebar yang hanya ku tanggapi dengan senyuman.
Ku buka undangan berwarna merah gelap dengan ukiran namanya dan calon mempelai wanitanya. Seperti sudah mati rasa karena lelah meratapi nasib percintaanku dengan laki laki yang namanya tertulis sebagai mempelai laki laki tersebut, membuatku hanya mampu menghela nafas pajang dan tersenyum masam karenanya.
°°°
Akhir bulan, adalah hal lain yang tidak kusukai. Selain banyaknya pekerjaan yang harus kukerjakan, jam makan siangku juga jadi kacau.
Ponsel yang sengaja ku ubah dari mode dering menjadi mode getar itu tidak berhenti bergetar.
Sejak pukul 10 pagi tadi, ibuku memang gencar sekali menelfonku. Percis seperti depkoleptor yang menagih hutang. Ibuku pun demikian. Tak pandang ini masih jam kerja, ibu terus saja coba menghubungiku.
Tak tahan mengabaikan panggilan dari ibuku, setelah kami bertengkar hanya karena masalah transferan yang lupa ku kirim semalam, aku akhirnya memilih untuk menyingkirkan dulu soal pekerjaan untuk berbicara barang sebentar dengan ibuku.
"Iya, bu?."
"Asallamuallaikum, Hanif." Tegur ibu ketika aku tidak memberikan salam terlebih dahulu.
"Kenapa, bu?." Alih alih menjawab salam ibuku, aku justru to the point.
"Masyaallah ini anak." Aku yakin kalau ibu ada disampingku, telingaku sudah habis dijewernya karena tidak mengindahkan nasihatnya.
"Kan udah dijawab didalam hati juga." Dalihku beralasan.
"Kenapa ibu telfon Hanif siang bolong begini?."
"Emang kenapa kalo ibu telfon kamu siang siang begini? Ada gitu larangannya?." Sebal ibu atas pertanyaanku.
Tidak mungkin kan kalau ku bilang kepada beliau kalau telfon darinya itu menganggu? Biar bagaimana pun aku masih menghormati ibuku.
"Sibuk banget apa kamu Nif sampai nggak mau angkat telfon ibu dari pagi?."
"Kan ibu tahu ini akhir bulan. receh yang harus Hanif hitung banyak, bu." Jawabku.
"Ibu kenapa telfon Hanif?." Jujur, aku masih penasaran. Tidak biasanya ibu mencoba menelfonku sampai berkali kali begini.
"Nggak apa apa. Ibu cuma mau kasih tahu kamu, kalau sekarang lagi ada promo tiket jakarta - jogja lho, Nif." Jelas ibuku yang masih gagal kupahami.
"Ibu mau kesini?." Tanyaku yang ku dengar balasan dari ibuku adalah dengusan.
"Kamu nggak peka amat sih, Nif!." Dumel ibuku membuatku mengusap tengkukku yang tiba tiba gatal.
"Kamu nggak mau pulang apa gimana gitu denger ada promo?." Ibu kembali memancingku.
"Aduh, bu. Kalo ibu minta Hanif pulang lagi, jangan sekarang ya, bu. Kan baru minggu kemarin Hanif pulang."
Biar bagaimanapun, meski aku seorang yang memiliki jabatan yang cukup disegani disini, sering absen juga tidak baik. Setidaknya kalau tidak terlalu mendesak aku tidak akan pulang kejogja meski itu alasannya rindu.
Sebagai anak perantauan, rindu orang tua sudah jelas pasti dirasakan setiap hari. Terlebih aku adalah anak tunggal ibu dan bapakku. Tapi disini, aku sedang merintis karirku. Demi masa depanku juga.
"Ibu ada penting sama kamu, Nif." Desak ibu membuatku tidak tega mendengarnya.
"Nggak bisa ya bu diomongin disini?." Tanyaku lembut.
"Ini harus diomongin langsung, Nif." Ujar ibu membuatku menghela nafas dalam dalam.
"Nanti deh, Hanif pikirin."
YOU ARE READING
MARRIED Mr. Oh
FanfictionNamanya Hanifah Amalia. Gadis berusia 24 menuju usia dewasa. Hanifah Amalia hanyalah wanita biasa yang hidup dijaman milenial, dimana yang Hanif tahu, mencari pasangan hidup itu nggak harus berdasarkan apa yang dimau ibu dan bapaknya. Nyatanya, or...
