"Dia ingin pernikahannya ditunda lagi?"
Louisa mengangguk pelan dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
"Dan kamu menerimanya begitu saja?"
Louisa kembali mengangguk untuk kedua kalinya, kali ini dengan helaan nafas yang terdengar berat.
"Louisa.." rengek sahabatnya jengah melihat wanita didepannya ini, yang untuk kesekian kalinya berada disituasi yang sama dan juga masalah yang sama.
"Aku baik-baik saja." Balasnya dengan tidak semangat.
Kali ketiga, pernikahan yang seharusnya dilaksanakan kurang dari dua bulan lagi kembali dibatalkan. Alasannya tetap sama, yaitu pekerjaan yang sangat penting membuatnya tidak memungkinkan untuk mempersiapkan pernikahan itu dalam waktu yang dekat.
.
-Flashback
.
"Sepertinya kita harus menundanya lagi." Ucap Lucien menatap Louisa serius ketika keduanya tengah duduk bersama dimeja makan apartemen pria itu.
"Menunda apa?" Louisa sebenarnya mengerti, tapi ia ingin menyangkal karena perasaannya yang mulai tidak karuan.
"Pernikahan kita."
Itu dia.
Louisa meremas ujung rok yang ia kenakan dengan berusaha mengontrol wajahnya agar tidak terlihat kecewa.
"Alasannya?"
"Pekerjaan, kasus kali ini cukup besar, sehingga persidangannya akan berjalan dalam kurun waktu yang lama."
"Jadi sangat tidak memungkinkan untukku mempersiapkan pernikahan itu beberapa bulan kedepan." Tambahnya masih dengan wajah tenang tanpa penyesalan, Louisa pun hanya bisa terdiam memalingkan wajahnya kearah lain menahan dirinya agar tidak menitikkan airmata.
"Untuk orangtuamu, aku yang akan membicarakannya dengan mereka besok pagi."
Hening, tidak ada respon untuk beberapa saat dari Louisa.
"Jika kamu memang sesibuk itu, aku bisa mempersiapkan semuanya bersama orangtuaku. Kamu hanya perlu datang ketika hari pernikahan itu berlangsung, tidak akan menghabiskan waktu yang lama."
".. tidak perlu menundanya.. lagi.." balasnya pelan, mulai kembali memutar kepalanya untuk melihat kearah Lucien.
"Aku tidak mau jika seperti itu." Timpal Lucien egois.
"Kenapa?"
"Merepotkan, lagipula sejak awal aku sudah bilang. Aku akan menikah jika kamu sepakat untuk hidup mandiri dan memulai semuanya tanpa bantuan orang tua lagi."
Mandiri, tidak kenak-kanakkan, tidak manja, tidak merepotkan, dewasa, adalah syarat yang Lucien minta saat perjodohan diantara mereka dilakukan sekitar dua tahun lalu. Lucien yang terkenal sebagai seorang jenius harus menerima Louisa yang tidak bisa melakukan apapun dengan benar, sampai ia harus mengajukan permintaan pribadi dengan batas yang jelas agar pernikahan itu tidak merugikan dirinya.
"Hanya sampai persiapan pernikahan saja, setelahnya aku tidak akan melibatkan mereka lagi."
Lucien tidak menanggapi.
"Kalau begitu.. aku, aku akan melakukannya sendiri. Bagaimana?" Tuntut Louisa tetap berusaha membujuk.
"Itu sama saja seperti aku membiarkan seekor anak bebek berenang ditengah lautan yang luas, apa yang bisa aku percaya? Mustahil sekali."
Lagipula itu memang sangat tidak masuk akal. Lucien tahu betul bagaimana wanita itu bahkan tidak bisa melakukan hal-hal kecil yang orang awam biasa lakukan. Lalu bagaimana bisa ia mempercayainya dengan pekerjaan yang sulit?
"Tapi ini sudah kali ketiga kita menundanya.." ungkap Louisa murung.
"Apa tidak bisa menyerahkannya pada rekanmu yang lain? Apa memang harus kamu?"
Ia menekankan kata harus itu dengan jelas.
"Kamu tidak mencoba mendiskusikannya? Atau beritahu saja jika kamu akan segera menikah."
Lucien menumpu wajah dengan kedua tangannya diatas meja, memijat dahi hingga pangkal hidung sembari memejamkan mata. Ia nampak tidak nyaman atau bahkan frustasi dengan apa yang Louisa sampaikan.
Melihat hal itu, Louisa pun memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Membiarkan Lucien selesai dengan pemikirannya dan kembali membuka suara.
"Atau kita batalkan saja?"
Hatinya mencelos, sesak, seakan kehilangan oksigen untuk waktu yang sangat singkat. 'Kenapa ia mengatakan itu?' Batinnya bertanya dengan rasa sakit. Bukankah ia seharusnya merasa bersalah? Meminta maaf karena membuat keputusan yang besar seperti ini lagi dan lagi? Tapi kenapa..
"Lucien.."
"Aku benar-benar tidak bisa, melewatkan kasus ini hanya akan meninggalkan penyesalan un—"
"Yasudah.." potong Louisa menggantung.
Lucien pun menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya dengan dahi yang mengernyit.
"Kita tunda saja." Lanjutnya pasrah.
.
-Flashback off
.
Sejak awal memang hanya Louisa yang mengharapkan pernikahan itu terjadi. Ia yang mulai remaja selalu melihat sosok Lucien dengan rasa kagum yang berlebih, bercita-cita menjadi istri pria itu dengan sungguh-sungguh, sehingga mengambil kesempatan penuh saat sang ayah mengatakan jika keluarga Lucien tengah mencari wanita yang akan dijodohkan dengan putra pertamanya.
Padahal saat itu Louisa masih harus menyelesaikan kuliahnya, tapi ia tetap memaksa pada sang ayah untuk mengajukan diri dan memohon agar memberinya kesempatan sebagai calon menantu dari keluarga pengacara ternama yang juga sahabat terdekat ayahnya.
Entah bagaimana prosesnya terjadi, yang jelas Louisa sangat bahagia karena ternyata ia benar-benar bisa mewujudkan cita-citanya selama ini. Namun dengan cintanya yang begitu besar, Louisa jadi banyak memaklumi sikap Lucien yang selalu abai atau acuh tak acuh kepadanya.
Seperti pembatalan sekarang ini, bisa terus terjadi berulang kali karena dirinya sendiri yang lemah ketika menyangkut Lucien. Ia yang selalu merasa baik-baik saja dengan semua hal yang bahkan sudah menyakiti dirinya sendiri.
"Kau tidak bisa terus bersikap seperti ini Louisa." Tegur sahabatnya Clara, meraih tangan Louisa kedalam genggamannya.
"Aku tahu, kau sangat menyukai Lucien. Tapi aku mohon jangan bodoh."
Louisa mendongak, melipat bibirnya merasa tersinggung.
"Tapi dia memang sibuk, aku tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya." Balasnya menarik tangan itu dan menurunkannya kebawah meja.
"Dia punya pilihan Louisa, dan dia memilih untuk memprioritaskan pekerjaannya dibanding dirimu."
"Kau masih tidak mengerti?"
Louisa terdiam, ia juga pernah memikirkan hal ini tapi egonya tetap mengatakan jika Lucien memang tidak punya pilihan lain. Ia yang harus mengerti, karena walau bagaimanapun itu adalah pekerjaan yang juga sudah ia bangun dalam waktu yang lama.
.
.
.
-To Be Continue-
YOU ARE READING
HELD BACK
RomanceLucien selalu ada, tapi tidak pernah hadir. Selalu dekat, tapi tidak pernah memilih. Setiap kali tanggal pernikahan hampir tiba, dia menundanya dengan alasan yang lebih dingin dari senyumnya. Louisa yang manja, kekanak-kanakan, dan terbiasa dipu...
