02. Hujan di malam hari

168 75 31
                                    

"Apa takdir gue jadi lajang seumur hidup ya?" Walau Fairy masih berusia 19 tahun tapi ia terus memikirkan hal yang sebenernya tidak perlu ia pikirkan karena usianya masih terbilang muda sekali untuk memikirkan hal tersebut.

"Eh, ehh ...," Payung Fairy terbang terbawa angin malam yang berhembus sangat kencang.

Malam ini hujan turun sangat deras sehingga membuat Fairy harus membeli payung yang ada di sekitaran Toko. Baru saja Fairy membeli payung ... Eh angin malah membawanya pergi sehingga membuat pakaian Fairy seketika basah kuyup di guyur air hujan. Fairy pun langsung lari ke arah halte bus, ia mulai menepi di sana.

Fairy harap bus segera tiba malam ini karena tubuh Fairy mulai kedinginan.

"Hus hesss ...," Seseorang datang menghampiri Fairy yang tengah meneduh di depan halte bus.

Kini Fairy tak sendirian lagi di sini, sekarang ada laki-laki yang sama-sama meneduh di halte bus. Tapi, menurut Fairy meski laki-laki itu meneduh di sini, tubuh laki-laki itu masih sedikit diguyur air hujan karena tubuhnya sangat tinggi dan juga besar.

"AWAS!" Fairy spontan menutupi badan laki-laki itu dengan badannya karena dari arah kiri ada mobil yang melaju sangat kencang, Fairy takut mobil itu akan melintasi genangan air yang ada dihadapan laki-laki itu dan benar saja mobil tersebut melewati genangan air sehingga air itu berhasil membasahi badan Fairy, untung saja Fairy sigap membelakangi jalanan dengan cara membentangkan kedua tangannya dihadapan laki-laki yang pernah menolong Fairy.

"Huaaa ...," Mata Fairy membelalak, punggungnya kembali basah kuyup.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya laki-laki itu sambil membungkukkan badannya ke arah Fairy.

Fairy geleng-geleng kepala, wajah Fairy menengah ke atas dengan rambut menutupi wajahnya.

Fairy membenarkan rambutnya yang berantakan, tangan Fairy terlihat mengerut karena kedinginan.
Ia kembali ke posisi awal setelah mengetahui kondisi jalanan sudah mulai sepi lagi.

"Terimakasih," ucap laki-laki itu.

"Sama-sama," jawab Fairy sambil meniup kedua tangannya agar hangat lagi.

Hari semakin larut, jalanan kota semakin sepi, tidak ada satu kendaraan pun yang melewati jalanan kota ini, yang ada hanya guyuran air hujan.

Hari semakin larut, jalanan kota semakin sepi, tidak ada satu kendaraan pun yang melewati jalanan kota ini, yang ada hanya guyuran air hujan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sepertinya tidak akan ada lagi bus yang lewat malam ini," ucap laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke sana kemari, tidak ada satu mobil pun yang melewati jalanan ini, yang ada hanya beberapa mobil yang berjejer rapih di tepi jalan.

"Ah sial! Mana rumah jauh banget dari sini," ucap Fairy.

"Di sana ada tempat penginapan, dari pada berdiri terus di sini sampai pagi lebih baik pergi ke penginapan yang ada di sebrang jalan," usul laki-laki tersebut.

"Ma––" Belum selesai Fairy menjawab, laki-laki itu langsung menarik tangan Fairy, laki-laki bertubuh tinggi ini membawa Fairy menyebrangi jalanan kota yang masih di guyur hujan.

Mereka berdua masuk ke dalam tempat penginapan dengan pakaian basah. Perlahan genggaman tangan laki-laki itu semakin melonggar, ia pergi meninggalkan Fairy di depan pintu penginapan.

"Ma–hal ...," Fairy menghela nafas panjang sekali, ia tidak memiliki uang banyak di dalam tas-nya, ia hanya memiliki beberapa lembar uang itu pun uang pecahan saja, tidak ada nominal yang besar.

"Ini kunci kamar." Laki-laki itu memberikan kunci kamar pada Fairy.

"Gak punya uang." Fairy menatap wajah laki-laki yang ada di hadapan dirinya.

"Santai saja, hanya saja ... di sini hanya ada satu kamar ... ini untuk kamu," ucap laki-laki tinggi ini.

"Ah enggak, ini lo yang bayar jadi otomatis lo yang nempatin. Makasih, gue pamit." Fairy lari keluar dari dalam penginapan, ia lebih baik basah kuyup dari pada harus menerima pemberian orang yang tak ia kenali sama sekali.

Melihat Fairy pergi membuat laki-laki itu ikut keluar dari dalam penginapan.
Di tatapnya punggung Fairy yang semakin menjauh dari dirinya, ia tersenyum di tengah derasnya air hujan.

"Semoga kamu baik-baik saja," ucapnya, ia berharap gadis itu selamat sampai tujuan.

Little Boss [ Tahap Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang