1

8 2 0
                                        

"Mampus! Udah jam sepuluh!" Bona langsung melompat dari atas tempat tidurnya. Telinganya bahkan langsung berdengung karena ia paksa badannya bangun tanpa peregangan lebih dulu. Boro-boro peregangan, ia bahkan tak sempat masuk kamar mandi. Yang ia lakukan saat ini adalah mengganti pakaiannya secepat mungkin. Dari baju tidur menjadi sebuah setelan formal, kemeja hitam satin dan celana panjang coklat berbahan plisket.

Tidak biasanya Bona bangun sesiang ini. Alasan ia telat bangun pagi ini adalah karena semalam ia habis bertengkar atau lebih tepatnya beradu argumen dengan salah satu klien yang memesan jasa ilustrasinya.

Sang klien meminta Bona untuk menyelesaikan gambar dalam waktu singkat yang mustahil untuk Bona penuhi. Ditambah lagi dengan tingkat kerumitan design yang diminta. Bona berani jamin, bahkan designer lulusan luar negeri pun tak akan bisa menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu.

Alhasil kerja sama mereka pun batal, dan kini Bona harus mengejar klien lainnya. Tepatnya klien yang saat ini ingin ia temui. Jika saja Bona berhasil mendapatkan proyek dengan klien yang semalam, ia pasti tidak akan repot-repot mengejar klient baru ini. Selain tempat meeting yang jauh, proyek yang ditawarkan pun tak terlalu besar. Padahal ia sedang memiliki banyak kebutuhan.

"BONNY!!!!" Teriak Bona begitu ia sampai dapur. Memanggil Adiknya yang sepertinya belum bangun juga.

"BONNY! Nyaut gak lo!" Teriak Bona lagi.

Tak lama setelah teriakan kedua Bona, Bonny pun turun dari kamarnya yang berada di loteng rumahnya.

"Apaan sih Bon, berisik banget lo kaya Tarzan!" Keluh Bonny karena kesal Bona mengganggu hari liburnya.

Bonny adalah adik Bona satu-satunya. Cowok ini sekarang sedang duduk di bangku SMA. Bona dan Bonny adalah dua bersaudara yang berjarak delapan tahun. Mereka kini tinggal di jakarta, hanya berdua di rumah bekas peninggalan Almarhum Sang Nenek. Sementara kedua orang tua mereka menetap di Bandung karena harus mengurus perkebunan milik seorang pengusaha yang tinggal di luar negeri.

"Lo kok gak bangunin gue sih Bon!" Protes Bona karena semalam ia sudah mewanti-wanti Bonny agar membangunkannya di jam tujuh pagi.

"Heh gue tuh udah bangunin lo tau!"

"Masa? Kok gue gak denger, lo banguninnya gimana? Teriak dari kamar lo?" Tanya Bona tak percaya.

Letak kamar Bonny memang jauh dari kamarnya. Karena kamar Bonny ada di loteng, ya loteng. Sebenarnya rumah ini hanya punya satu lantai. Namun Almarhum Nenek mereka memiliki sebuah loteng yang tinggi di bagian belakang rumahnya untuk meletakkan barang-barang peninggalan suaminya yang merupakan Veteran angkatan laut.

Itu sebabnya loteng itu selalu menjadi tempat favorit Sang Nenek, maka begitu Beliau meninggal, Bonny memutuskan untuk memindahkan semua barang-barangnya ke loteng itu. Dengan begitu ia merasa akan selalu dekat dengan Sang Nenek. Bonny memang menyayangi Neneknya lebih dari siapapun karena Sang Nenek sering memanjakannya dulu.

"Eh Mak Lampir, gue tuh bangunin lo sampe tenggorokan gue serek tau gak!"

"Ya lo usaha dong, cubit gue kek, pukul kek, jambak kek, pokoknya sampe gue bangun!"

"Lo gak sadar emang tadi baju lo basah?" Tanya Bonny sambil menaikan sebelah alisnya.

Bona diam sejenak, pantas saja baju tidurnya basah, pasti Bonny sudah menyiramnya dengan air.

"Heheh... iya ya." Bona tertawa gengsi.

"Lo pingsan kali, bukan tidur!"

"Enak aja lo! Gue tidur kemaleman sih, kesel banget deh gue Bon, masa―"

WORDSStories to obsess over. Discover now