The Cruel Boy

Von prismacintya

9.1M 641K 88.8K

[TERSEBAR DI GRAMEDIA] Faren: "Kenapa?" Dhafian: "Makasih ya untuk hari ini." Faren: "Maksudnya?" Dhafian : "... Mehr

01. Senyuman
02. Mantan
03. Maling
04. Kerja Kelompok
05. Tidak Dianggap
06. Air Mineral
07. Pisau
08. Papa
09. Hari Jadi
10. Sebuah Pesan
11. Cemburu?
12. Pertandingan
14. Stroberi
15. Kue Tart
16. Saudara?
17. Peduli
18. Uno?
19. Bahagia?
20. Psikopat
21. Faren-Kahfi
22. Panggilan
23. Faren-Dhafian
24. Claire?
25. Tembakan
26. Berhenti
27. Sungai
28. Tersesat
29. Ankle
30. Bandara
31. Muka Dua
32. Dhafian Gemas
33. Motor Baru
34. Lipstik
35. Kailsa
36. Depresi
37. Quieres?
38. Milik Kahfi
39. Pingsan
40. Diabaikan
41. Cuek
42. Alkohol
43. Insiden
44. Hari Buruk
45. Akar Masalah?
46. Indoor
47. Sepatu
48. Terungkap
49. Bintang
50. Bersalah
51. Asing
52. Bunuh Diri
TRAILER WATTPAD🔥
VOTE COVER
KUIS SEBELUM PO
PRE ORDER
TERSEBAR DI GRAMEDIA
HAH OPEN PRE ORDER NOVEL?

13. Berkat Keysa

161K 12.8K 1.7K
Von prismacintya

NB : hari ini komen tembus 1K, hari ini juga aku update😜 (no spam comment)

⚫⚫⚫

"Faren, Mama minta kamu harus tetep jagain Keysa, siapa tau tiba tiba Papa kamu dateng lagi untuk ngerusak keluarga mereka."

"Kenapa nggak Mama aja? Bukannya kemaren udah ketemu ya sama Tante Keysa?"

"Mama nggak bisa, nanti keluarga kita yang jadi rusak."

"Maksudnya?"

"Belum saatnya sekarang kamu tau. Jadi mending kamu turutin kemauan Mama ya."

Seorang gadis sedang duduk sendirian di depan perpustakaan sambil menyedot sekotak susu pisang di tangannya. Pikirannya melayang pada percakapan tadi malam antaranya dirinya dan Febby.

Ia berpikir keras, apa yang sebenarnya Febby sembunyikan darinya. Ia juga penasaran mengapa Febby begitu khawatir terhadap keluarga Dhafian. Namun, ada satu yang saat ini membuatnya bingung kepalang.

Bagaimana cara mendekati Dhafian?

"HOI!"

Terkejut, Faren tidak sengaja menyemburkan susu pisang yang baru saja ia sedot ke wajah seseorang yang telah membuat jantungnya hampir copot.

"Eh, nggak sengaja," kata Faren kepada Kahfi yang sedang mengelap wajahnya dengan tangan, "Sorry sorry."

"Selow," kata Kahfi setelah memastikan pandangannya tidak buram karena terkena susu itu, "Tapi, gue masih cakep walaupun wajah gue lengket, kan?"

Faren melotot lalu memutar bola matanya, kembali menempelkan punggungnya ke bahu kursi serta kembali menyeruput susu pisang itu. Namun ada sesuatu yang mengganjal. Ia melirik sekotak susu itu, lalu mengocoknya. Ia mendengus karena ternyata susu pisang itu sudah habis.

"Mau gue beliin nggak?" tanya Kahfi sambil melirik sekotak susu itu yang masih ada di tangan Faren.

"Serius?" Mata Faren berbinar.

"Serius lah," kata Kahfi meyakinkan, "Sedotannya aja tapi."

Lagi lagi Faren dibuat bete olehnya. Ia melempar susu pisang itu ke wajah Kahfi dan untung saja Kahfi segera menangkapnya.

"Nggak kena, wle," ejeknya.

"Banyak omong," ujar Faren tidak nyambung.

"Lo ngelamunin apaan sih? Sampe nyemprot ke gue susunya." Kahfi melempar kotak susu itu di tempat sampah yang bersebrangan dengan tempatnya duduk.

Faren menjelaskan percakapan yang terjadi semalam antara dirinya dan Mamanya kepada Kahfi. Akhirnya Kahfi pun paham.

"Gue tau gimana caranya," celetuk Kahfi dengan senyuman lebarnya.

"Gimana?"

Kahfi mendekatkan bibirnya ke telinga Faren, memberi tau cara caranya agar Faren bisa dekat dengan Dhafian.

"Kita mulai besok pagi."

"Siap."

⚫⚫⚫

Dhafian dan keempat teman basketnya bertengger di tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua. Murid murid jarang melewati tangga ini, karena terlihat begitu horor, walaupun tidak ada kejadian apapun di sini.

"Mau sampe kapan lo nyimpen gengsi?" tanya Nai tiba tiba kepada Dhafian yang awalnya berbincang dengan Adri, kini menatap Nai. Namun, bukannya ia menjawab, justru terdiam.

"Buruan kek nyatain perasaan lo, sebelum terlambat. Ntar kalo dia udah sama yang lain baru nyesel lo." Giliran Kevin menyahuti.

"Nggak gampang, Man. Gue harus tahan malu untuk ngomong langsung ke dia kalo gue suka," kata Dhafian membuat semuanya mengerutkan kening.

"Emang cara lo ngungkapin gimana?" tanya Nai.

"Ya ngomong gini 'gue suka sama lo' langsung ke hadapan dia."

"Bego," celetuk mereka bertiga, kecuali Rozy yang sedang asik dengan game di ponselnya, tetapi telinganya juga ikut mendengarkan mereka.

"Ada golok nggak ya di sini?" Adri melirik teman temannya sambil mendengus kasar, sebal dengan Dhafian.

"Nggak ada lah," jawab Dhafian menanggapi serius pertanyaan dari Adri. Padahal sudah jelas jelas Adri menyindirnya. Mendengar jawabannya membuat mereka ingin melayangkan bogemannya.

"Lama lama gue lempar ke empang lo," celetuk Adri lagi.

"Lo udah pernah pacaran sebelumnya, masa nggak tau sih cara ngungkapin perasaan yang bener," kata Kevin kembali ke topik pertama, walaupun sebenarnya ia masih kesal.

"Terus gimana? Ciuman bibir gitu?" Perkataan Dhafian membuat Kevin menimpuk kepalanya dengan buku paket yang ada di tangannya.

"Serius nih, gue ceburin ke empang lo." Adri semakin dibuat kesal olehnya.

"Serba salah ya dedek," kata Dhafian mendramatis sambil menempatkan tangannya di pelipis dengan paha sebagai tumpuannya.

"Najis, Bagong!" caci maki Nai dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun ubun.

"Oke, sekarang serius." Kevin menginterupsi, membuat mereka diam, "Ini kesempatan besar buat lo Dhaf, dia juga suka sama lo. Toh, sekarang lo tinggal make a moment with her."

"Nah, gitu aja mikir sampe bertahun tahun." Nai menyeletuk.

"Lo lagi bahas siapa sih?" Rozy kini ikut bergabung dengan mereka, "Cewek yang Dhafian suka?"

"Telat, kampret." Adri menoyor kepala Rozy.

"Yang itu?" tanya Rozy dengan mengerutkan keningnya, menatap Dhafian seperti jijik, "Woy, cewek itu banyak, Bro. Nggak cuma dia doang, lagian dia lebih cantik daripada si itu. Dia tuh cewek yang ideal, idaman para cowok, lah kok lo malah suka sama cewek yang modelannya jauh banget dari idaman para cowok."

"Mau sampe kapan lo tetep nggak suka sama si itu?" Kevin menatap Rozy dengan ogah ogahan, karena 2 tahun belakangan ini, Rozy tidak suka dengan seseorang yang Dhafian sukai, padahal ceweknya sangat baik.

Rozy tidak menanggapi pertanyaan dari Kevin, ia kembali menatap Dhafian, "Gue lebih prefer lo sama dia daripada cewek yang lo suka."

"Ekhem."

Deheman khas suara cewek membuat kelima cowok itu menoleh bersamaan.

"Maaf ganggu." Kailsa tersenyum kikuk.

"Nggak ganggu kok, Sa," kata Rozy membenarkan perkataan Kailsa.

Kailsa tersenyum segaris. Karena peka dengan kehadiran Kailsa di sini, Dhafian berdiri dari duduknya lalu berpamitan dengan teman temannya sebelum dirinya pergi bersama Kailsa.

"Gue juga lebih prefer lo nggak usah bandingin dia sama seseorang yang gue suka," bisik Dhafian kepada Rozy.

"Gue duluan ya." Pamit Dhafian kepada teman temannya.

Mereka berempat mengangguk.

⚫⚫⚫

Faren mengemasi buku bukunya ke dalam tas begitu bel pulang sekolah berbunyi. Setelah berpamitan dengan teman temannya, ia berjalan keluar kelas menuju ke halte yang berada di depan sekolah.

Sebenarnya, Faren ingin membawa mobil ke sekolah, agar tidak ada acara menunggu seperti ini. Namun, Febby melarangnya karena takut terjadi sesuatu, apalagi umur Faren yang belum genap 17 tahun, sehingga ia masih belum punya SIM.

Tiba tiba sebuah motor berhenti tepat di depan Faren, ia mengerutkan keningnya karena belum mengetahui siapa cowok dibalik helm hitam itu.

Cowok itu turun dari motornya lalu melepaskan helm yang menempel di kepalanya. Faren terkejut, karena seseorang di balik helm itu adalah Dhafian. Namun, karena ia tidak mau disangka geer, ia kembali fokus pada ponsel di tangannya.

"Yuk, ikut gue ke rumah." Dhafian bersuara membuat Faren tertegun sejenak, tetapi tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel.

"Woy!"

Ingin sekali Faren menoleh karena penasaran siapa yang diajak ke rumahnya, apalagi di sini tidak ada Kailsa.

"Oi, bocah budeg!"

Kini, Faren memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu celingak celinguk ke kanan untuk melihat apakah bisnya sudah tiba atau belum. Ia tidak berani menatap Dhafian karena takut mendapatkan makian darinya.

"Woy, Sableng!"

Faren tersenyum lebar saat sebuah bis berhenti di depan halte. Ia berdiri dari duduknya, hendak masuk ke dalam bis, namun seseorang menariknya, membuat ia mundur spontan.

"Aduh," kata Faren terkejut.

"Lo budeg apa gimana sih?" tanya Dhafian menatap Faren dengan rasa kesalnya.

"Lo ngomong sama siapa?" Faren berlagak lugu dengan ekspresi menyebalkan namun menggemaskan.

"Sama gantungan minion lo tuh."  Dhafian melirik gantungan berbentuk minion yang menggantung di tas Faren.

Faren mengambil gantungan minion itu, "Minion, kamu diajak omong tuh sama dia, jangan pura pura nggak denger."

Melihat wajah Faren yang menyebalkan nan menggemaskan, ingin sekali Dhafian membelai dalam artian menabok.

"Gue ngomong sama lo, geblek!" caci maki Dhafian.

Dhafian kembali ke motornya, lalu menaikinya, "Ikut ke rumah gue." Setelah itu, ia memakai helmnya, "Buruan naik!"

Faren sedikit melongo. Namun, melihat tatapan nyalang yang Dhafian berikan kepadanya membuat ia tertunduk lalu naik ke boncengan motor.

Teringat dengan pesan Dhafian, Faren jadi menghentikan aksinya ketika ingin berpegangan dengan jaket miliknya. Akhirnya, terpaksa ia memegang bagian belakang motor.

Selama perjalanan, Faren sibuk memegangi rambutnya yang kesana kemari karena terkena angin. Sebenarnya bisa saja ia biarkan, tetapi ia malas jika menyisir rambut yang berantakan.

"Disuruh sama siapa?" tanya Faren mendekatkan wajahnya ke depan agar Dhafian dapat mendengarkan suaranya.

"Mama."

"Apa?" Faren berteriak karena tidak mendengar apapun yang dikatakan Dhafian.

Bukannya menjawab, Dhafian malah melajukan motornya secara tiba tiba membuat Faren hampir jatuh jika ia tidak pegangan. Untung Faren sabar menghadapi cowok di hadapannya ini.

Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, sebuah motor besar milik Dhafian memasuki pekarangan rumah. Setelah memakirkan motornya di garasi, Dhafian melepaskan helmnya lalu berjalan ke pintu utama, sedangkan Faren mengikutinya di belakang.

"Assalamualaikum," ucap Faren dan Dhafian bersamaan.

Mendengar suara anaknya, Keysa menghampiri mereka berdua, "Waalaikumsalam."

"Dhafian ke kamar dulu, Ma," kata Dhafian berlalu pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Faren hendak mengikuti langkah Dhafian, namun Keysa mencegahnya.

"Kamu sama Tante," kata Keysa terkekeh geli melihat tingkah Faren. Ia jadi malu kan...

"Kamu bantuin Tante buat kue tart sama makan malam ya. Hari ini Papanya Dhafian ulang tahun," ujar Keysa menjawab ekspresi Faren yang terlihat bingung, "Nggak keberatan kan?"

"Oh iya Tan. Nggak keberatan kok."

Keysa mengambil tas yang masih bertengger di bahu Faren, lalu menaruhnya di sofa ruang tamu. Faren mengikuti langkah Keysa ke arah dapur.

Jangan tanyakan lagi kemampuan Faren dalam memasak. Semenjak Febby selalu pulang malam, bahkan tidak pulang, Faren jadi belajar memasak secara otodidak dari youtube maupun dari internet. Alhasil, jika Febby seperti itu, Faren memasak sendiri untuk dirinya dan Garen.

Setelah memakai celemek, Faren dan Keysa menyiapkan bahan bahan yang sudah dibeli tadi pagi.

"Udah pernah buat kue tart belum?" tanya Keysa.

"Udah Tan."

"Wah, Tante udah nggak perlu ngajarin lagi nih." Keysa terkekeh disusul dengan Faren.

Setelah merasa semua bahan dan alat sudah siap. Mereka mulai melakukan step pertama membuat kue, yaitu mencampurkan telur, tepung dan sebagainya. Suasana begitu canggung, hanya ada suara telur yang dipecah. Tanpa Faren sadari, Keysa menatapnya diam diam.

"Kenapa ya, kalo Tante lihat kamu tuh, jadi keinget temen Tante yang udah meninggal," kata Keysa membuka percakapan.

"Oh ya Tan? Siapa namanya?" Faren tertarik dengan arah pembicaraan Keysa.

"Namanya Reva."

"Meninggalnya karena apa Tan?"

"Kata polisi sih karena kecelakaan, karena mobil keluarga mereka nabrak pohon gitu, tapi mereka juga nggak yakin, karena di tubuh mereka ada bekas sayatan di urat nadinya, yang pasti ada orang yang bunuh mereka," jelasnya dengan mata yang berkaca kaca, mengingat Reva adalah satu satunya sahabat yang dimiliki Keysa.

"Kalo itu pembunuhan, aku doain orang yang ngebunuh cepet cepet di penjara deh, kalo bisa dihukum mati," kata Faren asal sambil mengaduk adonan kue di depannya.

"Sadis juga ya kamu." Keysa tersenyum, mengingat puluhan tahun yang lalu ketika beliau masih bersama Reva saat SMA.

"Kejadiannya barusan ini Te?" tanya Faren yang tiba tiba penasaran dengan cerita selanjutnya.

"Enggak. Udah belasan tahun, Dhafian masih kecil waktu itu." Pikirannya melayang saat beliau diberi kabar bahwa sahabatnya itu meninggal, membuat matanya memanas, "Kasihan anaknya, masih kecil kecil."

"Yaaah, Tante Keysa jangan nangis dong." Faren menjadi panik saat Keysa mengeluarkan air matanya, ia jadi merasa bersalah karena terus bertanya membuat memori itu terulang di otak Keysa.

"Maaf ya Tan." Faren menggigit bibir bawahnya sambil mengelus punggung Keysa, memberi ketenangan padanya.

"Nggak kok. Kenapa minta maaf?" Keysa menghapus air matanya dengan jarinya.

Faren mengulum senyumnya yang manis itu. Walaupun Keysa bukan ibunya, tetapi hati Faren juga ikut menangis melihat sosok wanita yang berhati malaikat seperti beliau.

Akhirnya mereka melanjutkan membuat kue dengan percakapan yang mereka ciptakan, kadang sesekali tertawa. Kurang dari 1 jam, kue tart sudah dikeluarkan dari oven, tinggal menghiasinya menggunakan cream.

"Kamu mandi dulu sana, yang ngehias biar Tante aja," kata Keysa menahan tangan Faren yang akan mengambil cream.

"Tapi," Faren melirik seragam yang ia kenakan, ia tidak bawa baju ganti. Apa nanti setelah mandi ia juga akan memakai seragam ini?

"Oh iya," Keysa pun peka, "Tapi kalo pake baju Tante kebesaran, gimana ya?"

"Faren biar pake seragam ini aja Tan, gapapa kok."

Tiba tiba sebuah ide terlintas di pikiran Keysa, "Dhafian!" teriaknya dengan lantang agar Dhafian yang berada di lantai dua mendengarnya.

Dhafian yang dapat mendengar panggilan Mamanya, segera turun menghampiri Keysa dengan baju santai yang ia kenakan.

"Apa Ma?"

"Pinjemin baju sama celana kamu yang kecil ke Faren. Dia nggak ada baju ganti," ujar Keysa yang membuat kedua orang itu melotot.

"Eh, nggak usah, gapapa Te," cegah Faren.

Bukannya merespon Faren, Keysa malah menunjukkan senyumnya, "Dhafian," tegurnya agar Dhafian segera mengambil baju kecilnya untuk Faren.

Karena tidak mau menjadi anak pembakang, Dhafian segera berlari ke kamarnya, mencari baju dan celana untuk Faren. Setelah menemukan, ia turun ke bawah dan memberinya kepada Faren.

"Sebenernya nggak sudi gue pinjemin ini ke lo," kata Dhafian sambil melempar baju itu ke Faren, untung saja Faren sigap menangkapnya, "Beruntung aja karena Mama gue yang nyuruh." Ia memutar bola matanya malas.

"Makasih, Dhafian." Bukannya merespon, ia menunjukan senyuman manisnya kemudian berlalu pergi dari hadapan Dhafian.

⚫⚫⚫

Weiterlesen

Das wird dir gefallen

51.5K 2.4K 73
Berawal dari ketidaksengajaan Rellya Drenaza menyelamatkan seorang cowok tampan yang disekap dan disiksa di sebuah toko musik membuat kisah remajanya...
5.9M 184K 71
Sequel "DafFania" Rachel Ayu Angeline ===================== Rachel Ayu Angeline, gadis remaja yang memulai kisah cintanya sejak ia masih duduk dibang...
1.5K 114 11
"Gue mau lo berhenti suka ama gue" "Jangan lo pikir gue gak tau semua tingkah caper lo itu" "Dengan lo merhatiin gue dari jauh itu udah ngebuktiin ba...
744 188 10
"lo suka dia ya?" "iya, gue suka dia sejak pertama kali kenal" "trus kenapa gak lo coba deketin?" "karena gue tau dia suka nya sama orang lain" "hah...
Wattpad-App - Exklusive Funktionen freischalten